Aduh, Bu… kalau ingat liputan tahun 2012 itu, rasanya sampai sekarang masih geli sendiri. Kok bisa ya, saya—ibu-ibu bawel yang kalau ngomel suka pakai perumpamaan “kayak cabe rawit”—malah dapat pelajaran hidup dari orang-orang yang katanya “hilang kewarasan”, padahal justru merekalah yang bikin saya paham arti bekerja yang sesungguhnya. Kadang hidup memang suka ngeselin, tapi kalau dinikmati, eh ternyata justru melahirkan kenikmatan kerja yang tak disangka-sangka.
Nah, di sinilah saya belajar bahwa menciptakan bahagia itu bukan soal tempat, tapi cara kita melihat prosesnya.
Waktu itu, saya sedang liputan sebuah kegiatan yang mirip jambore di Rumah Sakit Jiwa Bogor. Ibu Menteri Kesehatan belum datang-datang, badan saya sudah pegal, dan mood sudah kayak cucian basah lupa dijemur.
Tapi, ya namanya juga bekerja, mau bawel kek, mau cerewet kek, tetap harus disyukuri. Yang penting prosesnya dijalani, bukan cuma hasilnya.
Lagi asyik merebahkan diri di lantai lorong (iya Bu, lantai!), datanglah seorang pemuda bernama I Putu Sunarya. Usianya 29 tahun, pasien RSJ dari Bali—tapi cara ngobrolnya santai, hangat, dan lumayan bawel. Kayak ketemu teman lama di angkot. Padahal, kalau cerita hidupnya dikumpulkan, bisa bikin sinetron 300 episode.
Putu bercerita tentang masa ketika ia merasa kerasukan, menghancurkan rumahnya sendiri, bahkan mencuci muka dengan minyak panas seperti ahli debus. Saya yang mendengarnya cuma bisa manggut-manggut sambil dalam hati bilang, “Ya Tuhan, hidup ini memang tak terduga.”
Tapi Putu melanjutkan kisahnya dengan tenang, seakan sedang menggosip ringan di teras rumah. Di situ saya sadar—orang yang mengalami badai hidup sekalipun bisa tetap berusaha menciptakan bahagia dalam versinya sendiri.
Dua pekan pertama, ia diisolasi. Setelah stabil, baru pindah ke ruang biasa. Yang bikin hati saya meleleh, keluarganya rutin menjenguk. Lhah… kita sebagai orang normal saja kadang malas jenguk saudara yang sakit demam tiga hari. Benar-benar tamparan halus dari semesta. Putu menjalani perawatan tiga bulan, lalu rawat jalan.
Dan di tengah obrolan itu, ia menatap saya curiga lalu bertanya, “Mba, dari rumah sakit jiwa yang mana?” Ya ampun. Mau ketawa tapi takut dosa.
Liputan saya berlanjut. Dari Bekasi ke Yayasan Galuh, saya bertemu banyak kisah—dari Asmadi dan Ahmad yang dipasung sampai Ali yang kembali ke yayasan karena kecewa pada keluarga sendiri.
Kisah-kisah itu bukan cuma menyentuh, tapi bikin saya paham: bekerja itu bukan sekadar mengejar target. Bekerja adalah ruang latihan mental—belajar sabar, belajar peduli, belajar menata hati, meskipun yang dihadapi suka bikin naik darah kayak ibu-ibu lihat cucian menumpuk.
Saya juga bertemu anak kecil tanpa identitas, yang memanggil semua perempuan sebagai ibunya. Ada juga seorang ibu salon yang masuk yayasan setelah amuk karena dikhianati suami. Saat berkisah, tiada henti tangannya memijat tangan saya. Diolesi balsem, hingga rasa panas itu terasa bagaikan api. Ingin berhenti, khawatir dia mengamuk karena lagi asyik-asyiknya bercerita.
Hidup manusia itu rumit. Tapi mereka tetap berjuang, tetap bertahan. Lalu saya? Masa saya yang cuma kelelahan liputan mau menyerah dan meratapi nasib? Ah, malu saya Bu.
Dari mereka, saya belajar satu hal: kenikmatan kerja bukan datang dari pekerjaan yang sempurna, tetapi dari hati yang mau berdamai dengan prosesnya. Orang-orang itu—yang dunia lihat sebagai “pasien RSJ”—justru menunjukkan bahwa menciptakan bahagia adalah skill hidup. Bahkan ketika kondisi jauh dari ideal, mereka tetap memeluk apa pun yang tersisa.
Sebagai ibu-ibu bawel yang suka ngomel kalau kerjaan menumpuk, saya jadi sadar: banyak dari kita terlalu sibuk mencari bahagia di tempat yang jauh, padahal bahagia sering sembunyi di balik rutinitas yang kita anggap remeh. Kadang bahagia itu sesederhana bisa ngobrol, bisa didengar, atau sekadar bisa duduk tanpa merasa dikejar waktu.
Jadi, kalau hari ini Anda merasa lelah, kesal, atau ingin melempar laptop ke luar jendela—tenang Bu, itu manusiawi. Tapi jangan lupa bertanya ke diri sendiri: sudahkah saya bahagia hari ini? Jangan-jangan, bahagianya sudah ada, cuma kita kelewat cerewet sampai tak sadar.











