"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

PTPP Lepas Aset Rp 1,69 Triliun, Ini Rekomendasi Sahamnya



PT PP Tbk (PTPP) sedang menjalani proses penjualan aset senilai total Rp 1,69 triliun. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk fokus pada bisnis inti dan meningkatkan efisiensi operasional. Dalam rencana tersebut, PTPP akan melepas dua anak usaha yang berasal dari bisnis non-inti.

Penjualan Saham di PT PP Infrastruktur

Yang pertama, PTPP berencana untuk menjual kepemilikan saham sebesar 81% atau 621.161 lembar saham di PT PP Infrastruktur (PPIN) kepada PT Varsha Zamindo Laksana (VZL) dan afiliasinya. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi yang ditawarkan mencapai Rp 1,41 triliun.

Setelah transaksi ini selesai, kepemilikan PTPP di PPIN akan turun dari 99,15% menjadi 18,15%. Manajemen PTPP menilai bahwa dana hasil divestasi ini dapat digunakan untuk memperkuat kegiatan operasional dan mengembangkan proyek-proyek pada lini bisnis inti.

Penjualan Saham di PT Celebes Railway Indonesia

Yang kedua, PTPP juga akan melepas 47,81% kepemilikan sahamnya di PT Celebes Railway Indonesia (CRI) kepada PT Solra Energi Terbarukan dengan nilai transaksi mencapai Rp 282,1 miliar. Aksi korporasi ini dilakukan melalui perjanjian jual beli saham bersyarat antara kedua pihak sebagai bagian dari langkah penataan portofolio dan penguatan fokus bisnis inti perseroan.

Divestasi ini mencakup 142.180 saham atau setara 47,81% dari modal ditempatkan dan disetor di CRI. PT Solra Energi Terbarukan (SET) adalah perusahaan di Jakarta yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan PTPP.

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029 bertema “Back to Core”. Melalui strategi tersebut, PTPP ingin memperkuat fokus pada bisnis inti, yakni konstruksi gedung, infrastruktur, serta engineering, procurement & construction (EPC), yang selama ini berkontribusi lebih dari 80% terhadap pendapatan perseroan.

“Penataan portofolio dan divestasi dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperbaiki arus kas, serta mendukung program penyehatan keuangan perusahaan,” ujar manajemen PTPP dalam keterangannya.

Target Divestasi Tahun Ini

Dalam catatan, kedua aset itu memang sudah ada dalam pipeline rencana divestasi PTPP di sepanjang tahun 2025. Emiten konstruksi pelat merah ini menargetkan divestasi aset sebesar Rp 3,06 triliun tahun ini. Artinya, PTPP masih harus melepas aset sebesar Rp 1,37 triliun untuk mencapai target divestasi tahun ini.

Selain CRI dan PPIN, PTPP juga berencana melepas kepemilikan di PT Centurion Perkasa Iman Surabaya dan PT PP Semarang Demak. Khusus untuk PP Semarang Demak, divestasi akan dilakukan setelah beroperasinya seksi I tahun 2027.

Sekretaris Perusahaan PTPP, Joko Raharjo, menyatakan bahwa proses divestasi masih terus berjalan dan ditargetkan dapat diselesaikan pada akhir tahun 2025 ini. Namun, PTPP belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait sisa target divestasi aset Rp 1,37 triliun.

Pandangan Analis

Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora berpandangan bahwa divestasi aset ini akan berdampak positif karena PTPP bisa fokus pada bisnis inti agar lebih efektif. “Arus kas dari hasil divestasi juga akan bisa digunakan untuk mengembangkan bisnis inti,” ujarnya.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas melihat bahwa divestasi CRI dan PPIN akan memberi injeksi kas kurang lebih Rp 1,69 triliun. Jumlah tersebut cukup berarti untuk memperbaiki likuiditas PTPP yang tertekan sepanjang 2025.

Prospek dan Rekomendasi

Andhika mengatakan bahwa kinerja emiten BUMN Karya, termasuk PTPP, akan membaik karena suku bunga Bank Indonesia (BI) yang berpotensi turun lagi didorong oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Hal ini berdampak baik karena beban bunga utang akan turun, sehingga kinerja bisa membaik. Selain itu, adanya stimulus pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi juga menjadi angin segar untuk sektor konstruksi.

“Sebab, apabila ekonomi kembali bergairah maka pembangunan konstruksi akan berpeluang untuk meningkat,” katanya.

Proses merger BUMN Karya juga akan berdampak baik ke PTPP karena akan berdampak lebih efektif dalam perolehan kontrak dan lebih efisiensi.

Andhika merekomendasikan buy on weakness untuk saham PTPP dengan target harga Rp 420 per saham.

Sukarno melihat bahwa kinerja PTPP di tahun 2026 akan mengarah ke pemulihan bertahap, ditopang likuiditas yang lebih sehat dan fokus kembali ke bisnis inti. Namun, tekanan kinerja 2025, kompetisi tender, serta hilangnya kontribusi laba dari aset yang dijual menjadi risiko.

“Rencana merger BUMN Karya masih belum pasti tapi potensial positif jika memberi efisiensi, namun bisa negatif bila struktur konsolidasi membebani PTPP,” tuturnya.

Dari sisi valuasi, saham PTPP saat ini berada pada price to book value (PBV) sangat murah, yaitu di level 0,19x. Namun, pasar menunggu kepastian eksekusi divestasi, penggunaan dana (idealnya untuk menurunkan utang), serta arah backlog dan margin setelah restrukturisasi.

“Investor perlu mencermati apakah divestasi menghasilkan gain jangka pendek saja atau benar-benar memperbaiki kinerja inti,” kata Sukarno.

Sukarno merekomendasikan hold atau buy untuk saham PTPP dengan target harga 12 bulan Rp 450 – Rp 500 per saham.

PTPP Chart

by TradingView

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *