JAKARTA,
UBS Group AG kembali melakukan aksi divestasi atas kepemilikan sahamnya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Ini menjadi aksi penjualan kedua yang dilakukan UBS sepanjang November 2025. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (28/11/2025), UBS melepas sebanyak 769,45 juta saham BUMI dalam transaksi pada 20 November 2025. Sebelum transaksi, UBS menggenggam 26,384 miliar saham atau 7,11 persen. Setelah divestasi, kepemilikannya turun menjadi 25,614 miliar saham atau 6,90 persen. Saham tersebut dilepas dengan harga rata-rata Rp 228,99 per saham.
“25.614.966.563 lembar saham, mewakili kepemilikan 6,90 persen dari perseroan (setelah divestasi saham),” demikian tertulis dalam surat pemberitahuan UBS. Laporan yang ditandatangani perwakilan UBS, Dominic Eichrodt dan Ruby Ko, menyebutkan aksi penjualan dilakukan untuk keperluan lindung nilai (hedging) derivatif atas kepentingan klien wealth management. Pelaporan perubahan kepemilikan disampaikan melalui APAC Group Shareholder Reporting yang berada di bawah UBS AG Hong Kong Branch.
UBS juga merinci sejumlah entitas global yang tercatat sebagai pemilik langsung maupun tidak langsung atas saham BUMI, antara lain UBS AG Hong Kong Branch, UBS AG Singapore Branch, UBS AG London Branch, UBS Switzerland AG, UBS Fund Management (Swiss) AG, dan MultiConcept Fund Management S.A. dari Luxemburg. Seluruh pelaporan dipastikan sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) 4/2024.
Aksi divestasi UBS ini terjadi selang beberapa hari setelah penjualan jumbo yang dilaporkan pada 17 November 2025. Dalam transaksi tersebut, UBS melepas sekitar 3,57 miliar saham BUMI. Sebelum penjualan, UBS menggenggam 29,891 miliar saham atau 8,05 persen, dan setelah transaksi kepemilikan menyusut menjadi 26,319 miliar saham atau 7,09 persen. Divestasi juga melibatkan saham jenis common stock dengan harga transaksi Rp 226,5891 per saham.
UBS menjelaskan aksi penjualan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas lindung nilai derivatif klien. UBS AG London Branch tercatat sebagai pemilik manfaat langsung dalam kepemilikan tersebut. Adapun kepemilikan tidak langsung berasal dari entitas lain dalam grup UBS, termasuk UBS AG Singapore Branch, UBS Switzerland AG, UBS AG Hong Kong Branch, serta UBS Fund Management (Switzerland) AG dan MultiConcept Fund Management S.A. sebagai manajer dana.
Prospek Saham BUMI Setelah Aksi Jual UBS
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pergerakan saham BUMI masih berada dalam fase tren naik (uptrend). Bahkan sejauh ini masih didukung oleh dominasi volume pembelian. Meski indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan pelemahan, namun tetap berada di area positif, menandakan momentum kenaikan masih terjaga. Sementara itu, indikator Stochastic sudah berada di area overbought, yang berarti harga berada di level tinggi dan rawan koreksi jangka pendek.
Kendati begitu, peluang penguatan harga tetap terbuka selama BUMI mampu menembus level kunci di sekitar Rp 230, dengan area resistansi di 244 dan potensi target penguatan menuju 252-266. “Secara teknikal BUMI masih berada di fase uptrend-nya dan masih didominasi oleh volume pembelian. MACD sudah melandai di area positif dengan Stochastic yang berada di area overbought. Buy if break – S230 R 244 – TP 252-266,” ujar Herditya kepada media, Rabu (26/11/2025).
Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai BUMI masih memiliki ruang untuk menguat, meski ruangnya mulai terbatas. Menurutnya, area pergerakan harga saham akan berada di kisaran Rp 232 – Rp 250. “Saat ini masih memiliki ruang untuk mengalami kenaikan, meskipun mulai terbatas. Area bermain akan berada di kisaran 232-250,” katanya kepada media.
Di sisi fundamental, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan saham BUMI turut dipengaruhi dinamika sektor batu bara yang saat ini menghadapi tekanan dari sisi permintaan global. Nafan menjelaskan aksi korporasi dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) UBS Group AG yang berkaitan dengan pengurangan porsi kepemilikan saham menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar terhadap BUMI. Namun, lebih jauh ia menyoroti prospek sektor batu bara secara keseluruhan masih berada dalam tren melemah.
Menurutnya, lemahnya permintaan dunia terhadap batu bara terjadi karena dua faktor utama. Pertama, perlambatan ekonomi global yang menekan kebutuhan energi berbasis batu bara. Kedua, dorongan kuat menuju transisi energi bersih di berbagai negara, termasuk peningkatan penggunaan energi hijau. “Jadi sebenarnya permintaan untuk energi bersih ya, yang lagi hijau ya, secara global pun juga melalui kenaikannya sehingga mengurangi permintaan daripada penggunaan batu bara untuk energi listrik misalnya,” ucap Nafan kepada media.
Tekanan tersebut membuat prospek emiten batu bara cenderung menantang, termasuk BUMI, meski pergerakan harga sahamnya masih berfluktuasi mengikuti dinamika pasar.
Disclaimer:
Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.











