"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Dokter Ortopedi Tertipu AI, Video Edukasi Jadi Iklan Obat Palsu

Penggunaan AI untuk Manipulasi Konten dan Dampaknya pada Reputasi

Dalam era digital yang semakin berkembang, teknologi kecerdasan buatan (AI) memberikan peluang besar namun juga menimbulkan risiko. Salah satu contohnya adalah kasus yang menimpa Dokter Tony Setiobudi, seorang spesialis tulang yang berpraktik di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura. Ia menjadi korban manipulasi video yang disebarkan secara ilegal, sehingga reputasinya terganggu.

Video Edukasi Kesehatan Tulang Diubah Konteksnya

Video edukasi kesehatan lutut yang awalnya dibuat oleh Dokter Tony untuk membagikan pengetahuan kepada publik, kemudian dimanipulasi tanpa izin. Konten tersebut diubah menjadi promosi obat diabetes, dengan suara dalam video diduga diganti menggunakan teknologi AI. Hal ini menyebabkan munculnya kesan bahwa dokter tersebut menemukan terobosan pengobatan diabetes.

Kasus ini terungkap setelah ada pelanggan yang mengeluhkan obat diabetes yang dibeli setelah melihat video tersebut. Video yang diunggah di situs sackska.com diklaim sebagai hasil penelitian ilmuwan luar negeri. Bahkan, dalam video tersebut, nama Dokter Tony digunakan bersama dengan narasi tentang penyakit diabetes, serta disertai narasi dari presenter berita Rosi Silalahi.

Kerugian Immaterial dan Tindakan Hukum

Menurut kuasa hukum Dokter Tony, Teguh Wibisana Santoso, kerugian yang dialami kliennya adalah kerugian immaterial. Nama baik seorang dokter yang aktif di bidang kesehatan dan memiliki pengaruh besar bisa rusak hanya dalam hitungan menit. Teguh menduga bahwa video tersebut dibuat menggunakan teknologi AI, dan saat ini pihaknya sedang melaporkan kasus ini ke Polda agar tidak ada lagi korban.

Penyalahgunaan Teknologi Deepfake

Selain manipulasi video, kasus lain yang menunjukkan bahaya teknologi AI adalah penyalahgunaan deepfake. Banyak orang mengalami kejadian serupa, di mana foto mereka dimanipulasi menjadi gambar vulgar. Contohnya adalah kasus di Gresik, di mana seorang pemuda berusia 18 tahun diamankan setelah mengedit foto teman-temannya menjadi konten yang tidak pantas.

Teknologi ini sangat mudah diakses. Seseorang hanya perlu mengunduh aplikasi berbasis AI, lalu mengunggah foto yang ingin dimanipulasi. Dalam hitungan detik, sistem akan melakukan editing otomatis tanpa perlu keahlian teknis tinggi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena aplikasi seperti ini tersedia secara gratis dan bisa diakses oleh siapa saja.

Dampak Psikologis pada Korban

Banyak korban manipulasi foto berbasis AI mengalami dampak psikologis yang signifikan. Mereka merasa panik, menghapus foto lama, menutup akun media sosial, atau membatasi pergaulan karena takut menjadi bahan omongan. Padahal, mereka tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan dalam gambar tersebut.

Laporan polisi tentang penyalahgunaan deepfake mulai muncul sejak 2023. Mayoritas korban adalah perempuan, dengan motif beragam seperti fantasi seksual, balas dendam, atau pemerasan. Bentuk penyalahgunaan pun semakin variatif, mulai dari foto menjadi konten pornografi palsu hingga video yang tampak seperti korban berbicara atau melakukan tindakan tertentu.

Kesimpulan

Perkembangan teknologi AI membawa manfaat besar, tetapi juga menimbulkan tantangan baru. Kasus-kasus manipulasi konten dan penyalahgunaan deepfake menunjukkan betapa pentingnya kesadaran dan perlindungan diri dalam menghadapi ancaman digital. Dengan adanya regulasi yang jelas dan edukasi yang tepat, masyarakat dapat lebih waspada terhadap potensi bahaya yang muncul dari penggunaan teknologi ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *