Ketimpangan di Industri Perbankan Indonesia
Industri perbankan di Indonesia terus mengalami persaingan yang semakin ketat. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan antara bank berkapitalisasi besar dengan bank yang berada di bawahnya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Desember 2025, sebanyak 51,3% aset perbankan nasional dimiliki oleh bank dalam kelompok KBMI 4. Kelompok ini menguasai total aset sebesar Rp 7.010,90 triliun dari keseluruhan aset perbankan nasional yang mencapai Rp 13.646,41 triliun.
Bank-bank yang masuk dalam kelompok KBMI 4 meliputi PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Dengan dominasi tersebut, mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pasar perbankan nasional.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menyatakan bahwa kondisi ini mencerminkan kecenderungan industri perbankan terhadap bank dalam KBMI 4. Baik dari sisi simpanan maupun penyaluran kredit, bank besar cenderung lebih diminati oleh masyarakat.
“Dampak dari ketimpangan ini adalah bank besar memiliki keunggulan dari sisi teknologi, layanan, keamanan, dan kepercayaan masyarakat dibanding bank yang levelnya berada di bawahnya,” ujar Trioksa.
Menurut Trioksa, layanan yang diberikan oleh bank besar kepada nasabahnya relatif lebih lengkap. Selain itu, bank besar juga memiliki likuiditas yang memadai sehingga bunga kredit biasanya lebih kecil dibandingkan bank kecil.
Di sisi lain, Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai bahwa bank yang berada di bawah KBMI 4 tidak perlu terlalu khawatir. Ia menekankan bahwa rasio perbandingan Dana Pihak Ketiga (DPK) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia masih relatif kecil jika dibandingkan negara-negara tetangga.
“Patut dicermati juga kalau kita lihat dari penetrasi bisnis perbankan di Indonesia itu potensinya masih sangat besar,” kata Myrdal.
Myrdal juga menyoroti transformasi homogen yang dilakukan oleh empat bank besar dalam KBMI 4. Perbedaan spesialisasi di antara bank besar mulai tidak terlihat karena keperluan ekspansi bisnis mereka.
“Ada kemungkinan juga di sisi spesialisasi bisnis dari bank tersebut sudah mulai jenuh. Jadi itu wajar saja,” tambah Myrdal.
Dengan situasi ini, bank yang lebih kecil dapat memanfaatkan celah dengan fokus pada segmentasi tertentu. Contohnya, PT Bank Aladin Syariah Tbk (Bank Aladin) yang menargetkan pasar nasabah tertentu melalui program-program yang dihadirkannya.
Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, Koko Rachmadi, menyebut bahwa Bank Aladin memiliki tren pertumbuhan aset yang positif sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan ini juga terus terjaga di kuartal-1 2026 dengan dukungan dari program-program khusus Bank Aladin selama Ramadan, seperti kerja sama dalam program santunan, mudik gratis, dan lainnya dalam ranah sosial.
“Di 2026 ini kan kami langsung masuk Ramadan, banyak program kita yang berhubungan dengan sosial finance itu mendapat respons positif, sehingga juga mendorong pertumbuhan aset,” ujar Koko.
Di sisi lain, Direktur Kepatuhan OK Bank, Efdinal Alamsyah, menjelaskan bahwa untuk bisa bersaing di industri perbankan, OK Bank senantiasa menggunakan pendekatan yang prudent dalam mengekspansi kredit dan mengelola risiko.
“OK Bank fokus melakukan penguatan basis nasabah, pengembangan layanan, serta peningkatan efisiensi operasional,” ujar Efdinal.
Untuk diketahui, saat ini Bank Aladin dan OK Bank berada di dalam kelompok bank KBMI 1. Mereka terus berupaya meningkatkan daya saing di tengah dominasi bank besar.











