Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampaknya masih rentan mengalami penurunan pada perdagangan saham di awal pekan ini. Pada perdagangan Jumat (17/4), IHSG ditutup naik sebesar 0,17% ke level 7.634, namun kenaikan tersebut didominasi oleh tekanan jual.
Menurut analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, secara mingguan IHSG masih naik sebesar 2,35%, yang dipengaruhi oleh pertumbuhan volume pembelian. Namun, pergerakan indeks saat ini belum mampu menembus garis rata-rata pergerakan 60 hari (MA60) pada grafik mingguan. Selain itu, posisi IHSG saat ini diperkirakan berada di fase akhir wave [iv] pada skenario utama (label hitam) atau di penghujung wave [a] dari wave B pada skenario lain (label merah).
“Hal ini berarti, IHSG rawan untuk bergerak terkoreksi dengan area koreksi terdekat diperkirakan akan menguji level 7.245–7.575 sekaligus menutup beberapa area gap,” tulis Herditya dalam risetnya, Senin (20/4).
IHSG Ditutup Naik 0,17%, Investor Buru Saham BBCA, BBRI, CUAN, hingga BUMI
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di level 7.488 dan 7.351. Sementara resistance terdekat berada di 7.700 dan 7.861.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Ketika harga menyentuh level ini, biasanya harga akan kembali naik karena daya beli saham meningkat.
Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya ada aksi jual besar-besaran sehingga laju kenaikan harga terhambat.
MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk beberapa saham. Contohnya PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) direkomendasikan untuk akumulasi beli di rentang Rp 2.630–Rp 2.720 dengan target harga di Rp 2.790–Rp 2.920, serta stop loss di bawah Rp 2.540.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 3.280–Rp 3.400 dengan target harga di Rp 3.510–Rp 3.610, serta stop loss di bawah Rp 3.260.
Analisis Phintraco Sekuritas: IHSG Masih Solid
Phintraco Sekuritas menilai kenaikan IHSG pada akhir pekan lalu turut didorong oleh ekspektasi pasar terhadap sejumlah aksi korporasi emiten, serta penurunan harga minyak mentah. Secara teknikal, pergerakan IHSG masih relatif solid karena mampu bertahan di atas MA5 dan tetap berada cukup jauh di atas MA20.
“Diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi di kisaran 7.750–7.700, sebelum mencoba kembali untuk menembus level MA50 di sekitar 7.719,” tulis Phintraco dalam analisisnya.
Menurut Phintraco Sekuritas, menjelang berakhirnya masa gencatan senjata, Amerika Serikat dan Iran kembali saling melontarkan ancaman, sehingga memicu kenaikan tensi. Retorika keras, terutama terkait Selat Hormuz, dinilai berpotensi memperkeruh kondisi di kawasan Teluk.
Pelaku pasar global pun mencermati apakah gencatan senjata akan diperpanjang atau justru diikuti eskalasi konflik yang lebih luas. Adapun untuk pekan depan, pasar juga akan dipengaruhi sejumlah rilis data ekonomi.
Data Ekonomi yang Perlu Diperhatikan
Dari dalam negeri, investor menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22 April dan data pertumbuhan kredit (22/4) serta jumlah uang beredar M2 (23/4). Sementara dari Amerika Serikat, perhatian tertuju pada data penjualan ritel (21/4) dan indeks kepercayaan konsumen Michigan (24/4).
Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham, antara lain PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).











