"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Opini  

Banjir Sumatera: Hujan Ekstrem atau Keserakahan Manusia? Pandangan Tajam Habib Hanif Alathas

Bencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November hingga pertengahan Desember 2025 meninggalkan luka mendalam. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 13 Desember mencatat 1.006 korban jiwa—414 di Aceh, 349 di Sumatera Utara, dan 242 di Sumatera Barat—dengan ratusan lainnya hilang dan ratusan ribu mengungsi. Di tengah duka ini, narasi resmi yang menyalahkan “hujan ekstrem” sebagai biang kerok mulai dipertanyakan.

Dr. Muhammad Hanif Alathas, Lc, M.Pd, ulama dan pengasuh Majelis Alislah Jakarta, menulis opini tajam yang viral: banjir ini bukan semata ulah alam, tapi akibat “kerakusan yang ekstrem” manusia terhadap hutan.

Narasi Hujan Ekstrem: Kambing Hitam yang Menyesatkan

Banyak pejabat langsung menunjuk curah hujan tinggi sebagai penyebab utama. BMKG memang mencatat angka ekstrem—lebih dari 300 mm per hari di beberapa wilayah Sumut, dipicu Siklon Tropis Senyar. Tapi Habib Hanif menilai narasi ini menyesatkan, karena mengalihkan perhatian dari akar masalah: kerusakan hutan masif di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Hujan hanya pemicu, bukan penyebab utama,” tulisnya di Faktakini.info (14/12/2025). Gelondongan kayu raksasa yang hanyut bersama banjir jadi bukti nyata penebangan liar, bukan sekadar air bah biasa.

Peneliti Hidrologi Hutan UGM, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, mendukung pandangan ini. Hutan sehat berfungsi seperti spons raksasa: tajuknya tahan 15–35 persen air hujan, tanahnya serap hingga 55 persen, dan evapotranspirasi kembalikan 25–40 persen ke atmosfer. Limpasan langsung ke sungai hanya 10–20 persen.

“Jika hutan rusak, fungsi ini hilang—banjir bandang tak terhindarkan,” katanya. Data satelit menunjukkan Sumut hanya punya 29 persen tutupan hutan, Aceh kehilangan 700 ribu hektare (1990–2020), dan Sumbar 740 ribu hektare (2001–2024). Ini “dosa ekologis” akumulasi puluhan tahun yang kini ditagih dengan nyawa ribuan orang.

Habib Hanif ingatkan, narasi “hujan ekstrem” sering jadi alasan mudah untuk hindari tanggung jawab. Padahal, hujan sama terjadi di masa lalu, tapi dampaknya tak separah ini karena hutan masih utuh. Kini, lahan gundul di lereng Bukit Barisan jadi pemicu longsor mematikan. Narasi ini, katanya, seperti menutup mata dari fakta: banjir bukan azab alam semata, tapi akibat ulah manusia yang serakah.

Rahmat Hujan dalam Al-Quran: Hidupkan, Bukan Matikan

Habib Hanif bawa perspektif Al-Quran yang tegas membantah tuduhan hujan sebagai “pembunuh”. Allah firmankan dalam Surah Az-Zukhruf ayat 11: air diturunkan “biqadarin” (dengan takaran sempurna) untuk hidupkan negeri mati. Tafsir Jalalain, Qurtubi, hingga Ar-Razi sepakat: takaran ini bawa kemaslahatan, bukan kehancuran. Jika berlebih hingga banjir, itu karena sistem penyimpanan alami—hutan dan tanah—sudah rusak oleh tangan manusia.

Ayat lain di Surah Al-Mu’minun ayat 18 perkuat: air hujan “disimpan di bumi” melalui resapan permukaan untuk tanaman dan penyimpanan dalam untuk mata air. Tafsir At-Tahrir wat-Tanwir jelaskan ini sistem sempurna Allah. “Hujan adalah rahmat terukur,” tulis Habib Hanif. Jika kini mematikan, itu karena manusia rusak “sistem penyimpanan” itu—menggunduli hutan demi keuntungan sesaat.

Ini selaras sains modern: fungsi hutan sebagai regulator siklus air. Habib Hanif sorot ironi: ilmu pengetahuan Barat kini konfirmasi apa yang Al-Quran ajarkan 14 abad lalu. Tapi ironisnya, justru manusia modern yang abaikan petunjuk itu demi kerakusan.

Akar Masalah: Kerakusan Ekstrem Manusia

Habib Hanif tak ragu sebut pemicu utama: “kerakusan yang ekstrem”. Jutaan kubik kayu gelondongan hanyut jadi bukti penebangan liar skala besar. Di Sumut, tambang dan perkebunan sawit gantikan hutan primer. Di Aceh dan Sumbar, lereng curam Bukit Barisan terus digunduli. Ini bukan bencana alam murni, tapi “kerusakan di darat” seperti Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut karena perbuatan tangan manusia.”

Data deforestasi mengejutkan: Sumut hanya 29 persen hutan tersisa, terfragmentasi dan tertekan. Ini buat tanah tak lagi serap air, limpasan langsung jadi banjir bandang. Habib Hanif sebut ini “dosa ekologis” yang ditagih nyawa—akumulasi puluhan tahun eksploitasi tanpa kendali. Pengusaha yang kaya dari kayu ilegal, sementara rakyat bawah tanggung akibatnya.

Solusi dari Rasulullah: Tanam, Jangan Gunduli

Solusi, kata Habib Hanif, sudah diajarkan Rasulullah ﷺ: makmurkan bumi dengan tanam pohon. Hadits Bukhari-Muslim: setiap muslim tanam pohon, apa pun dimakan burung/manusia/binatang darinya jadi sedekah. Bahkan di akhir zaman: “Jika kiamat tegak dan di tanganmu bibit kurma, tanamlah.” Ini perintah visioner: tanam untuk generasi mendatang.

Sebaliknya, Rasul peringatkan tegas perusak pohon: “Barangsiapa tebang pohon bidara tanpa hak, Allah jungkirkan kepalanya ke neraka” (HR Abu Dawud). Ini ancaman keras terhadap penebang liar. Habib Hanif ajak kembali ke sunnah ini: bukan teknologi mahal atau bendungan raksasa, tapi tanam pohon massal sebagai ibadah dan tanggung jawab.

Di akhir tulisannya, ia tanya retoris: jika penggundulan terus, apa nasib anak cucu? Ini seruan moral: bencana Sumatera jadi pengingat, saatnya berefleksi dan berubah sebelum terlambat. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *