Penemuan Telur yang Diduga Plastik di Pulau Ay, Banda
Pulau Ay, Banda, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi perhatian masyarakat setelah ditemukan telur yang diduga berbahan plastik. Kejadian ini hampir memasuki satu minggu, namun sampel telur tersebut belum juga dilakukan uji laboratorium. Proses pengujian terkendala karena adanya keterlambatan dalam koordinasi antarinstansi.
Kepala Puskesmas Walang, dr. Fitrah, menjelaskan bahwa kendala utama terjadi akibat kesulitan dalam mengatur koordinasi antara berbagai instansi terkait. Ia memastikan bahwa sampel akan dikirim ke Ambon pada hari Sabtu besok untuk diperiksa lebih lanjut.
Proses Penanganan yang Rumit
Sehari setelah penemuan, tepatnya pada Senin (19/1/2026), tim surveilans dari Puskesmas Walang langsung meninjau Pulau Ay. Namun, saat ingin melakukan penyelidikan epidemiologi, sampel telur telah diamankan oleh pihak kepolisian atau Babinkamtibmas.
“Saya sedang dalam kegiatan di kabupaten dan harus rekon, tapi tim kami tetap turun ke Pulau Ay. Saat melakukan penyelidikan, ternyata telur sudah diamankan,” ujar dr. Fitrah.
Ia kemudian berkoordinasi dengan Kadis Kesehatan Maluku Tengah dan Karantina Kesehatan Wilayah Kerja Kecamatan Banda untuk melakukan sampling. Sampel yang berhasil diambil sebanyak empat butir dan disimpan dalam suhu standar. Pihak karantina bertanggung jawab atas pengawasan suhu sampel tersebut.
Kesulitan dalam Koordinasi
Setelah itu, dr. Fitrah melapor ke Balai POM, tetapi ditolak karena telur tersebut merupakan pangan asal hewan, sehingga kewenangan ada di Dinas Pertanian Bidang Peternakan. Ia kemudian berkunjung ke dinas tersebut, tetapi tidak bisa menerima sampel karena tidak memiliki alat uji laboratorium. Ia diarahkan ke Dinas Pertanian Bidang Peternakan di Provinsi.
Namun, di sana ia kembali mendapat jawaban bahwa kewenangan bukanlah ranah mereka. Ia diminta kembali ke Dinas Pertanian Bidang Peternakan karena itu ranah mereka. Akhirnya, instansi tersebut meminta dr. Fitrah mengirim sampel langsung ke Lab di Maros Sulawesi Selatan.
Koordinasi dengan Pihak Berwajib
Akhirnya, dr. Fitrah berkoordinasi dengan Subdit 1 Ditkrimsus Polda Maluku. Pihak Polda Maluku kemudian berkoordinasi dengan Labkesmas Ambon. Setelah beberapa kali proses tarik ulur, Labkesmas akhirnya menyetujui pengujian sampel.
“Kami akan mengirim sampel dengan pesawat hari Sabtu,” kata dr. Fitrah.
Proses Pengiriman Sampel
Dengan begitu, sampel telur yang diduga plastik akan dikirim ke Ambon pada hari Sabtu besok. Proses pengiriman ini diharapkan dapat memberikan kejelasan apakah telur tersebut benar-benar berbahan plastik atau bukan.











