Perkembangan Properti di Kawasan Soreang
Pembangunan kawasan properti WG Land (WGL) di sekitar exit Tol Soreang, tepat di depan kawasan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung, sempat memicu tanda tanya publik. Terlebih, saat ini pemerintah daerah sedang menerapkan kebijakan baru yang membatasi pembangunan di sejumlah wilayah pasca-bencana banjir. Proyek pengembangan hunian ini menjadi perhatian khusus.
CEO WG Land, Ronny Gunawan, menegaskan bahwa seluruh pengembangan yang dilakukan perusahaan telah memiliki izin lengkap dan sesuai dengan peruntukan tata ruang. “Isu itu wajar dan memang agak menggelitik bagi semua developer. Tapi WG Land ini sudah terdepan, izin-izin itu semua sudah dimiliki. Semua lahan yang kita kuasai memang diperuntukkan untuk hunian,” ujar Ronny.
Menurutnya, isu penghentian pembangunan yang sempat mencuat lebih banyak dipicu oleh respons pemerintah atas bencana banjir di sejumlah daerah. Namun ia memastikan, legalitas WG Land tidak terdampak oleh kebijakan tersebut. “WG Land ini semua surat-surat, legalitas, peruntukan lahannya sangat aman. Integritas itu yang selalu kami pegang dalam pengembangan. Itu yang membuat orang-orang percaya pada brand kami,” katanya.
Pengembangan Kawasan Terpadu di Soreang
Kepercayaan tersebut kini diwujudkan melalui pengembangan kawasan terpadu di Soreang. WG Land tidak hanya membangun hunian, tetapi merancang sebuah kawasan terintegrasi yang mencakup area komersial, perdagangan, pusat lifestyle, hingga rencana menghadirkan alun-alun baru bagi Kota Soreang.
Ronny melihat Soreang sebagai wilayah dengan potensi besar yang selama ini hanya menjadi daerah lintasan menuju kawasan wisata. Padahal, posisinya yang strategis menjadikannya hub penting sekaligus ladang investasi properti yang menjanjikan. “Soreang ini potensinya besar, orang selama ini cuma lewat saja, padahal ini pusat pertumbuhan baru. Kami memang sudah menyiapkan tabungan lahan yang cukup besar. Sejauh mata memandang itu lahan kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, secara logika, tidak mungkin kawasan di depan Pemda dikembangkan tanpa kepastian peruntukan. “Kalau memang tidak boleh, ya tidak mungkin bisa seperti ini. Semuanya sudah super safe,” tegasnya.
Keberhasilan WG Land di Soreang
Keberhasilan WG Land di Soreang juga telah teruji melalui proyek Kaliandra Garden Villa. Sebanyak 27 unit yang diluncurkan sebagai uji pasar berhasil terjual habis dalam waktu satu tahun, bahkan seluruhnya telah berstatus Akta Jual Beli (AJB). “Itu prestasi yang membanggakan, Soreang kini menjadi salah satu alternatif hunian di tengah padatnya Kota Bandung,” ujar Ronny.
Menariknya, tingginya permintaan justru membuat WG Land kehabisan stok lebih cepat dari perencanaan. Proyek yang semula disiapkan untuk pengembangan bertahap hingga 2026, ternyata sudah habis sejak 2024. “Kami kaget juga, harusnya pengembangan berikutnya dilakukan tahun ini, tapi ternyata stok sudah habis dua tahun lalu. Ini bukti bahwa kepercayaan itu nilai yang sangat mahal,” katanya.
Nilai-Nilai yang Diwariskan Pendiri Perusahaan
Kepercayaan tersebut, lanjut Ronny, dibangun melalui konsistensi sistem, layanan, serta jaminan keamanan legalitas. Di balik perjalanan panjang WG Land yang kini menginjak usia 50 tahun, Ronny menyebut ada dua nilai utama yang diwariskan pendiri perusahaan, yakni perseverance dan resilience, atau ketekunan dan ketangguhan. “Papa selalu bilang, nggak ada yang nggak bisa. Yang nggak bisa itu karena kita kurang kreatif. Kita harus cari solusi yang tepat, dan bisnis ini harus berdampak,” katanya.
Menghadapi dinamika regulasi yang terus berubah, termasuk tantangan di tahun 2026 dengan berbagai kebijakan efisiensi dan perubahan pemerintahan daerah, WG Land mengaku memilih bersikap adaptif. Ia juga optimis terhadap prospek industri properti di 2026. Meski diwarnai gejolak ekonomi, properti dinilai tetap menjadi instrumen investasi yang menjanjikan. “WG Land selalu menyediakan lahan strategis dan pengembangan yang matang. Jadi bukan sekadar jual rumah, tapi membangun kawasan yang memberi nilai investasi jangka panjang,” katanya.
Adaptasi dalam Menyasar Konsumen Muda
Adaptasi juga dilakukan WG Land dalam menyasar konsumen muda, termasuk milenial dan Gen Z yang mulai sadar pentingnya aset properti. Menurut Ronny, rumah kini tidak lagi dipandang sekadar tempat berteduh. “Rumah itu kebanggaan, sanctuary. Tempat orang pulang dan melepas lelah. Oleh karena itu kami mengusung hunian sebagai gaya hidup modern,” katanya.











