"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Langkah Hotel Kembali ke Dasar Kurangi Sampah Plastik?

Permasalahan Sampah di Indonesia

Dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia, semakin besar pula produksi sampah yang tercipta. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2020 saja, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 67,8 juta ton. Dengan demikian, setiap hari terdapat 185.753 ton sampah yang dihasilkan, sehingga setiap orang di Indonesia rata-rata menyumbang sampah sebanyak 0,68 kg per hari.

Dari berbagai jenis sampah tersebut, sampah makanan merupakan komposisi terbesar, yaitu sebanyak 30,8 persen. Sementara itu, sampah plastik menjadi komposisi kedua terbesar, dengan persentase sebesar 18,5 persen. Sisanya adalah sampah lainnya.

Upaya Mengurangi Sampah Plastik

Dengan melihat besarnya jumlah sampah plastik, berbagai upaya dilakukan untuk menguranginya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membatasi penggunaan kantong plastik dengan menerapkan kebijakan kantong plastik berbayar. Selain itu, ada juga upaya kembali ke cara lama, seperti menggunakan gelas untuk minum, yang diterapkan oleh pemilik atau pengelola hotel dan gedung pertemuan.

Kebijakan kantong plastik berbayar diatur dalam Surat Edaran Nomor: SE-06/PSLB3-PS/2015 tentang langkah antisipasi penerapan kebijakan kantong plastik berbayar pada usaha ritel modern. Kebijakan ini resmi diterapkan pada ritel modern mulai 21 Februari 2016, bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional.

Pemerintah Kota Palembang di Provinsi Sumatera Selatan juga telah melarang pelaku bisnis menggunakan kantong plastik guna mengurangi sampah plastik mulai Januari 2025. Pemerintah Kota Palembang mengatakan bahwa larangan ini dikeluarkan untuk mengurangi penggunaan plastik. Menurut data, Palembang memiliki 1,7 juta jiwa penduduk, masing-masing penduduk menghasilkan 0,4 kg sampah per hari, dengan 30 persennya merupakan sampah plastik.

Penggunaan Kantong Plastik Berbayar

Di Palembang, ritel modern dan beberapa unit bisnis lain menerapkan kantong plastik berbayar dan/atau tidak memberikan kantong plastik kepada konsumen. Konsumen diharapkan membawa sendiri kantong plastik atau wadah untuk membawa barang yang dibelinya. Jika konsumen ingin diberikan kantong plastik atau goodie bag, mereka diminta membayar sesuai dengan ukuran dan kualitas kantong plastik atau goodie bag tersebut.

Konsep ini mirip dengan kantong plastik berbayar, hanya saja dalam penerapannya, konsumen ditawari terlebih dahulu oleh kasir apakah ingin menggunakan kantong plastik atau membawa wadah sendiri. Jika konsumen meminta kantong plastik, barulah kasir menambahkan tagihan kantong plastik pada struk belanja.

Sampah Plastik Air Minum dalam Kemasan

Sejak adanya produksi air minum dalam kemasan, penggunaannya semakin meningkat. Seiring dengan itu, penggunaan cangkir (cangkir gelas atau cangkir plastik) untuk minum sudah lama ditinggalkan. Masyarakat kini lebih sering menggunakan air minum dalam kemasan yang bisa langsung diminum.

Air minum dalam kemasan tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari kemasan kecil (220 ml–240 ml), botol kecil (330 ml), botol sedang (450 ml–600 ml, 750 ml), botol besar (1.500 ml atau lebih) hingga galon isi ulang standar 19 liter. Semakin banyak penggunaan air minum dalam kemasan, semakin tinggi pula jumlah sampah plastik yang dihasilkan.

Setiap ada acara, meeting, atau pesta, biasanya tersaji air minum dalam kemasan ukuran kecil. Bayangkan jika dalam suatu pertemuan ada 1.000 orang, maka akan ada 1.000 sampah plastik ukuran kecil. Jika dalam suatu kampung ada lima acara pesta bersamaan dengan tamu undangan rata-rata 1.000 orang, maka akan ada 5.000 sampah plastik dari bekas air dalam kemasan ukuran kecil.

Alternatif Mengurangi Sampah Plastik

Untuk mengurangi sampah plastik, beberapa pemilik atau pengelola tempat pertemuan (meeting) seperti hotel dan gedung serba guna kini tidak lagi menyajikan air minum dalam kemasan. Mereka kembali menggunakan wadah air minum berbentuk teko beling. Peserta meeting cukup menuangkan air dalam teko beling tersebut ke gelas yang disediakan di atas meja.

Teko beling biasanya diberi tulisan seperti “Sustainable Choices Plastic-Free Life” atau “Cara Hidup yang Berkelanjutan serta Bebas Plastik”. Meskipun cara ini dapat mengurangi sampah plastik, karena tidak menggunakan air minum dalam kemasan ukuran kecil, tetapi mereka masih menggunakan galon plastik yang dituangkan ke dalam teko beling.

Efektivitas Langkah Back to Basic

Meskipun langkah back to basic ini dapat menekan produksi sampah plastik, namun dari sisi efektivitas penggunaannya, langkah ini kurang efektif. Air yang disajikan sering berlebihan dan tidak habis. Selain itu, pemilik atau pengelola gedung pertemuan harus menyediakan air minum dalam kemasan galon yang lebih banyak, sehingga biaya penggunaannya lebih tinggi.

Jalan keluar yang lebih moderat adalah menyediakan teko beling berukuran kecil yang berisi air minum hanya untuk satu orang. Dengan demikian, air minum dalam teko beling tersebut akan habis dan kehigienisan terjaga. Selain itu, pemilik atau pengelola gedung pertemuan juga bisa menggunakan dispenser beling ukuran sedang yang diletakkan di tengah meja. Setiap tamu dapat menuangkan sendiri air ke dalam gelas yang disediakan.

Meskipun terkesan repot, inilah alternatif langkah yang bisa dilakukan. Jika tidak, pemilik atau pengelola gedung pertemuan harus kembali ke cara lama, yakni menyediakan air minum dalam kemasan botol plastik yang berukuran kecil atau sedang. Dengan demikian, sampah plastik tetap akan dihasilkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *