"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Cerita Remaja 14 Tahun dengan Gagal Ginjal Stadium 5, Awalnya Bagaimana?

Awal Mula Gejala yang Tidak Terdiagnosis dengan Benar

Sulistia, seorang remaja berusia 14 tahun, harus menjalani cuci darah rutin setelah didiagnosis menderita gagal ginjal stadium 5. Kondisi ini jarang terjadi pada usia remaja, namun gejalanya muncul secara perlahan dan awalnya dianggap sebagai masalah pencernaan biasa.

Gejala yang dialaminya meliputi bengkak di seluruh tubuh, mual, muntah, dan sesak napas. Pada awalnya, Sulistia merasa bahwa kondisinya tidak terlalu serius. Ia mencoba memeriksakan diri ke klinik beberapa kali, tetapi hasil diagnosis tidak menunjukkan adanya gangguan ginjal. Bahkan, ia sempat didiagnosis dengan asam lambung dan flek paru-paru.

Namun, kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya membuatnya tidak bisa menahan rasa sakit. “Saya sampai pingsan dan langsung dibawa ke IGD Hermina Bitung,” kenangnya. Di rumah sakit, dokter akhirnya mengungkapkan bahwa Sulistia menderita gagal ginjal stadium 5, yang disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi minuman manis dan makanan cepat saji.

Gagal Ginjal Stadium 5: Proses Diagnosis dan Penanganan

Gagal ginjal stadium 5 adalah tahap akhir dari penyakit ginjal yang membutuhkan pengobatan intensif seperti cuci darah. Namun, karena usianya masih sangat muda, Sulistia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. RS Hermina tidak dapat menerima pasien berusia 14 tahun, sehingga ia dirujuk ke RS Ciputra Hospital Garden City.

Di rumah sakit tersebut, kondisinya semakin kritis. “Saya langsung dibawa ke ruang ICU dan koma selama dua minggu,” tambah Sulistia. Selama masa koma, ia menjalani cuci darah rutin. Setelah itu, ia juga harus berpindah ke Ciputra Citra Raya agar lebih dekat dengan rumahnya.

Penyebab Gagal Ginjal pada Remaja: Pola Makan yang Salah

Menurut dr. I Gusti Ngurah Adhiarta, Sp.PD-KEMD, FINASIM, pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi minuman manis dan makanan cepat saji, dapat merusak ginjal secara perlahan. Minuman berwarna dan makanan cepat saji biasanya mengandung garam tinggi yang berisiko bagi fungsi ginjal. Sementara itu, minuman manis yang kaya akan gula dapat menyebabkan kebocoran pada ginjal.

Selain itu, kekurangan cairan juga menjadi faktor yang memperburuk kerusakan ginjal. Sulistia sendiri lebih sering mengonsumsi minuman manis daripada air putih, yang memperparah kondisinya. Gejala awal seperti bengkak dan sesak napas sering kali tidak langsung dikaitkan dengan masalah ginjal.

Perjuangan dalam Menjalani Cuci Darah

Setelah menjalani pengobatan intensif, hidup Sulistia berubah drastis. Ia harus menjalani cuci darah dua hingga tiga kali seminggu. “Awalnya sangat berat, terutama saat pertama kali cuci darah. Saya suka menggigil dan merasa tidak nyaman,” ujarnya.

Selain itu, ia harus membatasi pola makannya secara ketat. Makanan berkalium tinggi seperti buah-buahan tertentu dilarang, dan ia hanya diperbolehkan minum maksimal 600 ml sehari, termasuk cairan dari makanan berkuah. Menjaga asupan cairan menjadi tantangan terbesar baginya, terutama saat cuaca panas.

“Saya sangat haus, tapi hanya bisa minum sedikit. Untuk mengatasi rasa haus, saya biasanya berdiam di kamar ber-AC atau mengunyah es batu agar tenggorokan saya tidak kering,” ceritanya.

Dukungan Keluarga: Kunci Kekuatan untuk Bertahan

Sulistia mengakui bahwa dukungan keluarga menjadi kunci keberhasilannya dalam menghadapi kondisi ini. Sang ibu selalu mendampinginya selama perawatan. “Dukungan dari keluarga sangat penting, terutama dari mama saya yang selalu menemani saya selama perawatan,” ujarnya.

Selain itu, dia juga belajar untuk memperkuat mental dan selalu berusaha menjaga kebahagiaannya. “Saya harus menguatkan diri sendiri dan tetap bahagia. Kunci untuk sehat itu adalah selalu merasa bahagia,” katanya.

Pentingnya Pencegahan Dini dan Kesadaran akan Kesehatan

Kasus gagal ginjal yang dialami oleh Sulistia menjadi pengingat akan pentingnya pola makan yang sehat dan gaya hidup yang lebih baik, terutama pada usia muda. Pencegahan dini dapat dilakukan dengan memperhatikan pola makan, asupan cairan, dan menghindari konsumsi makanan cepat saji serta minuman manis.

Selain itu, pemeriksaan rutin untuk memantau fungsi ginjal sangat disarankan, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi. Sulistia kini telah menjalani hidup dengan lebih berhati-hati, dan kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk lebih peduli terhadap kesehatan ginjal dan gaya hidup mereka sejak dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *