Peran Ibu dalam Pengasuhan: Dari Pujian ke Kebutuhan Dukungan
Di tengah berbagai perayaan dan penghargaan yang diberikan kepada ibu, sering kali kita lupa bahwa ibu juga membutuhkan dukungan yang nyata. Hari Ibu Nasional menjadi momen penting untuk merenungkan kembali bagaimana ibu dianggap sebagai pahlawan keluarga, tetapi tidak selalu diberi sistem pendukung yang memadai.
Tantangan Pengasuhan di Zaman Modern
Pengasuhan anak hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Anak-anak sekarang menghadapi berbagai tantangan seperti paparan gawai sejak dini, tekanan akademik, masalah kesehatan mental, serta kurangnya keteladanan dalam keluarga. Di tengah situasi ini, ibu sering kali dianggap sebagai satu-satunya pelaku utama dalam keberhasilan atau kegagalan pengasuhan.
Ibu di Tengah Tekanan Sosial
Banyak ibu masa kini menjalani peran ganda: sebagai pengasuh utama dan sebagai pekerja. Mereka dituntut untuk hadir secara emosional bagi anak, sekaligus tetap produktif secara ekonomi. Namun, dukungan sistem sering kali tidak sebanding dengan tuntutan tersebut. Banyak ibu yang merasa bersalah ketika bekerja, dan merasa tidak cukup ketika di rumah.
Perubahan dalam Pandangan Parenting
Parenting perlahan berubah menjadi sumber kecemasan, bukan lagi ruang tumbuh bersama. Media sosial memperparah keadaan dengan standar pengasuhan “sempurna” yang sering kali tidak realistis. Hal ini membuat kesalahan sekecil apa pun dianggap sebagai kegagalan ibu sebagai orang tua.
Kisah Nyata di Balik Ruang Keluarga
Seorang ibu muda, sebut saja Ibu Maya, ibu dua anak usia 6 dan 9 tahun, pernah bercerita bahwa ia merasa gagal sebagai orang tua. Setiap pagi ia harus berangkat bekerja, setiap malam menghadapi anak yang tantrum, sulit fokus belajar, dan hanya tenang saat memegang gawai. Ia sudah mencoba berbagai cara, tetapi terus-menerus merasa bingung harus mulai dari mana.
Parenting adalah Proses Belajar, Bukan Warisan Naluri
Selama ini, kita terlalu lama mempercayai mitos bahwa ibu secara otomatis tahu cara mengasuh anak dengan benar. Padahal, parenting adalah keterampilan yang perlu dipelajari, diperbarui, dan disesuaikan dengan konteks zaman. Anak-anak yang tumbuh di era digital membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka memerlukan kelekatan emosional, komunikasi dua arah, batasan yang konsisten, serta keteladanan perilaku bukan sekadar kontrol, hukuman, atau larangan.
Dukungan Sosial untuk Ibu
Hari Ibu Nasional tidak cukup hanya dengan memuliakan peran ibu melalui simbol dan ucapan. Yang jauh lebih penting adalah mendukung ibu agar mampu menjalani parenting yang sehat dan manusiawi. Dukungan itu tidak bisa dibebankan hanya pada ibu. Keluarga, pasangan, sekolah, komunitas, dan negara memiliki peran yang sama pentingnya. Parenting bukan semata tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab sosial.
Solusi: Membangun Ekosistem Parenting Sehat
Momentum Hari Ibu Nasional 22 Desember 2025 harus diarahkan pada langkah nyata, bukan sekadar seremoni. Pertama, pendidikan parenting perlu menjadi layanan publik yang sistematis, misalnya melalui kelas parenting berbasis sekolah dan puskesmas, yang mudah diakses dan tidak menghakimi. Kedua, kesehatan mental ibu harus diprioritaskan, karena ibu yang kelelahan secara emosional sulit menjalani pengasuhan yang positif. Ketiga, peran ayah dan keluarga besar perlu diperkuat, agar pengasuhan tidak bertumpu pada satu orang. Keempat, sekolah dan komunitas harus menjadi mitra orang tua, bukan sekadar penilai keberhasilan anak. Kelima, narasi publik tentang ibu perlu diubah, dari sosok yang harus selalu sempurna menjadi manusia yang juga berhak belajar, salah, dan dibantu.
Penutup
Hari Ibu Nasional adalah momentum refleksi: parenting bukan sekadar naluri, tetapi proses belajar seumur hidup. Ibu bukan mesin pengasuhan yang selalu kuat, melainkan manusia yang membutuhkan dukungan, pengetahuan, dan ruang bernapas. Jika kita sungguh ingin membangun generasi yang sehat secara fisik dan mental, maka mendukung ibu dalam menjalani parenting yang sehat bukan pilihan tambahan, melainkan keharusan moral. Merayakan ibu berarti memastikan mereka tidak berjuang sendirian—bukan hanya hari ini, tetapi setiap hari.











