Menggapai Taubat Istijabah
Dalam pandangan para ulama spiritual, taubat memiliki berbagai tingkatan. Tentu kita berharap dapat melakukan taubat yang lebih tinggi daripada taubat dasar yang biasanya dilakukan oleh orang-orang awam.
Taubat orang awam umumnya dilakukan setelah melakukan dosa besar. Namun, taubat akan semakin meningkat jika seseorang juga bertaubat atas dosa-dosa kecil, karena sadar bahwa dosa-dosa kecil yang menumpuk bisa menjadi dosa besar.
Bulan suci Ramadan, yang dikenal sebagai bulan pertobatan (syahr al-taubah), sebaiknya dimanfaatkan untuk melakukan pertobatan. Jika bisa menjalani taubat yang lebih tinggi, maka itu adalah hal yang sangat baik.
Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah.
Taubat Inabah
Taubat inabah adalah sikap taubat seorang hamba yang didorong oleh rasa takut terhadap dosa dan maksiat yang telah dilakukannya. Dalam kondisi ini, ia terbayang kerugian besar di dunia dan siksa serta malapetaka Tuhan yang amat pedih di neraka.
Dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya membuatnya betul-betul takut kepada Allah SWT. Dalam suasana takut seperti itu, ia menyerahkan diri, bertaubat, dan memohon pengampunan kepada Allah. Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya.
Siang dan malam ia selalu melakukan ketaatan dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi’at (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan segala dosa). Sebesar apapun dosa seseorang, pengampunan dosa jauh lebih besar.
Taubat Istijabah
Adapun taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan-Nya. Dalam tahap ini, taubat tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat seperti dalam tahap taubat inabah.
Taubat istijabah terjadi ketika seseorang lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Tuhannya ketimbang panasnya api neraka-Nya. Yang membuat seseorang tersiksa ialah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang amat dalam terhadap Allah SWT.
Mestinya ia bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWT dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari-Nya, tetapi malah melakukan dosa dan maksiyat. Inilah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan terhadap Tuhannya.
Ketersiksaannya lebih berat ketimbang ia masuk ke dalam neraka. Seandainya disuruh memilih antara disiksa secara fisik di neraka atau terbebani rasa malu terhadap Tuhannya, maka ia akan memilih disiksa di neraka ketimbang bahagia sesaat di dunia.
Pertanyaan Penting
Pertanyaan kita adalah, jenis tobat apa yang kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan? Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksiat?
Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa? Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita, karena takut atau malu kepada Allah SWT?
Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan? Atau kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa dan maksiat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun, na’udzu billah.
Menyelami Kehidupan Kita
Tak terkecuali siapa pun di antara kita sepantasnya mengintip umur kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang kita sudah miliki, semisal uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian sebagai akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.
Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figure keteladanan orang tua, atau mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita. Tataplah diri kita tanpa topeng kepalsuan. Apakah diri kita pantas diidolakan atau mereka semua terkecoh dengan topeng-topeng kepalsuan yang melekat di wajah kita.
Di depan mereka kita malaikat, tetapi di luar sana kita iblis. Masyarakat modern sarat dengan tradisi hipokrasi dan kemunafikan. Hanya karena menginginkan jabatan atau harta maka di antara mereka mengorbankan musuh-musuhnya.
Semoga kita semua bisa meraih taubat Istijabah pada bulan Ramadan kali ini.











