Musik: Pengaruhnya yang Mendalam pada Perasaan Manusia
Musik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak peduli apakah seseorang menyukai genre pop, rock, country, klasik, metal, jazz, hip hop, atau bahkan dangdut, setiap orang pasti memiliki satu genre musik yang disukai. Preferensi ini sering dipengaruhi oleh perasaan yang sedang dirasakan atau adanya ikatan emosional dengan lagu tertentu. Musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu memengaruhi perasaan manusia, baik itu rasa senang, sedih, marah, atau kecewa.
Sejak zaman dulu, musik selalu menjadi teman dalam berbagai bentuk kehidupan manusia. Karena pengaruhnya yang besar terhadap perasaan, sains mencoba menjawab pertanyaan penting: bagaimana musik bisa memengaruhi perasaan manusia? Berikut beberapa hal yang sudah diketahui tentang pengaruh musik bagi manusia:
1. Ada Kaitannya dengan Evolusi Indra Pendengaran
Perjalanan manusia dalam mencintai musik dimulai sejak proses evolusi masih berlangsung. Pada masa awal perkembangan, mamalia—termasuk manusia—banyak mengandalkan indra penglihatan untuk berbagai fungsi. Penglihatan penting untuk bertahan hidup dari predator, mencari makanan, dan berinteraksi dengan sesama.
Universitas Harvard melaporkan bahwa otak manusia berkembang untuk mampu menyaring suara yang sangat kompleks di sekitar, termasuk dalam konteks irama musik. Setelah penyaringan selesai, otak masih bekerja untuk mengidentifikasi jenis suara apa yang didengar dan menilai apakah suara tersebut familiar atau tidak. Uniknya, otak manusia secara alami berkembang untuk membuat hampir seluruh bagiannya aktif ketika mendengar musik, termasuk hipokampus dan amigdala.
Kedua bagian ini berfungsi untuk menyimpan memori dan emosi. Ketika keduanya aktif secara bersamaan saat mendengar musik, hasilnya ialah kemunculan emosi dalam benak manusia, terutama jika musik tersebut berkaitan dengan memori tertentu. Setelah otak merespons, tubuh lainnya ikut merespons irama musik dengan berbagai cara, seperti gerakan tangan maupun kaki dan tangisan.
2. Ada Hormon yang Ikut Meluapkan Emosi Kita
Selain masalah indra pendengaran dan kinerja otak, pengaruh musik yang kita dengar ternyata sampai bisa membangkitkan hormon khusus bernama dopamin. Hormon ini berfungsi untuk membawa pesan kimia ke otak untuk mengatur emosi, gerakan tubuh, dan memori. Jadi, ketika musik masuk ke telinga dan diidentifikasi otak, tubuh kita secara otomatis mengantisipasi emosi yang mungkin akan dimunculkan.
Pfizer melaporkan bahwa pada momen itulah, dopamin dilepaskan menuju otak sampai menghasilkan emosi tertentu. Uniknya, jika musik yang didengar sudah familiar dan punya ikatan tertentu dengan diri seseorang, hormon tersebut sudah muncul hanya dengan mendengar beberapa nada pertamanya saja. Setelah dopamin dilepaskan, tubuh kita langsung merasakan emosi yang meluap, utamanya terkait dengan rasa senang karena hormon ini banyak diasosiasikan dengan rasa puas dan hadiah setelah beraktivitas.

3. Bahkan Ketika Mengalami Cedera Otak, Manusia Tetap Bisa Merasakan Luapan Emosi dari Musik
Pengaruh musik bagi perasaan manusia sangat melekat erat, bahkan dalam kondisi apa pun. Maksudnya, ketika otak kita tak mampu mengenali nada ataupun ritme dari suatu musik, emosi kita tetap bisa terpengaruh. Kondisi ini tetap bisa terjadi meskipun ada masalah otak serius yang sedang dialami oleh seseorang.
Pfizer melaporkan bahwa orang-orang yang mengalami cedera otak atau kesulitan membedakan melodi tetap memiliki kemampuan pengenalan emosi dari musik yang didengar. Malahan, orang-orang yang mengalami kerusakan bagian lobus temporal—bagian otak tempat hipokampus dan amigdala berada—dan lobus frontal tetap bisa merasakan luapan emosi ketika lantunan musik terdengar.

4. Dampak Musik Bagi Manusia
Selain masalah luapan emosi yang muncul dan turunan manfaatnya, musik sudah terbukti memengaruhi banyak hal lain bagi manusia. Sebagai contoh, gerakan yang kadang tubuh lakukan secara tak sadar ketika mendengar musik itu tersinkronisasi dengan peningkatan ambang batas rasa sakit, dilansir Tallahassee Memorial HealthCare. Karena sifat itu, sudah banyak terapis berbasis musik yang memanfaatkan suara tersebut untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dirasakan pasien dari penyakit atau pascatindakan medis.
Hebatnya, jenis terapi musik itu tercatat sudah berhasil mengurangi beberapa rasa sakit dari pasien, misalnya rasa nyeri pascaoperasi dan ketegangan fisik. Lantas, musik pun memengaruhi detak jantung dan pernapasan. Untuk yang terakhir itu alasannya karena musik memengaruhi tingkat denyut nadi dan tekanan darah seseorang, tergantung intensitas musik yang didengarkan.
Selain masalah sakit fisik, musik juga sudah terbukti memengaruhi perilaku manusia dalam membeli sesuatu. Sebab, musik punya kemampuan untuk “mengiklankan” sesuatu sampai kita secara tak sadar tersugesti untuk terpengaruh atasnya. Sebagai contoh, musik klasik sering diputar di pusat perbelanjaan untuk merangsang perasaan ingin membeli sesuatu dari calon konsumen. Selain itu, demografi usia punya preferensi musik sendiri guna meningkatkan perasaan dan kemungkinan membeli sesuatu di toko tersebut.

Dari kemampuan yang awalnya dikembangkan untuk bertahan hidup, kini musik sudah jadi teman sehari-hari bagi manusia. Bahkan, ketika suara tidak berasal dari instrumen musik yang asli, otak kita tetap mampu mengubah irama dari suara di sekitar menjadi lantunan musik yang memengaruhi perasaan. Kalau ditanya orang-orang, apa genre musik favoritmu, nih?











