"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kesadaran Masyarakat Soal Obesitas Masih Rendah, Konten Kreator Dikritik Karena Porsi Makan Besar



Mukbang, Sebuah Fenomena yang Menarik Perhatian Media Sosial

Baru-baru ini, media sosial TikTok tengah digemparkan dengan munculnya konten berupa video makan besar atau biasa disebut sebagai mukbang. Mukbang merupakan istilah dari kata mukbang yang berasal dari gabungan kata dalam Bahasa Korea “muk-ja” (ayo makan) dan “bang-song” (siaran). Mukbang awalnya hanya menjadi budaya tersendiri di negeri Korea Selatan. Namun dengan perkembangan arus informasi mukbang kemudian menjadi kebudayaan yang mengglobal. Tidak seperti para pengguna TikTok lainnya, pemilik akun @momyagam1 atau kerap disapa Teh Popi mengunggah video yang memperlihatkan ia dan beberapa temannya sedang menyantap makanan dengan porsi yang besar. Tidak hanya sekali, kebiasaan tersebut terus ia ulangi dalam jangka waktu yang relatif berdekatan. Hal tersebut juga menjadi salah satu hal yang menyulut emosi beberapa netizen. Tak sedikit pula yang memberi saran agar Teh Popi lebih memperhatikan apa yang ia konsumsi daripada ketenaran di sosial media yang bersifat hanya sementara.

Kondisi Tubuh Teh Popi yang Termasuk Kategori Obesitas Menjadi Pemicu Kekesalan Netizen

Salah satu komentar yang menuai banyak perhatian dari kalangan netizen yaitu komentar yang dikirim oleh pemilik akun Tiktok @PeriNtiS_0404, “Kak please tolong diet yah aku tahu makanan cilok itu enak banget. aku aja suka banget. tapi gak setiap hari juga makan ciloknya sehat itu mahal kak kita cintai usus kita, kasihan dia bekerja keras buat lambung kita yg selalu terisi makanan tinggi gluten. Jika kita menjaga badan kita itu juga merupakan salah satu bentuk ibadah atas rasa syukur kita kepada Allah,” tulisnya. Komentar tersebut mendapat ratusan like dari pengguna lain. Sebagian besar menilai bahwa apa yang dilakukan Teh Popi dapat memberikan contoh kurang baik bagi pengguna TikTok lainnya, terutama anak muda yang rentan meniru tren masa kini.

Pengaruh Lingkungan Terhadap Kebiasaan Hidup Sehat

Dalam beberapa video yang diunggah Teh Popi, seringkali ia membuat konten video makan dengan porsi yang besar bersama dengan kerabat dekatnya. Bahkan, beberapa kerabat dekatnya tersebut justru mendukung tindakan konsumtif yang dilakukan oleh Teh Popi. Hal ini tentunya menjadi suatu pembelajaran bagi kita.

Lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap pola perilaku kita. Mengapa demikian? Karena kita merupakan makhluk sosial yang dimana hidup saling berdampingan satu sama lain dan ada kalanya perilaku seseorang mempengaruhi perilaku kita secara tidak langsung. Hal tersebut yang juga yang mendasari sifat konsumtif Teh Popi. Akan lebih baik jika lingkungan sekitar Teh Popi tidak mendukung apa yang ia lakukan.

Media Sosial juga Menjadi Pemicu Munculnya Budaya Makan dengan Porsi yang Tak Biasa

Fenomena mukbang di media sosial kini menjadi salah satu contoh bagaimana platform digital dapat memengaruhi gaya hidup masyarakat, khususnya dalam hal pola makan. Selain faktor lingkungan dan orang sekitar, media sosial juga berperan besar dalam menampilkan kebiasaan berlebihan dalam mengonsumsi makanan, yang pada akhirnya dapat memicu obesitas. Tak jarang, konten yang menampilkan seseorang sedang melakukan mukbang menjadi viral dan memperoleh banyak penonton. Melihat hal tersebut, sebagian orang menganggap bahwa membuat konten mukbang merupakan ide menarik tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan tubuh. Padahal, konten dengan jumlah penonton tinggi sering kali justru dipenuhi komentar negatif dari warganet.

Bagaimana Tindakan yang Seharusnya Dilakukan Agar Para Content Creator Tidak Menimbulkan Dampak Negatif Bagi Pengguna Media Sosial Khususnya Generasi Muda?

Sementara itu, tren mukbang juga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap generasi muda. Fenomena ini telah meningkat popularitasnya seiring dengan penggunaan internet dan platform digital yang lebih tinggi di kalangan individu yang merasa tidak puas dengan kehidupan nyata mereka. Di era digital seperti sekarang, bukan hal yang asing jika anak-anak sekolah dasar sudah menggunakan ponsel dan memiliki akses ke media sosial seperti TikTok. Kondisi ini tentu membuka peluang semakin luas bagi tersebarnya budaya mukbang di kalangan anak-anak dan remaja yang cenderung mudah terpengaruh oleh tren daring tanpa memahami risiko kesehatannya. Konten semacam ini bisa menanamkan anggapan keliru bahwa makan dalam porsi besar adalah hal yang biasa dan bahkan menyenangkan untuk dilakukan, padahal hal tersebut dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti obesitas dan gangguan pencernaan.

Dalam menghadapi maraknya konten mukbang yang dikhawatirkan membawa dampak yang negatif khususnya perilaku tidak sehat di media sosial, peran aktif orang tua dan kerabat dekat sangat dibutuhkan. Media sosial merupakan ruang yang luas dan mudah menimbulkan ketergantungan jika digunakan tanpa pengawasan. Anak-anak dan remaja yang masih dalam tahap perkembangan sering kali kesulitan membedakan antara hal yang baik dan buruk. Ketika mereka melihat content creator mengonsumsi makanan dalam porsi besar tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi kesehatan, mereka bisa saja menganggap perilaku tersebut wajar dan keren untuk diikuti.

Kondisi ini tentu mengkhawatirkan, mengingat generasi muda seharusnya tumbuh menjadi generasi yang sehat, aktif, dan bijak dalam menggunakan sosial media khususnya dalam hal memilih gaya hidup. Tanpa bimbingan dan pengawasan dari orang tua, mereka dapat dengan mudah terjerumus ke dalam kebiasaan tidak sehat hanya karena mengikuti tren viral. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk memberikan edukasi mengenai pola makan seimbang dan mengajarkan anak agar lebih kritis dalam menilai setiap konten di media sosial. Dengan demikian, generasi muda dapat menjadi pengguna media sosial yang cerdas, bijak, dan tetap menjaga kesehatan di tengah derasnya arus tren digital.

Mulailah dari Orang Sekitarmu

Mengapa perubahan harus dimulai dari orang-orang di sekitar kita? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kasus yang dialami Teh Popi tidak akan berlarut-larut jika masyarakat di lingkungannya berani mengingatkan terkait pentingnya hidup sehat dan penggunaan media sosial yang bijak. Lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan seseorang. Ketika masyarakat saling peduli dan memberi nasihat dengan cara yang baik, kebiasaan negatif dapat dicegah sebelum berkembang lebih jauh.

Oleh karena itu, jangan ragu untuk saling mengingatkan dan memberi contoh positif kepada sesama. Tidak perlu memikirkan imbalan, karena tindakan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan dapat membawa dampak besar bagi orang lain. Sebagai makhluk sosial, kita saling membutuhkan satu sama lain. Bukankah akan terasa indah jika kita hidup berdampingan dalam lingkungan yang sehat, dengan pola pikir dan gaya hidup positif? Mari peduli dengan sekitar demi terwujudnya generasi yang cerdas, sehat, unggul, dan berkarakter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *