PZZA, perusahaan yang mengelola merek Pizza Hut di Indonesia, menunjukkan optimisme terhadap kinerja yang akan dicapai pada tahun 2026. Presiden Direktur Sarimelati Kencana, Boy Ardhitya Lukito, menyampaikan bahwa proyeksi pertumbuhan perusahaan sangat bergantung pada kondisi ekonomi nasional yang dinamis. Meskipun belum bisa memberikan angka pasti, Boy menjelaskan bahwa target PZZA adalah tumbuh di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,3% hingga 5,4%.
“Dengan demikian, pangsa pasar kami di industri dapat terus meningkat,” ujarnya dalam acara paparan publik di Jakarta. Ia menambahkan bahwa momentum pertumbuhan yang tercatat sepanjang tahun ini didukung oleh strategi yang telah dijalankan, menjadi dasar optimisme bahwa target kinerja dapat tercapai pada 2026.
Selain itu, Boy menjelaskan bahwa seluruh kebutuhan ekspansi masih dibiayai dari pendanaan internal. Efisiensi biaya yang berhasil ditekan akan terus direinvestasikan untuk memperkuat aset perusahaan, terutama melalui strategi optimalisasi aset yang berfokus pada renovasi gerai. Saat ini, PZZA mengoperasikan hampir 600 gerai di 36 provinsi.
“Fokus ekspansi kami adalah renovasi gerai. Karena jumlah outlet kami sangat banyak, sebagian sempat tertunda saat pandemi. Sekarang program renovasi sudah kembali berjalan,” jelasnya. Ia merinci bahwa renovasi mulai digencarkan sejak 2023 dengan 23 outlet, berlanjut 11 outlet pada 2024. Pada 2025, jumlah renovasi meningkat signifikan menjadi 56 outlet untuk major renovation, di mana sekitar 11 outlet dengan renovasi skala kecil.
“Untuk 2026, target kami adalah bergerak lebih cepat. Jika bisa melakukan renovasi lebih banyak, tentu lebih baik supaya konsumen lebih tertarik balik lagi ke tempat kita,” ujarnya.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memprediksi kinerja PZZA di tahun 2026 akan jauh lebih baik dibandingkan 2025, dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih yang sangat substansial mencapai tiga digit. Prediksi ini didorong oleh momentum turnaround yang sudah kuat dan manfaat struktural dari penurunan utang.
“Faktor pendukung utama adalah perbaikan kinerja operasional yang konsisten, arus kas yang kuat, serta manfaat penuh dari de-leveraging di tahun 2025 yang menjamin beban bunga dan margin finansial yang lebih tebal di masa depan,” ujar Abida.
Strategi pertumbuhan juga mencakup penguatan inovasi produk, perluasan kanal digital, dan penguatan lini bisnis Business-to-Business (B2B) untuk menangkap peluang pertumbuhan yang berkelanjutan.
Meskipun demikian, terdapat dua faktor pemberat utama untuk kinerja 2026:
- Risiko eksekusi terhadap rencana strategis digital dan B2B. Di tengah persaingan restoran cepat saji yang ketat, perusahaan harus berhasil mewujudkan pertumbuhan top line yang dijanjikan.
- Ancaman eksternal berupa fluktuasi harga komoditas global, seperti harga gandum yang diperkirakan rata-rata mencapai US$ 584.6 pada 2026. Hal ini dapat menekan Cost of Goods Sold (COGS) dan berpotensi mengikis margin kotor yang baru pulih.
Abida merekomendasikan untuk buy saham PZZA dengan target harga jangka menengah hingga panjang pada Rp 300 per saham. Target ini didukung oleh penerapan valuasi Price-to-Earnings Forward (P/E Forward) yang konservatif terhadap proyeksi EPS tahun 2026, merefleksikan premi atas keberhasilan turnaround dan normalisasi laba bersih di tahun mendatang.
PZZA Chart by TradingView











