Program BRI Peduli Berikan Bantuan Kemanusiaan untuk Wilayah Terdampak Banjir dan Longsor
PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang diberi nama BRI Peduli, telah menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana alam di beberapa wilayah di Pulau Sumatra. Bantuan ini mencakup makanan cepat saji, obat-obatan, serta sembako yang disalurkan ke daerah-daerah yang terkena banjir dan tanah longsor.
BRI menunjukkan kepedulian mereka terhadap kondisi masyarakat yang terdampak bencana dengan memberikan dukungan langsung. Menurut Corporate Secretary BRI, Dhanny, pihaknya sangat prihatin atas kejadian bencana yang terjadi di Pulau Sumatra dan berkomitmen untuk membantu para korban dalam meringankan beban mereka.
Program BRI Peduli tidak hanya berupa bantuan material, tetapi juga melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan bantuan bisa segera sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan. Dhanny menekankan bahwa BRI selalu aktif dan cepat dalam menyalurkan bantuan, termasuk dalam situasi darurat seperti bencana alam.
Penyaluran Bantuan di Wilayah Tapanuli Selatan dan Sumatra Barat
Bantuan dari BRI diberikan secara langsung oleh pekerja BRI melalui Unit Kerja BRI terdekat di wilayah yang terdampak bencana. Di Desa Sialang, Desa Silaiya, Desa Bange, dan Desa Sipange yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan, bantuan disampaikan langsung kepada warga setempat.
Di wilayah Sumatra Barat, BRI Peduli menyalurkan perahu karet beserta pelampung kepada Posko Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang. Selain itu, ribuan paket makanan cepat saji juga disalurkan kepada warga terdampak khususnya di wilayah Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Bantuan tersebut diserahkan oleh Tim Satuan Tanggap Bencana ‘Tim Elang Relawan BRI’ serta pekerja BRI melalui Unit Kerja terdekat di wilayah yang terdampak banjir di Padang.
Data Korban Bencana yang Meninggal Dunia dan Hilang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan data terkini mengenai jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Total korban meninggal dunia mencapai 1.016 jiwa.
Pos Pendamping Nasional atau Pospenas yang dipimpin oleh BNPB mencatat korban meninggal tertinggi terjadi di Provinsi Aceh dengan jumlah 424 jiwa. Sementara itu, Sumatra Utara mencapai 349 jiwa dan Sumatra Barat 243 jiwa. Dalam seminggu terakhir (8-13/12), jumlah korban meninggal dunia bertambah sebanyak 66 jiwa.
Selain itu, total jumlah korban hilang mencapai 212 jiwa. Data ini tidak hanya berdasarkan pencarian di lapangan, tetapi juga melibatkan identifikasi ulang terhadap korban yang sebelumnya tidak ditemukan. Misalnya, korban yang bukan dari kabupaten A, tetapi pindah ke kabupaten B, masih dikategorikan sebagai korban hilang hingga ditemukan.
Operasi Pencarian dan Identifikasi Korban
Operasi pencarian korban bencana dilakukan oleh Basarnas dan fokus pada beberapa sektor di setiap wilayah. Di Aceh, pencarian masih berlangsung di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen. Di Sumatra Utara, operasi pencarian dibagi ke dalam lima sektor di tiga wilayah kabupaten/kota, termasuk di Tapanuli Selatan, khususnya di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru.
Di Tapanuli Selatan, pencarian difokuskan pada dua sektor, yaitu di Kecamatan Sukabangun dan Aloban Bair, serta Kota Sibolga di Pancuran Gerobak, Kecamatan Sibolga Kota. Di Sumatra Barat, operasi pencarian terfokus pada lima sektor, termasuk di Kecamatan Malalak dan Palembayan, Kabupaten Agam. Masing-masing satu sektor juga berada di aliran Sungai Batang Anai, yang berada di wilayah Kota Padang, Padang Pariaman, dan Tanah Datar.
Jumlah Pengungsi Masih Tinggi
BNPB mencatat bahwa jumlah pengungsi di tiga provinsi tersebut mencapai 624.670 jiwa. Meskipun ada penurunan jumlah pengungsi dari hari ke hari, mereka yang pindah ke pengungsian mandiri, seperti ke rumah keluarga atau kerabat, tetap didata sebagai pengungsi dan mendapatkan bantuan makanan.
Pemerintah Pusat melalui Kementerian dan lembaga terkait terus bekerja sama dalam menangani darurat dan pemulihan masyarakat terdampak bencana. Dukungan dari berbagai pihak yang terwadahi dalam klaster nasional juga berperan penting dalam mempercepat proses pemulihan pasca bencana.











