"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Opini  

Opini: Wisata Religi vs Religi Wisata

Perjalanan Wisata dan Makna Spiritualnya

Dalam perjalanan wisata, terdapat dua alasan utama yang mendorong seseorang untuk melakukan perjalanan. Pada abad pertengahan, orang berwisata karena keagamaan mereka, sedangkan kini, orang berwisata karena pariwisata telah menjadi agama bagi sebagian besar dari mereka. Hal ini menunjukkan perubahan makna dan tujuan dari kegiatan wisata.

Pariwisata spiritual atau ziarah merupakan bentuk perjalanan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rohani. Tujuan utamanya adalah mengalami makna terdalam dalam hidup melalui perjumpaan dengan objek atau peristiwa yang dianggap sakral sesuai keyakinan keagamaannya. Contohnya adalah wisata ziarah ke tempat-tempat suci seperti gereja, kuil, atau situs-situs sejarah yang memiliki nilai spiritual tinggi.

Di sisi lain, ada juga wisata spiritual alam yang lebih luas. Dalam konteks ini, wisatawan mencari makna hidup melalui pengalaman dengan alam dan budaya. Objek-objek seperti gunung, sungai, atau hutan tidak hanya dilihat sebagai daya tarik alami, tetapi juga sebagai simbol-simbol spiritual yang terkait dengan mitos, legenda, atau narasi tradisional setempat. Contohnya, daerah-daerah seperti Kelimutu di Lio-Ende, Reba di Ngada, dan Gunung Mutis di Timor memiliki nilai-nilai lokal yang dapat dipadukan dengan informasi ilmiah atau sejarah untuk memberikan perspektif baru bagi wisatawan.

Pariwisata sebagai Agama Baru

Pariwisata kini sering dianggap sebagai agama baru, di mana manusia mengabdikan diri sepenuhnya untuk mencapai kesenangan dan kenikmatan hidup. Fenomena ini terwujud dalam dua bentuk: mekanisme industri pariwisata dan proses ritualisasi pariwisata.

Industri pariwisata menyediakan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, termasuk atraksi alam dan budaya, akomodasi, transportasi, serta layanan pendukung seperti restoran dan toko souvenir. Selain itu, iklan-iklan pariwisata sering kali mempromosikan destinasi sebagai “paradise” atau “kepingan surga” yang bisa memberikan rasa relaks dan pengalaman escape dari tekanan kehidupan sehari-hari.

Namun, di balik pesona pariwisata, terdapat risiko eksploitasi dan komersialisasi yang dapat merusak nilai-nilai alam, budaya, dan tradisi lokal. Pembangunan pariwisata sering kali berfokus pada keuntungan ekonomi semata, sehingga mengabaikan aspek-aspek spiritual dan sosial dari kegiatan wisata.

Ritualisasi Pariwisata

Dalam konteks ritualisasi pariwisata, berwisata dianggap sebagai suatu perayaan ritual kehidupan. MacCannel, seorang ahli ilmu pariwisata, menjelaskan bahwa perjalanan wisata bisa diibaratkan sebagai suatu ritus peralihan daur hidup (rite de passage). Wisatawan meninggalkan lingkungan sehari-hari mereka, lalu beralih ke destinasi wisata yang berbeda, dan akhirnya kembali ke tempat asalnya dengan status sosial yang berubah.

Contoh lain adalah ritual sosial dalam wisata, seperti yang diamati oleh antropolog Italia Pietro Scarduelli. Dia mengamati para wisatawan yang datang ke Tanah Toraja, Sulawesi, tertarik pada budaya menguburkan orang mati (mortuary tourism). Bagi mereka, pengalaman tersebut bukan sekadar melihat ritual kematian, tetapi juga mencari pengalaman eksotik dan unik yang membawa mereka ke “dunia lain”.

Kesimpulan

Pernyataan Dr. Robert Runcie, “now they are tourists because tourism is their religion”, menggambarkan bagaimana pariwisata kini telah menjadi cara baru bagi manusia untuk mencari makna hidup dan kesenangan. Baik wisatawan maupun pihak-pihak terkait seperti tuan rumah dan investor terlibat dalam fenomena ini. Pariwisata tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga menjadi bentuk agama baru yang membawa manusia menuju “kota surgawi di dunia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *