JAKARTA,
Kehidupan tanpa sosok ayah sering kali menjadi tantangan besar bagi anak-anak. Kehilangan ayah bisa terjadi karena berbagai alasan, seperti perceraian atau kematian. Kondisi ini membuat banyak anak mengalami rasa kehilangan yang mendalam dan memengaruhi perkembangan mereka secara emosional, mental, maupun sosial.
Apa Itu ‘Fatherless’?
‘Fatherless’ adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun psikologis. Hal ini dapat menyebabkan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan anak, termasuk dalam hal kepercayaan diri, kemampuan berinteraksi dengan orang lain, serta pengambilan keputusan.
Ester (35), salah satu perempuan yang mengalami kondisi ini, menceritakan pengalamannya. Di usia lima tahun, ia kehilangan kedua orangtuanya akibat perceraian. Sejak saat itu, ia dan ketiga kakaknya tinggal bersama kakek dan neneknya. Meski awalnya tidak paham apa yang terjadi, Ester mulai memahami bahwa kehidupan mereka berubah total.
Peran Kakek sebagai Pengganti Ayah
Di tengah situasi sulit ini, kakek Ester menjadi figur penting dalam hidupnya. Ia dikenal sangat disiplin dan keras dalam mendidik cucu-cucunya. Kakek itu bahkan memandang dirinya sebagai pengganti ayah, sehingga memberikan pendidikan yang sangat ketat agar anak-anaknya bisa tumbuh menjadi orang yang tangguh.
Namun, kakek Ester meninggal beberapa waktu setelahnya, membuat Ester kembali merasakan kehilangan. Ia tetap merindukan sosok ayah, meskipun telah diasuh oleh kakek dan neneknya. Ester mengungkapkan bahwa ia sering bertanya-tanya mengapa ayahnya pergi dan tidak lagi hadir dalam kehidupannya.
Rindu Ayah yang Tidak Pernah Hilang
Perasaan rindu terhadap ayah juga dialami Naya (24). Ia kehilangan ayahnya saat masih duduk di bangku SD akibat sakit komplikasi. Meskipun kini sudah dewasa, Naya mengaku bahwa ia belum pernah benar-benar baik-baik saja. Ia selalu merasa ada luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya.
Naya mengatakan bahwa meskipun ayahnya tidak lagi ada, ia tetap merasa bahwa sosok ayahnya selalu ada dalam hatinya. Ia belajar menjadi lebih kuat dan ikhlas setelah kehilangan ayahnya. Namun, ia hanya bisa melampiaskan kerinduannya lewat doa dan kunjungan ke makam ayahnya.
Kepergian Ayah yang Tidak Dapat Diubah
Friska (18) juga mengalami kondisi yang sama. Ia kehilangan ayahnya saat masih berusia 12 tahun. Kepergian ayahnya membuat Friska dibesarkan oleh ibu dan kakak laki-lakinya. Meskipun mereka bisa menjadi pengganti sementara, Friska mengaku bahwa tidak ada yang bisa menggantikan sosok ayah sepenuhnya.
Friska mengungkapkan bahwa ia masih merasa sedih dan bingung saat mengingat kepergian ayahnya. Ia berusaha untuk tetap semangat dan mencari pekerjaan setelah lulus SMA. Ia juga meminta maaf kepada ayahnya karena merasa belum bisa menjadi anak yang diinginkan.
Pentingnya Peran Ayah
Menurut psikolog Jane Cindy Linardi dari Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya, peran ayah tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan materi. Sosok ayah sangat penting dalam membentuk kepribadian anak. Ayah menjadi role model bagi anak laki-laki dan menjadi contoh bagaimana seorang pria harus memperlakukan pasangan.
Jane menegaskan bahwa jika tidak ada sosok ayah, anak akan kehilangan arahan dan cenderung merasa bingung dalam menjalani hidup. Anak-anak yang tumbuh tanpa ayah juga rentan mengalami kecemasan dan kurang percaya diri.
Peran Ayah yang Harus Hadir
Jane menyarankan para ayah untuk meluangkan waktu bersama anak, bahkan hanya 20 menit per hari. Selain itu, ayah juga bisa mengajak anak melakukan aktivitas di akhir pekan agar mereka merasa dihargai dan didampingi.
Dengan kehadiran ayah yang konsisten, anak akan merasa aman dan memiliki dasar yang kuat untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri. Kehadiran ayah bukan hanya tentang uang, tetapi tentang kehadiran dan perhatian yang tulus.











