Sejarah Mesir Kuno yang Penuh dengan Penderitaan
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Harris dan Weeks, sejarah Mesir kuno penuh dengan kisah-kisah penderitaan. Banyak firaun-firaun Mesir yang mengalami berbagai penyakit serius sepanjang hidupnya.
Penyelamatan Patung Abu-simbel
Pada tahun 1965, di tebing pantai sungai Nil, para insinyur Jerman sibuk memindahkan patung Abu-simbel agar tidak terendam air dari bendungan baru Aswan. Di waktu yang sama, ahli-ahli Mesir dan Amerika melakukan ekskavasi di tempat-tempat yang tampaknya tidak memiliki nilai sejarah namun terancam oleh air. Mereka membuka makam-makam yang terlantar dan mengumpulkan ribuan mayat Nubia yang telah bertahan selama 2000 tahun dalam pasir panas. Dokter gigi Prof. James E. Harris dan rekan-rekannya ingin meneliti perkembangan bentuk wajah dan gigi dari mumi-mumi tersebut.
Penyelidikan pada Mumi-Mumi Firaun
Para ahli juga mengundang para ahli untuk menyelidiki sisa-sisa dari “orang-orang yang menguasai Mesir atas dan bawah”, yaitu mumi-mumi para firaun, ratu-ratu, dan pendeta-pendeta agung. Di galeri 52 di tingkat dua museum Kairo, direktur Henry Riad meminta membuka tutup kaca sarkofagus-sarkofagus (peti mayat). Setelah itu dibuat foto-foto rontgen khusus dari mumi-mumi di dalamnya. Hasilnya mengejutkan: orang-orang besar zaman dulu menderita berbagai penyakit berat dan meninggal dalam usia muda.
Hasil penelitian ini diterbitkan dalam buku berjudul “Atlas rontgenografis para firaun”. Namun, hasil utama sudah dipublikasikan oleh pemimpin riset Harris dari Universitas Michigan dan antropolog Profesor Kent R. Weeks dari American University Kairo. Buku ilmiah populer ini berjudul X-raying the Pharaohs (Menyelidiki para firaun dengan sinar X) yang diterbitkan oleh Macdonald London. Buku ini berisi 196 halaman.
Ramses Agung dan Penyakit yang Menyerangnya
Ramses II atau dikenal sebagai Ramses Agung yang membangun patung Abu-simbel diperkirakan meninggal karena “kaki dingin”. Menurut James E. Harris dan Kent R. Weeks, foto-foto rontgen menunjukkan bahwa dia menderita artritis berat pada tulang sendi pinggul dan arteriosklerosis di pembuluh darah utama kaki. Selain itu, peredaran darahnya tidak berjalan lancar. Tubuhnya sakit dengan setiap gerak. Sebagai arsitek dan ahli perang yang memiliki lebih dari 100 anak, dia juga menderita abses gigi dan gigi keropos.
Penyakit Umum di Istana Mesir
Sakit gigi karena kebersihan mulut yang kurang adalah penyakit umum di istana Mesir. Merneptah, anak laki-laki dan pengganti Ramses, giginya hanya tersisa beberapa saat ia memerintah. Dalam masa pemerintahannya diperkirakan terjadi eksodus orang Yahudi. Selain itu, firaun ini juga dikebiri sejenak sebelum meninggal entah waktu sedang dibalsem. Alasannya menurut Harris dan Weeks hanya bisa diterka-terka saja.
Kesimpulan Sejarah Mesir Kuno
Dari penelitian ini kita dapat menyimpulkan bahwa sejarah Mesir kuno hanyalah kisah penderitaan. Beberapa contohnya:
- Amosis menderita rematik dan karena mengidap penyakit keturunan darah yang tidak dapat membeku, tidak dikhitan.
- Thutmosis I mengalami patah pinggul, sedangkan Amenhotep II memiliki leher, pundak, dan tubuh yang penuh benjol-benjol.
- Gigi yang tidak beraturan adalah ciri khas Nefertari, saudara dan istri Amosis. Kepalanya yang setengah botak dapat ditutupi dengan rambut palsu.
- Amenhotep IV mengalami perkembangan seksual yang kurang dan masih muda tetapi gemuk. Dia menikah dengan saudara misannya Nofretete dan lebih terkenal sebagai Echnaton atau Akhenaten yang banyak berbakti untuk agama.
- Akibat lumpuh kanak-kanak, kaki firaun Spitah kecil satu. Hal ini terbukti dari foto-foto rontgen. Demikian pula bahwa Amenhotep III meninggal karena cacar dan hernia. Akhirnya, Amenhotep III dirundung begitu banyak penyakit sehingga tak mengherankan bahwa raja Tuschratta dari Babilon mengirim patung dewa kesehatan pada rekannya.
Barang-Barang yang Ditemukan dalam Mumi-Mumi
Ketika menyelidiki para mumi dengan sinar X, para ahli juga menemukan barang-barang yang dibawakan untuk dunia lain, yang tidak ditemukan oleh pencuri makam dan penggali ahli lain.
Amenhotep I, yang makamnya sudah diusik 3000 tahun yang lalu, kini masih mengenakan jimat pada tangan kanannya dan kalung mutiara melilit pinggulnya. Pada kepala rumah tangga istana dan Yuya, ayah ratu, di bawah pembalut mayat juga ditemukan lempengan emas untuk menutupi irisan perut dari mana isi perut dikeluarkan. Dan foto rontgen Ratu Nodame juga menunjukkan dengan jelas mata buatan mumi di samping patung kayu binatang selain otak yang diawetkan dan empat patung penjaga di rongga dada.
Kejanggalan dalam Mumi Thutmosis I
Yang membingungkan adalah penemuan dalam mummie Thutmosis I. Firaun ini menurut kronologi memerintah selama 10 tahun dan meninggal kira-kira berusia 50 tahun. Namun menurut sinar X bentuk tulang belulangnya seperti pria tidak lebih dari usia 20 tahun waktu meninggal. Bahkan mungkin 18 tahun. Ada dua kemungkinan: mumi itu tertukar dengan mumi salah seorang pendeta, atau penulisan sejarah yang tidak tepat. Di zaman itu sering terjadi bahwa mumi raja yang dirampok sering dibalut kembali mayatnya, lalu disembunyikan. Kemungkinan lain adalah bahwa Thutmosis I menderita kelainan perkembangan sehingga pertumbuhan tulang belulangnya tidak normal.
Mumi Pendeta Wanita Makare
Pendeta wanita Makare sebagai istri dari dewa Amon dari Karnak memegang titel tertinggi untuk wanita dalam hierarki keagamaan. Menurut cara pembalutan mayatnya kelihatan bahwa dia meninggal waktu melahirkan atau demam waktu melahirkan. Mumi kecil dalam peti yang sama selalu diperkirakan isinya bayinya, atau mungkin bayi yang dilahirkan dari hubungan gelap di kuil. Ternyata “bungkusan yang diikat erat-erat” itu (istilah Harris dan Weeks) isinya bukan anak tetapi kera betina.











