"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Kisah naik-turun perdagangan batu akik di ibu kota

Kehidupan Seorang Pedagang Batu Akik di Tengah Meredupnya Tren



Di bawah rindangnya pohon di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, seorang pria paruh baya duduk santai dengan alas banner bekas di atas trotoar. Di depannya, ratusan batu akik dipajang, berharap menarik perhatian orang yang lewat. Tangannya lincah mengangkat satu per satu batu, menyorotkannya ke cahaya, lalu menunjukkan warna dan serat di dalamnya.

Pria itu adalah Babeh Icam, pedagang batu akik yang masih bertahan meskipun trennya semakin meredup. Baginya, batu bukan sekadar dagangan. Ia sudah menekuni dunia batu cincin sejak era 1990-an, jauh sebelum batu akik menjadi fenomena nasional.

“Nih kalau mau mainnya ni, kalau disenter, ungu. Cubung Ulung. Dikecilin segini aja bagus nih,” ucap Babeh Icam saat memperlihatkan salah satu koleksinya.

Kecintaannya pada batu lahir dari hobi. Ia menikmati proses melihat karakter batu, warna, hingga aura yang dirasakan pemakainya. “Sudah hobi. Dasarnya emang sudah hobi. Dari tahun 90-an kita sudah senang. Nah pas booming kita dagang dah tuh,” jelas dia.

Ia masih ingat betul masa emas itu. Tahun 2013 menjadi puncak kejayaan batu akik, ketika orang dari berbagai kalangan berburu batu hingga ke pelosok daerah. Namun tren itu tak bertahan selamanya. Setelah pandemi, pembeli mulai menyusut.

“2021 sudah mulai berkurang dah tuh. Pas habis covid tuh,” ujarnya.

Meski begitu, Babeh Icam tidak benar-benar berhenti. Ia sempat lama berdagang di Tanah Abang sebelum akhirnya memilih Hutan Kota Srengseng karena suasananya lebih santai, ditambah adiknya tinggal tak jauh dari lokasi.

“Ya karena di sini kan lebih nyantai. Terus adik kan di sini kebetulan tinggal, dekat,” ujarnya.

Beragam Jenis Batu yang Ditawarkan

Dagangan yang ia bawa beragam: Bacan, Pirus, Mirah Siam, Mirah Ruby, hingga batu khas seperti Combong. Harga pun menyesuaikan kantong pengunjung taman. “Harga-harga Rp 750 (ribu), Rp 1 juta. Kalau ini baru batu yang ya Rp 50-ribuan dah,” ujarnya.

Namun ia mengakui, perbandingan harga masa keemasan dulu dan sekarang sudah sangat jauh berbeda. “Waktu booming buset ke ujung beruk, ujung gunung. Waktu booming wah edan dah batu. Nah sekarang paling orang-orang yang dasarnya emang ada hobi,” ungkapnya.

Menurutnya, fenomena batu akik tak ubahnya tren musiman yang digerakkan euforia. Ia bahkan mengibaratkannya dengan kebiasaan orang yang ikut-ikutan saat ada kejadian ramai. Kini, yang tersisa hanya mereka yang benar-benar hobi.

Pembeli yang Semakin Sedikit

Pembelinya kini kebanyakan usia 30 hingga 40 tahun ke atas, meski sesekali anak muda dan mahasiswa masih mampir. Dalam sehari, penghasilannya tak menentu. “Kadang-kadang anak SMA ada yang belanja. Anak-anak kuliahan, tapi kebanyakan anak kuliahan, orang kerja,” ujarnya.

“Kadang sehari bisa 100, bisa 200, bisa 300, bisa 50 (ribu rupiah), bisa zonk,” tambahnya.

Babeh Icam pernah merasakan manisnya masa jaya. “Wah kalau booming mah saya sampai kebeli mobil waktu booming,” ujarnya. “Walaupun mobil bekas ya,” jelasnya.

Tetap Bertahan Meski Tren Meredup

Kini, ia lebih banyak berdagang untuk menghabiskan stok dan menjaga hobi tetap hidup. Dari sekitar 350 batu yang ia miliki, hanya 150 yang dibawa ke lapak hari itu.

Soal batu yang dianggap bagus, Babeh Icam punya filosofi sendiri. “Nah jadi batu kalau buat saya tuh umpamanya istri. Buat gue cakep terserah orang mau bilang kayak gimana kek,” ujarnya.

Di tengah tren yang sudah jauh mereda, Babeh Icam tetap setia. Pagi hingga malam ia duduk di bawah pohon, menawarkan batu pada siapa saja yang singgah. “Kalau saya dari jam 7 pagi jam 8 pagi sudah di sini di bawah pohon ini sampai malam. Kadang kalau lagi mau sampai malam, kalau nggak magrib sudah. Kecuali malam Jumat ya, malam Jumat saya jam 5 tutup,” ujarnya.

Baginya, selama masih ada yang mencari, selama masih ada rasa suka, batu akik akan selalu punya tempat di hati para pencintanya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *