"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kembali ke Tempat yang Sama, Tapi Diriku Berubah

Masa yang Tidak Menjadi Langkah Maju

Ada masa dalam hidup ketika kita tidak benar-benar melangkah maju, tapi juga tidak sepenuhnya mundur. Kita hanya berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu pulang. Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah mengalami fase seperti ini. Bagi saya, fase itu terjadi ketika saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman selama 2,7 tahun.

Waktu yang cukup panjang untuk berubah, tapi juga cukup singkat untuk menyadari banyak hal. Hingga akhirnya, saya kembali lagi ke perantauan. Ke tempat yang sama. Ke kostan yang dulu. Keputusan pulang waktu itu lahir dari keadaan yang sederhana, tapi berat untuk dijalani. Masa kontrak kerja sudah habis. Saya mencoba mencari pekerjaan lain, namun belum juga berhasil.

Baru belakangan saya tahu, ternyata ada satu doa yang diam-diam menyertai kegagalanku mendapatkan pekerjaan di perantauan: doa Mama. Mama berdoa agar saya bekerja dari rumah saja, supaya beliau bisa melihatku setiap hari. Doa itu baru Mama sampaikan ketika saya akhirnya benar-benar mendapatkan pekerjaan di kampung halaman.

Tidak ada amarah dalam dadaku saat mendengarnya. Yang ada justru rasa hangat yang sulit dijelaskan. Ternyata ada cinta yang begitu besar, sampai rela “menarikku pulang” lewat doa.

Harapan dan Rindu

Saat memutuskan kembali ke kampung, saya membawa beberapa harapan sederhana. Semoga Allah menjagaku. Menjaga orang-orang baik yang selama ini baik padaku di perantauan – para guru, sahabat, dan mereka yang pernah membersamaiiku.

Dalam diam, saya juga menyimpan harapan lain: semoga suatu hari saya diberi kesempatan kembali. Duduk lagi di majelis tercinta. Membersamai para guru dalam dakwah. Mengulang kebersamaan yang dulu sempat kutinggalkan.

Meski begitu, saya tidak memungkiri satu hal: bagi saya, pulang saat itu terasa seperti mundur selangkah.

Belajar dari Kehilangan

Selama 2,7 tahun di kampung, saya belajar banyak hal – terutama dari kehilangan. Salah satunya tentang konsistensi. Saya menyadari betapa sulitnya menjaga istiqomah pada sesuatu yang sudah pernah dimulai ketika tidak ada lagi teman berjuang.

Rutinitas yang dulu terasa ringan, perlahan menjadi berat. Api semangat yang dulu dijaga bersama, kini harus saya pelihara sendiri. Dari sanalah rindu mulai tumbuh, dengan caranya yang pelan tapi dalam. Rindu pada orang-orang yang kucintai di perantauan. Rindu pada suasana belajar. Rindu pada versi diriku yang dulu.

Waktu juga mengajarkanku satu pelajaran penting: betapa berharganya ia, terutama ketika dihabiskan bersama orang-orang yang kita cintai. Hampir tiga tahun membersamai Mama di rumah membuat saya memahami bahwa kebersamaan bukan soal lamanya waktu, melainkan tentang kehadiran.

Kembali ke Tempat yang Sama

Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku sepenuhnya “sembuh”. Tapi aku merasa lebih jujur pada diri sendiri. Dan ya, sedikit demi sedikit, kedewasaan itu bertambah – tanpa perlu diumumkan.

Lalu datanglah pertanyaan yang pelan-pelan menekan batin: sampai kapan aku akan berhenti di sini? Pekerjaan di kampung akhirnya selesai masa kontraknya. Saya sudah hampir tiga tahun berada di rumah. Aku pun sudah meminta izin Mama, dengan hati yang penuh rasa.

Di saat yang sama, rindu yang lama kupendam kian memuncak. Terutama rindu kepada para guru di tanah rantau. Keputusan untuk kembali tidak datang dengan mudah. Ada tarik-ulur yang panjang. Tapi anehnya, di tengah semua itu, hatiku justru tenang. Alhamdulillah. Seolah Allah berkata, “Silakan melangkah.”

Aku pun kembali. Ke kota yang sama. Ke kostan yang sama.

Kembali Bukan Berarti Mundur

Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar biasa. Namun bagiku, kost itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah saksi. Tempat aku belajar mandiri. Tempat aku pernah lelah, jatuh, bangkit, lalu tumbuh.

Di sanalah aku belajar dewasa – pelan-pelan, tanpa sorotan. Ia menyimpan kenangan, bukan luka. Ia merekam proses, bukan kegagalan.

Kembali ke tempat yang sama rasanya seperti mengulang masa lalu, tapi dengan niat memperbaiki diri. Seperti berdamai. Bukan untuk menyesali, melainkan menata ulang. Seolah aku berkata pada diriku sendiri, “Kita mulai lagi, tapi kali ini dengan lebih sadar.”

Hari pertama kembali, begitu riuh kegembiraan menyertai hati. Rindu yang sekian lama kupupuk, Allah obati dengan cara-Nya sendiri. Ada perbandingan yang jelas antara diriku yang dulu dan yang sekarang. Aku merasa lebih royal dalam memberi, juga dalam menerima. Lebih dewasa dalam menyikapi keadaan. Dan yang paling kurasakan: lebih tenang. Tidak lagi terburu-buru. Tidak lagi sibuk membuktikan apa-apa.

Kesimpulan

Kini aku memahami satu hal: kembali tidak selalu berarti kemunduran. Bagiku, kembali adalah kemunduran yang mengalami kemajuan. Sebuah langkah mundur yang digunakan untuk memperbaiki hal-hal yang dulu kurang baik.

Untuk menata niat. Untuk meluruskan arah. Dan ternyata benar, tempat yang sama bisa terasa sangat berbeda ketika kita berubah.

Jika aku boleh membisikkan sesuatu pada diriku 2,7 tahun lalu, mungkin aku akan berkata, “Terima kasih ya. Terima kasih sudah yakin dan percaya pada ketentuan Allah. Terima kasih sudah mau bersabar. Terima kasih sudah kuat.”

Karena tanpa versi diriku yang dulu – yang memilih pulang, bertahan, dan belajar – aku tidak akan sampai di titik ini.

Kembali ke kost yang sama hari ini bukan tentang nostalgia. Ini tentang pertumbuhan. Tentang menerima bahwa hidup tidak selalu bergerak lurus ke depan. Kadang, ia berputar. Dan di sanalah kita belajar menjadi manusia seutuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *