Kehidupan Aminurasid yang Berubah Total
Aminurasid, seorang pria yang kini dikenal sebagai insan pers di Kota Medan, pernah menjalani kehidupan yang sangat berbeda. Di masa lalu, ia sempat menjadi bandar narkoba yang terkenal di kawasan tersebut. Dunia malam, bisnis ilegal, dan pergaulan yang tidak sehat menjadi bagian dari kehidupannya.
Namun, hidupnya mengalami perubahan besar setelah ia memilih untuk hijrah dan kembali kepada Tuhan. Proses perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian peristiwa pahit yang mengguncang hidupnya.
Dikhianati oleh Orang Terdekat
Titik balik dalam hidup Aminurasid dimulai ketika ia merasa dikhianati oleh orang-orang yang sebelumnya menjadi teman dekat dan rekan bisnisnya. Persaingan dalam bisnis ilegal membuatnya difitnah dan dijatuhkan oleh orang-orang terdekat.
“Karena ada yang ingin menguasai kampung itu untuk bisnis ilegal, jadi dikotak-kotakan. Yang selama ini saya buat baik tidak dikenang orang. Saya malah dianggap penghancur kampung,” ujarnya.
Ia bahkan pernah diminta meninggalkan kampung halamannya. “Dibilang, kau tak usah tinggal di kampung lagi. Selama ada kau, rusuh saja kampung ini,” kenangnya.
Meskipun ia tidak pernah berniat merusak lingkungan sekitar, dari situ ia mulai memiliki tekad untuk memperbaiki keadaan. “Dari situ saya terobsesi memperbaiki kampung ini, ingin jadi lebih baik,” katanya.
Kehilangan Keluarga
Ujian hidup Aminurasid tidak berhenti di situ. Dunia narkoba yang ia jalani membawa dampak besar pada kehidupan keluarganya. Di masa terpuruk itu, ia harus menerima kenyataan pahit: istri dan anak-anaknya pergi meninggalkannya.
“Hidup hancur waktu itu. Istri cerai dan membawa anak-anak. Teman-teman juga hilang saat kita jatuh,” ungkapnya lirih.
Dalam kondisi itu, ia merasa hanya Tuhan yang masih mau “mendengar” keluh kesahnya. “Cuma Tuhan yang masih mau tetap stay mendengar ocehan kita,” katanya.
Umrah yang Mengubah Hidup
Di tengah keterpurukan itu, sebuah kesempatan yang tidak pernah ia rencanakan datang. Seseorang tiba-tiba menawarkan bantuan untuk berangkat umrah dengan biaya setengah ditanggung. Padahal saat itu Aminurasid mengaku tidak memiliki uang, bahkan untuk mengurus paspor.
“Waktu itu saya tak punya uang untuk umrah. Tapi entah bagaimana jalannya terbuka,” katanya.
Perjalanan spiritual itu menjadi momentum penting dalam hidupnya. Di Tanah Suci, ia merasakan dorongan kuat untuk berubah. “Adzan di sana membuat saya tersentak bangun pagi untuk salat. Dari situ hati mulai berubah,” tuturnya.
Setelah pulang dari umrah, ia mulai menjalani kehidupan baru: menjaga salat lima waktu, menjauhi narkoba, dan perlahan memperbaiki diri.
Berhenti Total dari Narkoba
Aminurasid mengaku proses meninggalkan narkoba tidak terjadi secara instan. Ia masih bergaul dengan teman-teman lamanya, namun tubuhnya mulai menolak kebiasaan lama tersebut.
“Waktu itu masih duduk dengan kawan-kawan yang masih pakai. Tapi ketika menghirup asapnya sudah terasa asam, tidak nyaman,” katanya.
Sejak saat itu ia benar-benar berhenti. “Alhamdulillah bisa berhenti total,” ujarnya.
Bangun Usaha dan Kembali Menata Keluarga
Setelah meninggalkan masa lalu kelamnya, kehidupan Aminurasid perlahan berubah. Ia mulai membangun usaha sepatu dengan merek Almahyra_Branded, serta mencoba peruntungan di bidang fesyen dan budidaya ikan lele melalui program Polnabe.
“Alhamdulillah sekarang bisa bangun rumah, buka usaha sepatu Almahyra, juga ternak lele,” katanya.
Tak hanya soal ekonomi, kehidupan keluarganya juga kembali tertata. Kini ia menikah dengan Novita Niflyani dan dikaruniai dua orang anak. Sementara empat anak dari pernikahan sebelumnya juga kembali dekat dengannya.
“Sekarang semua anak-anak berkumpul. Rumah jadi ramai lagi,” ucapnya.
Bagi Aminurasid, perubahan hidupnya berawal dari satu niat sederhana: kembali kepada Tuhan. “Niatnya cuma satu, salat lima waktu. Setelah itu semua urusan seolah dimudahkan Allah,” pungkasnya.











