"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Trauma Korban Banjir-Longsor Aceh Lebih Berat Daripada Tsunami 2004, Kata Psikolog

Persepsi Psikologis terhadap Trauma Bencana di Aceh

Ahli psikologi klinis yang pernah menjadi relawan dalam bencana tsunami Aceh 2004 menyatakan bahwa trauma akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara saat ini lebih berat dibandingkan dengan pengalaman mereka pada masa tsunami. Mereka mengamati bahwa para korban bencana kini mengalami gangguan psikologis yang lebih parah, termasuk mimpi buruk tentang banjir dan perubahan emosional yang signifikan.

Banyak pengungsi di Aceh Tamiang mengungkapkan bahwa mereka merasa lebih sensitif dan mudah marah setelah mengalami bencana. Beberapa bahkan mulai sering mengalami kebingungan atau ketidakstabilan emosi. Hal ini menunjukkan adanya dampak psikologis yang mendalam terhadap masyarakat yang terkena dampak bencana.

Kondisi Pengungsian yang Memperparah Trauma

Jembatan Tamiang di Kecamatan Kuala Simpang menjadi tempat pengungsian bagi ratusan keluarga yang terdampak banjir dan longsor. Di sini, para penyintas tidak hanya berjuang untuk menjaga kesehatan fisik, tetapi juga melawan keputusasaan dan beban psikologis. Tenda pengungsian yang sempit dan tidak nyaman memperparah kondisi mental mereka.

Salah satu pengungsi, Ratnawati, menggambarkan pengalaman hidupnya sebelum bencana. Ia tinggal di dekat Sungai Tamiang dan memiliki kehidupan yang cukup sederhana. Namun, banjir bandang pada November 2021 mengubah segalanya. Rumahnya hancur, dan ia harus pindah ke Jembatan Tamiang bersama keluarganya.

Kondisi di tenda pengungsian sangat sulit. Terik matahari dan debu dari jalan membuat suasana tidak nyaman. Di malam hari, gigitan nyamuk semakin menambah kesulitan. Ratnawati mengaku masih sering mimpi dikejar air dan mengalami emosi yang tidak stabil. Anak-anak pun mengalami perubahan perilaku, seperti sering menangis dan rewel.

Perubahan Emosional pada Penyintas Lain

Selain Ratnawati, penyintas lain seperti Warno juga mengalami perubahan emosional. Ia mengaku sering melamun dan kesulitan menerima kehilangan rumahnya. Meski begitu, ia berusaha tegar di depan keluarganya dan memendam kepedihan dalam hati.

Kebutuhan Layanan Kesehatan Mental

Sejauh ini, posko pengungsian di Jembatan Tamiang belum menyediakan layanan konseling psikologi atau program pemulihan trauma. Menurut Nursahati, warga Desa Suka Jadi, layanan tersebut sangat dibutuhkan, terutama oleh anak-anak yang mengalami trauma.

Psikolog klinis Yulia Direzkia menyatakan bahwa dampak psikologis bencana saat ini lebih berat dibandingkan tsunami 2004. Alasannya adalah lambannya pemenuhan kebutuhan dasar penyintas seperti pangan, air bersih, tempat tinggal, dan layanan medis. Tanpa pemenuhan kebutuhan dasar ini, mekanisme pemulihan alami (self-healing) tidak dapat aktif, sehingga risiko gangguan psikologis serius meningkat.

Perbandingan dengan Penanganan Bencana Tsunami 2004

Yulia mengingatkan bahwa penanganan bencana tsunami 2004 lebih cepat dan terorganisir. Dalam beberapa hari pertama, bantuan seperti dapur umum, rumah sakit, dan tentara asing sudah hadir. Namun, dalam bencana saat ini, banyak wilayah masih terisolir dan kebutuhan dasar belum terpenuhi.

Trauma bencana bisa berkembang menjadi post traumatic stress disorder (PTSD) jika tidak ditangani secara dini. Gejalanya termasuk menghindari pembicaraan tentang bencana, kilas balik kejadian traumatis, serta emosi yang mudah meledak dan gangguan fisik karena masalah psikologis.

Kompleksitas Bencana Saat Ini

Bencana banjir dan longsor saat ini lebih kompleks karena bukan sekadar bencana alam, tetapi juga bencana ekologis akibat pembabatan hutan. Hal ini memperparah dampak psikologis terhadap masyarakat.

Trauma juga dapat dialami oleh tim relawan, TNI/Polri, tim SAR, kesehatan, dan jurnalis yang hadir di lokasi bencana. Bahkan, masyarakat luas yang terus terpapar pemberitaan bencana juga bisa mengalami secondary trauma.

Tanggapan Pemerintah

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dilakukan dengan skala nasional. Pemerintah pusat telah mengerahkan ribuan personel gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan ke wilayah terdampak. Selain itu, dana sebesar Rp60 triliun telah disalurkan untuk membantu pemulihan wilayah terdampak.

Meskipun demikian, Teddy mengakui bahwa penanganan di lapangan belum sepenuhnya sempurna. Ia mengajak seluruh pihak saling mendukung dan memberikan bantuan kepada wilayah yang masih membutuhkan.

Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah paling terdampak bencana. Hingga Jumat siang (19/12), BNPB melaporkan 85 orang meninggal, 10.720 unit rumah rusak, dan 200.000 warga mengungsi. Dari data keseluruhan BNPB, tercatat 1.068 orang meninggal, 190 orang hilang, dan 147.236 rumah rusak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *