"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Belajar dari Covid-19, Indonesia Siap Hadapi Pandemi Berikutnya?

Kesiapan Sistem Kesehatan Indonesia Menghadapi “Super Flu”

Kekhawatiran masyarakat terhadap potensi lonjakan pasien akibat penyakit yang dikenal sebagai “Super Flu” telah memicu berbagai pertanyaan tentang kesiapan fasilitas kesehatan di Indonesia. Namun, menurut Ketua Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih, sistem kesehatan nasional saat ini jauh lebih siap dibandingkan sebelumnya, terlebih setelah melalui pengalaman panjang menghadapi pandemi Covid-19.

Daeng menjelaskan bahwa pembelajaran selama masa pandemi telah membuat tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi penyakit menular. Ia yakin bahwa baik Puskesmas, klinik, maupun rumah sakit siap menghadapi situasi seperti ini.

“Saya punya keyakinan kawan-kawan di lapangan nih, baik Puskesmas, Klinik, maupun Rumah Sakit, siap ya,” ujar Daeng.

Penguatan Sistem Pemantauan

Selain itu, Daeng menyoroti pentingnya penguatan sistem pemantauan penyakit atau surveillance. Menurutnya, pengalaman dari pandemi telah membawa perbaikan signifikan pada sistem pemantauan yang kini berjalan lebih baik.

“Dan sistem surveillance kita kan dari pengalaman Covid itu kan jauh lebih bagus nih sistem surveillance kita,” kata Daeng.

Ia menjelaskan bahwa informasi mengenai Influenza A H3N2 subclade K, yang dikenal sebagai Super Flu, telah disampaikan secara luas oleh organisasi kesehatan dunia dan pemerintah. Hal ini membuat jajaran kesehatan di daerah bergerak lebih cepat.

“Jadi kawan-kawan di lapangan ini dengan berita dari WHO, dari CDC, dari Kementerian Kesehatan lain, itu saya, saya mendengar di daerah-daerah, di masing-masing Dinas Kesehatan itu sudah ini, sudah melakukan surveillance intensif untuk yang Super Flu ini,” kata Daeng.

Antisipasi Lonjakan Kasus

Meski menyatakan bahwa Super Flu tidak memiliki tingkat keparahan melebihi influenza biasa, Daeng mengakui penyebarannya cukup cepat. Oleh karena itu, skenario lonjakan kasus tetap menjadi perhatian. Namun, ia menilai mekanisme penanganan sudah tersedia jika kondisi tersebut terjadi.

“Dan kalau terjadi lonjakan, ya, itu pasti tombol untuk mengatasi ini segera, ya apa namanya wabah lah ya kalau masyarakat bilang ya, itu akan pasti ditekan itu tombol itu,” ujar Daeng.

Ia meyakini bahwa pengalaman menghadapi pandemi membuat langkah-langkah penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi. Dengan kondisi tersebut, ia menilai Super Flu tidak akan menimbulkan tekanan luar biasa terhadap sistem kesehatan seperti yang terjadi saat awal pandemi.

Tidak Perlu Khawatir Berlebihan

Daeng kembali menegaskan bahwa kesiapan fasilitas kesehatan seharusnya menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak khawatir berlebihan. Menurutnya, kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi tidak perlu disertai kepanikan.

“Jadi masyarakat jangan khawatir,” kata Daeng.

Penjelasan Menteri Kesehatan

Penjelasan IDI tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. Budi menegaskan bahwa super flu bukanlah virus baru dan tidak memiliki tingkat keganasan seperti Covid-19 varian Delta yang pernah memicu krisis kesehatan global.

“Karena ini sama seperti flu biasa bukan seperti Covid-19 yang dulu-dulu yang varian Delta mematikan,” ujar Budi.

Menurut Budi, influenza A (H3N2) sudah lama dikenal dan kerap muncul secara musiman, terutama di negara-negara dengan empat musim. Meski penularannya cepat, tingkat kematian akibat virus ini sangat rendah.

“Ya dia penularannya cepat, tetapi kematiannya sangat rendah dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin, di negara-negara maju tuh selalu terjadi kenaikan,” ujarnya.

Di Indonesia, jumlah kasus masih terbatas dan mayoritas dapat ditangani dengan pengobatan standar. Budi meminta masyarakat tidak panik, meski tetap waspada.

Pentingnya Pencegahan

Budi juga menekankan pentingnya menjaga imunitas tubuh sebagai benteng utama. Ia menjelaskan bahwa jika imunitas baik, maka tubuh akan lebih kuat menghadapi virus.

“Kalau imunitas, sistem imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, insya Allah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti yang super flu ini, kita bisa sembuh,” paparnya.

Selain itu, ia mengingatkan masyarakat untuk menerapkan langkah pencegahan sederhana seperti mencuci tangan dan memakai masker dalam situasi tertentu.

Dorong Antisipasi Dini

Di sisi lain, Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa meminta pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi tanpa menunggu lonjakan kasus, mengingat influenza A (H3N2) subclade K telah terdeteksi di sejumlah negara.

“Kami meminta pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, melakukan langkah antisipasi sejak dini. Sosialisasi penggunaan masker di ruang publik sangat penting karena terbukti efektif menekan penularan virus pernapasan, termasuk influenza,” ujar Neng Eem.

Kasus Super Flu di Indonesia

Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 62 kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025. Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI Prima Yosephine menyampaikan bahwa kasus tersebut tersebar di delapan provinsi.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” kata Prima dalam siaran pers.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *