
Peran Kecerdasan Buatan dalam Pariwisata Mewah Asia Tenggara
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tengah menjadi kawasan yang paling dinamis dalam pertumbuhan pariwisata mewah dunia. Di balik lonjakan wisatawan milenial berpenghasilan tinggi dan pelancong digital native, teknologi kecerdasan buatan (AI) disebut menjadi motor baru yang mampu meningkatkan level pengalaman wisata, membuat layanan kelas dunia menjadi lebih terjangkau, personal, dan inklusif.
Chris Sanderson, Co-founder The Future Laboratory, melihat AI sebagai penyeimbang baru dalam industri perhotelan. Menurutnya, teknologi ini bukan hanya mengoptimalkan operasional, tetapi juga meratakan kesempatan, memungkinkan hotel kelas menengah menawarkan pengalaman yang sebelumnya hanya tersedia di hotel bintang lima.
“AI akan meningkatkan peluang hotel kelas menengah untuk memberikan layanan yang sangat personal dengan cepat. Ini yang kami sebut sebagai kesempatan untuk meningkatkan level,” ujar Sanderson dalam laporan New Codes of Luxury seperti dikutip pada Jumat, 14 November 2025.
Sanderson mengatakan, hotel-hotel yang tidak memiliki rasio staf-tamu setinggi properti ultra-luxury kini dapat mengimbangi kualitas layanan melalui personalisasi berbasis data. AI dapat mengelola preferensi tamu, menyesuaikan rekomendasi, hingga merancang perjalanan sejak sebelum tamu bepergian.
Temuan tersebut sejalan dengan tren bahwa 88 persen pelancong mewah percaya layanan berbasis AI akan menjadi standar penting dalam lima tahun ke depan. Layanan concierge digital 24 jam disebut sebagai contoh paling nyata. Mulai dari merencanakan itinerary, mengatasi kendala bahasa, hingga mendampingi tamu selama menginap secara real-time.
Potensi AI dalam Memperluas Destinasi Wisata
Salah satu potensi terbesar AI bagi pariwisata Asia Tenggara adalah kemampuannya memperluas pilihan destinasi wisata. Peran AI untuk Kurasi.
Sanderson menilai bahwa selama ini, 80 persen wisatawan hanya mengunjungi 10 persen destinasi populer. Dengan AI, kemampuan mengkurasi pengalaman dan menemukan lokasi-lokasi baru akan meningkat pesat.
“AI akan mendorong wisatawan menjelajahi tempat yang mungkin tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya, membuka dunia bagi kita,” ujar Sanderson.
Hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia, yang memiliki ribuan atraksi wisata di luar Bali yang belum terekspos maksimal. Bagi pelaku pariwisata dan perhotelan Indonesia, AI dipandang sebagai alat untuk membangun pengalaman yang tidak hanya canggih tetapi juga emosional.
Dengan penggunaan data yang tepat dan transparan, hotel dapat menciptakan interaksi yang lebih relevan tanpa mengurangi sentuhan manusia. Ini selaras dengan temuan bahwa 63% tamu tetap menginginkan pengalaman yang human-first, terutama dalam layanan front-office, penyambutan, dan interaksi personal.
“Aturannya sederhana: biarkan tamu memimpin. AI harus bekerja untuk memperkuat, bukan menggantikan, hubungan manusia,” kata Sanderson.
Pertumbuhan pesat wisatawan muda di kawasan, yang terbiasa menggunakan teknologi, tetapi tetap menghargai kurasi dan kenyamanan membuat integrasi AI semakin relevan. Generasi ini mencari pengalaman yang personal, seamless, cepat, dan emosional.
AI dianggap mampu memenuhi kebutuhan tersebut, terutama pada fase pencarian destinasi, pemesanan perjalanan, dan interaksi pelayanan selama menginap.
Peluang Ekonomi Kreatif dan Hospitality
Dengan AI membuka jalan bagi destinasi baru, pengalaman lebih terkurasi, dan layanan lebih efisien, Sanderson melihat peluang ekonomi kreatif dan hospitality Indonesia semakin besar.
“AI akan membantu kita mendapatkan pengalaman luar biasa dengan biaya lebih terjangkau dan itu kabar baik bagi semua,” ujarnya.
Menurutnya, sistem cerdas diprediksi tidak hanya meningkatkan daya saing hotel, tetapi juga mendorong kolaborasi lintas sektor: transportasi, kuliner, budaya, hingga industri kreatif lokal.











