"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Tria The Changcuters: Pentingnya Asuransi dan Dana Darurat Saat Manggung



JAKARTA — Risiko kesehatan yang datang secara tiba-tiba dapat berdampak besar, tidak hanya pada kondisi fisik tetapi juga pada kondisi keuangan. Pengalaman tersebut dirasakan oleh vokalis The Changcuters ketika mengalami kondisi kritis setelah pingsan saat manggung pada 2024 lalu.

Vokalis The Changcuters sekaligus critical illness survivor, Tria Ramadhani, menceritakan pengalamannya ketika mengalami kondisi kritis pada 2024 setelah viral di media sosial karena pingsan saat manggung. Dia mengaku kejadian tersebut mengubah cara pandangnya terhadap berbagai hal ke depan, terutama terkait kehati-hatian dalam menjalani aktivitas serta pentingnya perencanaan finansial.

“Itu jadi kayak sebuah peringatan satu, terlibat dengan surat peringatan satu atau SP1 gitu. Sudah, jadi kita anggap itu sebuah peringatannya,” ujarnya dalam Konferensi Pers dan Talk Show Peluncuran AlliSya CI Hasanah di Jakarta.

Saat insiden itu terjadi, Tria mengaku sempat kesulitan mendapatkan rumah sakit untuk penanganan awal. Dia menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi pada malam Minggu, sehingga proses mencari pertolongan pertama menjadi cukup sulit.

Meskipun demikian, berkat kesiapan dan bantuan rekan-rekan di sekitarnya, dia akhirnya dapat memperoleh penanganan medis sehingga kondisinya dapat tertolong. Berdasarkan penjelasan yang dia terima setelah kejadian, kondisinya sempat sangat kritis, bahkan berada dalam keadaan yang mendekati koma selama beberapa menit karena fungsi jantungnya tidak bekerja secara normal.

Insiden tersebut membuatnya harus menjalani perawatan sekitar satu minggu di rumah sakit. Dia mengaku masa itu menjadi masa yang cukup berat, tidak hanya dari sisi kesehatan tetapi juga dari sisi finansial, karena setelah keluar dari rumah sakit dia masih harus menjalani proses pemulihan lanjutan seperti pengobatan serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dari sisi keuangan, Tria mengatakan situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Tahun 2024 merupakan periode sekitar dua tahun setelah pandemi, ketika industri hiburan baru mulai pulih. Menurut penuturannya, selama pandemi, hampir seluruh aktivitas manggung berhenti sehingga kondisi keuangannya sempat berada dalam situasi yang sangat sulit. Sebagian besar tabungan dan sumber daya finansial yang dimilikinya juga telah terkuras pada masa tersebut.

“Waktu pandemi itu sampai harus mengorbankan, apa namanya, semua. Asuransi juga sudah enggak ada. Jadi, ketika kembali lagi ke panggung itu belum sempat untuk mengatur ulang lah gimana segala macemnya. Untuk masalah keuangan, karena juga acak-acak, keburu acak-acak sama masalah pandemi. Masalah yang benar-benar sulit ya, sulit luar biasa sih,” ungkapnya.

Saat kejadian itu terjadi, Tria mengatakan dirinya belum memiliki perlindungan asuransi. Beruntung, band yang menaunginya dikelola secara manajerial layaknya sebuah perusahaan, sehingga anggota band dan tim manajemen dapat membantu menanggung kebutuhan biaya terlebih dahulu. Urusan finansial kemudian akan dibicarakan kembali setelah kondisi kesehatannya membaik, katanya.

Dari pengalaman tersebut, Tria mengaku mendapat pelajaran penting mengenai perencanaan keuangan. Salah satu hal yang paling terasa adalah pentingnya memiliki dana darurat. Dia menjelaskan bahwa meskipun sebelumnya sudah memiliki dana darurat, sebagian besar dana tersebut telah terpakai selama masa pandemi. Dia sempat mencoba mengumpulkan kembali dana darurat tersebut, tetapi ketika insiden terjadi, jumlahnya masih terbatas.

Pengalaman ini juga membuatnya menyadari bahwa perlindungan finansial tidak cukup hanya mengandalkan dana darurat. Menurutnya, perlu ada lapisan perlindungan tambahan, salah satunya melalui asuransi.

“Kita harus punya asuransi lagi, seperti apa namanya, sebuah perlindungan terhadap pendanaan kita lagi, berbagai layer. Kalau bagi saya menangkapnya kayak seperti itu,” ujarnya.

Hal tersebut disetujui oleh Financial Planner, Widya Prima. Widya menjelaskan seseorang perlu membangun fondasi keamanan finansial terlebih dahulu. Fondasi tersebut terdiri dari dana darurat dan asuransi. Ketika kedua hal ini sudah dimiliki, katanya, seseorang dapat dikatakan telah mencapai tingkat keamanan finansial atau financial security. Setelah fondasi ini kuat, barulah perencanaan untuk tujuan keuangan jangka panjang dapat dilakukan dengan lebih aman.

“Untungnya Kak Tria punya dana darurat, sehingga itu tidak terlalu menjadi bencana untuk keuangan keluarganya. Nah tetapi, dana darurat itu tidak cukup, perlu kita tambahkan dengan asuransi,” jelasnya.

Menurut Widya, dana darurat memang sangat penting karena dapat membantu menghadapi situasi tidak terduga yang berdampak pada kondisi ekonomi. Sebagai contoh, dia menyebut pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa banyak orang harus menggunakan dana darurat ketika mengalami guncangan ekonomi atau masalah kesehatan.

Meski demikian, dana darurat memiliki keterbatasan. Menurutnya, dana ini umumnya hanya dirancang untuk menghadapi risiko dengan dampak yang relatif kecil terhadap kehidupan seseorang, misalnya kehilangan pekerjaan atau kerusakan rumah seperti atap bocor. Biasanya dana darurat disarankan berada pada kisaran tiga hingga enam bulan pengeluaran.

Jika terjadi risiko yang jauh lebih besar, lanjutnya, dana darurat saja sering kali tidak cukup. Bahkan jika cukup, akan sangat disayangkan apabila seluruh tabungan tersebut harus habis digunakan.

Oleh karena itu, untuk menghadapi risiko besar yang berdampak signifikan pada kehidupan, seperti kondisi kesehatan kritis atau kejadian tak terduga lainnya, diperlukan dana yang jauh lebih besar, salah satunya melalui asuransi.

“Nah itulah, kita perlu yang namanya asuransi untuk mengatur risiko itu. Jadi, tidak perlu kita yang menentukan, ada asuransi yang bisa membantu kita. Jadi, dana darurat ini harus berdampingan dengan asuransi. Jadi enggak bisa kita bikin salah satu,” terangnya.

Sebagai penutup, Widya menegaskan bahwa dana yang masuk jangan langsung diinvestasikan, melainkan harus dialokasikan untuk “uang aman,” terlebih dahulu. Uang aman ini, kata Widya, mencakup dana darurat dan asuransi, yang harus diprioritaskan sebelum seseorang mulai berbicara tentang investasi. Dengan adanya perlindungan ini, seseorang dapat berinvestasi dengan lebih tenang karena telah memiliki perlindungan terhadap risiko yang berada di luar kendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *