Oleh: Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat
.CO.ID, JAKARTA — Beberapa waktu lalu, Kementerian Pertanian (Kementan) mengumumkan bahwa Indonesia kini berdiri sebagai kekuatan pangan baru dunia. Sistem produksi yang semakin tangguh dan prospek ekspor yang terbuka lebar menjadi bukti nyata dari perubahan ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia mencapai 34,77 juta ton! Angka ini meningkat sebesar 13,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan kenaikan produksi tertinggi kedua di dunia.
Menurut laporan Kementan Amerika Serikat (USDA), Indonesia menempati posisi pertama di kawasan ASEAN. Artinya, Indonesia tidak hanya swasembada, tetapi juga menjadi produsen terbesar di Asia Tenggara. Di tataran regional, kita layak menyandang gelar “Juara Beras”.
Secara jujur, kondisi perberasan nasional dalam satu tahun terakhir benar-benar menggembirakan. Banyak pihak mengungkapkan bahwa situasi saat ini sangat positif. Produksi beras Indonesia meningkat luar biasa dibandingkan tahun lalu sehingga menjadikannya salah satu produsen beras terbesar di dunia, tepatnya di urutan ke-4 menurut Food and Agriculture Organization (FAO).
Pencapaian ini terwujud berkat kerja keras dan cerdas dari para stakeholder perberasan serta Kementan. Beberapa hal yang menjadi indikator keberhasilan antara lain:
- Produksi beras meningkat cukup signifikan.
- Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog sangat kokoh, mencapai 3,9 juta ton.
- Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani juga naik, yaitu Rp 6.733 per kilogram, 3,58 persen di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Namun, meskipun ada banyak hal yang menggembirakan, tantangan masih ada di depan mata, terutama terkait tata kelola penyimpanan beras itu sendiri. Selain itu, pemerintah telah menyiapkan strategi intervensi, seperti bantuan pangan beras kepada 18.277.083 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras ke pasaran.
Jadi, pemerintah dan para stakeholder perberasan masih terus bekerja keras untuk menjaga ketersediaan beras nasional. Hal ini penting diingatkan karena jika kita terjebak dalam euforia kisah sukses menggenjot produksi beras, bisa jadi kita akan terlena dengan keberhasilan tersebut. Padahal, di balik semua itu masih membentang tantangan yang butuh jawaban cerdas.
Tantangan pokok setelah bangsa ini juara dalam hal menggenjot produksi beras adalah “menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras”, serta “meningkatkan kesejahteraan petani”. Artinya, meskipun produksi beras meningkat sangat spektakuler, namun di sudut lain, masih ada beberapa tantangan serius yang harus dihadapi, antara lain:
- Stabilitas harga dalam artian menjaga harga beras tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat miskin.
- Ketersediaan dalam arti menjaga ketersediaan beras di pasar, terutama di daerah-daerah yang rawan kekurangan pangan.
- Kesejahteraan petani yaitu meningkatkan kesejahteraan petani dengan meningkatkan harga jual gabah dan memberikan insentif lainnya.
- Diversifikasi pangan. Artinya, mendorong diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
- Perubahan iklim yakni menghadapi perubahan iklim yang dapat mempengaruhi produksi beras dan ketersediaan pangan.
Mencermati berbagai tantangan yang mesti dihadapi, pemerintah dan para stakeholder perberasan mau tidak mau harus terus bekerja keras untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut dan menjaga ketersediaan beras nasional.
Di sinilah kita butuh langkah-langkah bersifat terobosan cerdas. Beberapa jurus ampuh pemerintah untuk melestarikan juara produksi beras adalah dengan “menerapkan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan”, seperti :
- Pengembangan infrastruktur pertanian. Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur pertanian, seperti irigasi, jalan, dan gudang penyimpanan.
- Peningkatan kualitas benih. Meningkatkan kualitas benih padi untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman.
- Penggunaan teknologi. Menerapkan teknologi pertanian modern, seperti pertanian presisi dan penggunaan drone, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
- Dukungan kepada petani. Memberikan dukungan kepada petani, seperti subsidi, kredit, dan pelatihan, untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan mereka.
- Pengelolaan sumber daya alam. Mengelola sumber daya alam, seperti tanah dan air, secara berkelanjutan untuk menjaga kesuburan dan ketersediaan sumber daya.
- Pengendalian hama dan penyakit. Mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi untuk mengurangi kerugian dan meningkatkan produktivitas.
- Peningkatan kualitas pasca panen. Meningkatkan kualitas pasca panen, seperti pengeringan dan penyimpanan, untuk mengurangi kerugian dan meningkatkan nilai jual gabah.
- Pengembangan industri pengolahan dalam arti mengembangkan industri pengolahan padi untuk meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Dengan menerapkan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan, pemerintah dapat melestarikan juara produksi beras dan meningkatkan kesejahteraan petani serta masyarakat.











