"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Mengajar Siang, Berjualan Malam: Lelah dan Lega di Pasar Digital



Kadang saya ingin berhenti.

Kadang saya justru ingin mulai dari awal lagi.

Setiap sore, setelah menutup pintu kelas, saya berdiri sejenak. Napas saya terasa lebih berat dari ransel siswa yang tertinggal. Ada capek yang menempel di punggung. Ada ide yang berlarian di kepala. Dua dunia itu kini bertemu: guru yang juga pedagang digital.

Saya tidak pernah membayangkan hidup ke arah ini. Tapi hidup sering membuka pintu yang tidak saya rencanakan. Ada takut saat melangkah. Ada penasaran yang tidak mau reda. Pada akhirnya saya masuk juga, meski hati masih penuh ragu.

Tekanan Dua Peran: Mengajar di Siang Hari, Berjualan di Malam Hari

Mengajar adalah rumah saya. Berjualan adalah ruang tamu yang harus saya rapikan setiap hari. Di kelas, saya bicara tentang teks eksplanasi. Di rumah, saya menatap laptop dan bertanya hal yang sama setiap minggu: “Produk digital apa yang laku kali ini?” Tidak selalu ada jawabannya. Kadang ada pesanan kecil. Kadang sepi seperti sekolah saat libur panjang.

Ironisnya, sepi sering lebih bising dari keramaian kelas. Sepi mengajukan pertanyaan yang sulit saya jawab.

“Apakah produk saya tidak menarik?”

“Apakah harganya terlalu tinggi?”

“Apakah saya kurang kreatif?”

Di saat tubuh hanya ingin rebahan, dunia digital tetap meminta bukti kerja. Ia tidak mengenal kata lelah. Ia hanya menghargai konsistensi dan kehadiran. Ia bergerak cepat tanpa memberi ruang jeda.

Saya tahu saya tidak sendiri. Data Kemenkop UKM 2023 mencatat lebih dari 19 juta UMKM telah masuk ekosistem digital. Namun laporan Bank Indonesia 2023 menunjukkan 40% pelaku UMKM digital mengalami penurunan pendapatan saat daya beli melemah. Angka itu menjelaskan satu hal: pasar digital penuh peluang, tapi tidak menawarkan kepastian.

Saya kini bagian kecil dari angka itu, guru yang pulang dengan tubuh letih, tetapi tetap membuka laptop demi harapan kecil di akhir bulan.

Antara Kreatif atau Kewalahan

Saya tahu kreativitas tidak bisa dipaksa. Namun setiap malam saya tetap memanggilnya pulang. Setelah jam pelajaran terakhir, saya menulis ide kecil. Tak semua matang. Banyak yang pecah di tengah jalan. Tapi saya tidak bisa berhenti. Menjual produk digital berarti menjual gagasan. Dan gagasan tidak datang saat tubuh letih dan mata panas.

Meski begitu, saya tetap membuka Canva. Saya membuat template sambil menahan kantuk. Saya mencari warna yang pas sambil mendengar suara tetangga memanggil anaknya belajar. Ada malam ketika kepala penuh, tetapi halaman desain tetap kosong. Ada hari ketika saya ingin membuat sesuatu, tapi otak saya macet seperti jalanan Jumat sore.

Namun ada juga momen kecil yang menenangkan. Saat desain akhirnya rapi. Saat ide menemukan bentuknya. Saat saya merasa sedang berkarya, bukan sekadar berdagang. Dalam riset kecil yang saya lakukan, saya menemukan data BPS 2022 yang menyebut 42% pelaku usaha digital mengalami fluktuasi pendapatan tiap bulan. Angka itu merangkum perasaan saya. Pasar bergerak tak stabil. Harga sering menjadi keputusan yang menegangkan.

Saya ingin harga yang adil. Tidak terlalu tinggi. Tidak merugikan diri sendiri. Tidak merusak pasar. Saya masih mencari titik itu.

Pasar Digital yang Tak Terprediksi

Dunia digital seperti cuaca. Tidak bisa ditebak. Tidak memberi peringatan. Hari ini ada lima pembeli. Besok tidak ada satu pun. Pembeli datang dan pergi seperti orang yang menelusuri etalase mall tanpa niat belanja. Saya belajar satu hal penting: pasar tidak peduli siapa saya. Pasar tidak peduli bahwa saya guru yang mengajar enam jam sehari. Pasar hanya peduli pada kualitas, relevansi, dan waktu yang tepat.

Kadang saya melihat produk orang lain. Desainnya mirip. Isinya serupa. Harganya jauh lebih murah. Rasa ragu datang lagi. Saya membandingkan. Saya menilai diri sendiri terlalu keras. Perlahan saya belajar bahwa membandingkan hanya menyiksa diri. Pasar punya segmennya. Pembeli punya preferensinya. Dan saya harus fokus pada mutu yang saya yakini.

Ada saat ketika seorang pembeli mengirim pesan sederhana:

“Kak, produknya membantu banget. Makasih ya.”

Kalimat itu seperti teh manis setelah hari panjang. Hangat. Ringan. Menguatkan. Kalimat itu membuat saya duduk lebih tenang. Mungkin lelah saya ada gunanya.

Dua Peran yang Saling Menarik dan Saling Menguatkan

Hidup saya kini seperti karet gelang yang ditarik dari dua sisi. Satu sisi ingin menjadi guru yang selalu hadir. Satu sisi ingin menjadi pedagang yang terus berkembang. Dua peran itu sama penting. Dua-duanya melelahkan. Dua-duanya membuat saya tetap hidup.

Saya melihat perubahan pada diri saya. Saya lebih sabar menunggu. Saya lebih teliti mengatur waktu. Saya lebih kreatif merespons pasar. Mengajar membuat saya terstruktur. Bisnis membuat saya fleksibel. Keduanya saling melengkapi, meski sering terasa seperti pertarungan kecil di dalam kepala.

Namun rutinitas ini memberi pelajaran lain. Bahwa bisnis bukan hanya soal untung. Bisnis adalah proses menerima diri. Proses menilai karya dengan jujur. Proses menghadapi takut tanpa harus merasa berani dulu. Tidak setiap hari saya kuat. Tidak setiap hari saya lemah. Hal yang penting saya tetap berjalan.

Ritme Baru di Antara Lelah dan Lega

Menjalankan usaha sambil mengajar bukan hal ringan. Namun ia memberi pelajaran yang tidak saya temukan di ruang kelas. Saya belajar bahwa rezeki tidak selalu stabil. Saya belajar bahwa kreativitas butuh ruang bernapas. Saya belajar bahwa keberanian sering muncul setelah lelah panjang.

Ada hari ketika saya ingin berhenti. Ada hari ketika saya bangga pada diri sendiri. Di antara lelah dan lega, saya menemukan ritme baru. Ritme yang tidak sempurna, tetapi cukup untuk menjaga saya bergerak. Dan mungkin, dalam dunia yang selalu menuntut lebih, “cukup” adalah bentuk kemenangan yang sering kita lewatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *