"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

IHSG Rekor Baru, Pasar Percaya BI Pertahankan Suku Bunga



Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (19/1/2026) sore mencatatkan level tertinggi baru atau all time high (ATH), didorong oleh ekspektasi pelaku pasar bahwa Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuannya.

IHSG ditutup menguat 58,46 poin atau 0,64 persen ke posisi 9.133,87. Sementara itu, indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham unggulan, naik 3,69 poin atau 0,41 persen menjadi 893,12.

Menurut Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus alias Nico, IHSG menguat di tengah meningkatnya ekspektasi suku bunga yang tidak berubah untuk melindungi nilai rupiah. Saat ini, rupiah kembali melemah menjadi sekitar Rp 16.935.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan digelar pada Selasa (20/1/2026) dan Rabu (21/1/2026). RDG ini diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen seiring pelemahan nilai tukar rupiah.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati rilis data pertumbuhan kredit pada Desember 2025 yang diperkirakan melambat menjadi 7,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), dari 7,74 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Di kawasan Asia, bursa saham bergerak variatif di tengah sikap pelaku pasar yang mencermati pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait rencana penguasaan Greenland serta ancaman pemberlakuan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang kebijakannya.

Sementara itu, China melaporkan pertumbuhan produk domestik bruto (gross domestic product/GDP) yang menurun menjadi 4,5 persen pada kuartal IV 2025, dari sebelumnya 4,8 persen. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi China sepanjang 2025 tetap mencapai target sebesar 5 persen (yoy).

Buka menguat, IHSG bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor menguat, dipimpin sektor barang konsumen nonprimer yang naik 1,23 persen, diikuti sektor infrastruktur serta sektor barang konsumen primer yang masing-masing menguat 0,77 persen dan 0,58 persen.

Adapun lima sektor melemah, dengan sektor kesehatan mencatat penurunan terdalam sebesar 1,02 persen, disusul sektor transportasi dan logistik serta sektor barang baku yang masing-masing turun 0,94 persen dan 0,76 persen.

Saham-saham dengan penguatan terbesar antara lain ESTI, ZATA, BELL, INOV, dan ASHA. Sementara itu, saham-saham dengan pelemahan terbesar yakni KIOS, TALF, CTBN, ELTY, dan BTEK.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.935.575 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 85,35 miliar lembar saham senilai Rp 35,91 triliun. Sebanyak 377 saham menguat, 318 saham melemah, dan 110 saham tidak bergerak.

Bursa saham regional Asia pada sore hari ini antara lain indeks Nikkei melemah 352,60 poin atau 0,65 persen ke 53.583,57, indeks Shanghai menguat 12,09 poin atau 0,29 persen ke 4.114,00, indeks Kuala Lumpur melemah 0,41 poin atau 0,02 persen ke 1.712,33, dan indeks Strait Times melemah 14,22 poin atau 0,29 persen ke 4.834,88.

Rekomendasi Saham Berdasarkan Risiko

Sejumlah sekuritas memberikan rekomendasi saham berdasarkan tingkat risiko untuk investor ritel, mulai dari saham berisiko rendah hingga tinggi, di tengah IHSG yang masih bertahan di atas level 9.000.

Risiko Rendah: Saham Besar dan Perbankan

Untuk investor dengan profil risiko rendah, saham berkapitalisasi besar masih menjadi pilihan utama. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai pergerakan IHSG cenderung terbatas dalam jangka pendek.

“IHSG berpotensi sideways hari ini,” ujarnya di Jakarta, Senin (19/1/2026).

BNI Sekuritas menyoroti saham ASII dengan pendekatan spec buy di area 7.050 dan target 7.125–7.200. ASII merupakan perusahaan konglomerasi yang bergerak di sektor otomotif, alat berat, agribisnis, hingga jasa keuangan. Saham ini dinilai relatif stabil karena ditopang banyak sumber pendapatan.

Selain itu, INKP juga masuk radar dengan area beli 9.875–9.950 dan target 10.100–10.300. INKP merupakan perusahaan industri kertas dan pulp yang produknya banyak diekspor. Saham ini biasanya diminati saat permintaan global membaik, meski tetap sensitif terhadap harga komoditas.

Ia menjelaskan, IHSG memiliki area penopang kuat di kisaran 9.000–9.040 dengan resistance di level 9.100–9.150. Saham-saham berfundamental kuat seperti perbankan dan emiten besar dinilai lebih cocok bagi investor yang menghindari volatilitas tinggi.

Risiko Menengah: Saham Konsumsi dan Energi

Pada kategori risiko menengah, saham berbasis konsumsi dan energi mulai dilirik. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai aliran dana asing masih menjadi penopang pasar.

“Arus dana asing yang kembali masuk ini mencerminkan respons positif terhadap stabilitas makro domestik di tengah volatilitas global,” kata Imam.

IPOT merekomendasikan saham-saham yang menjadi incaran investor asing, seperti JPFA, BBRI, dan AADI. JPFA merupakan perusahaan pakan ternak serta produsen ayam dan telur. Saham ini berkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat sehari-hari, sehingga kinerjanya sering dipengaruhi daya beli dan kebijakan pangan.

Kemudian, BBRI merupakan bank milik negara yang fokus menyalurkan kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Saham perbankan ini kerap menjadi pilihan investor karena likuid dan banyak diminati investor asing.

Sementara itu, AADI merupakan perusahaan batu bara. Saham ini sensitif terhadap pergerakan harga batu bara dunia, sehingga berpotensi memberi keuntungan lebih besar saat harga komoditas naik, namun risikonya juga lebih tinggi dibanding saham defensif.

Saham-saham ini dinilai memiliki keseimbangan antara potensi kenaikan dan risiko yang masih terukur, terutama ditopang konsumsi domestik dan sektor energi.

Risiko Tinggi: Saham Komoditas dan Trading Momentum

Untuk investor dengan profil risiko tinggi, saham komoditas dan saham berbasis trading jangka pendek menawarkan potensi imbal hasil lebih besar, namun dengan volatilitas tinggi. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, mengatakan tekanan jangka pendek masih membayangi pasar.

“IHSG hari ini (19/1/2026) diprediksi melemah dalam kisaran 8.900–9.080,” ujarnya.

Meski demikian, Ajaib tetap merekomendasikan saham-saham berbasis komoditas seperti AADI, BRMS, dan PSAB.

BRMS merupakan perusahaan tambang emas dan mineral. Saham ini sangat dipengaruhi harga emas dunia, sehingga pergerakannya bisa cepat naik maupun turun.

Selain itu, PSAB juga direkomendasikan. PSAB merupakan perusahaan tambang emas yang aktivitasnya bergantung pada produksi dan harga emas global. Saham-saham ini dinilai berpotensi menguat seiring tren harga batu bara dan emas dunia, meski pergerakannya lebih agresif dan membutuhkan manajemen risiko ketat.

Di tengah IHSG yang masih bertahan di atas level psikologis 9.000, pelaku pasar ritel diimbau tidak terburu-buru mengambil keputusan dan tetap mencermati sentimen global yang berpotensi memicu volatilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *