"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Bisnis Tersandung, Hidup Masih Beruntung

Catatan Pahit-Manis tentang Gagal, Bertahan, dan Tetap Optimis di 2025

Tahun 2025 datang dengan pelajaran yang tidak ringan. Kepercayaan yang diberikan sepenuh hati, ternyata bisa berbalik menjadi kekecewaan. Bisnis yang dijalani dengan niat baik tidak selalu berakhir baik. Ada usaha yang tersandung, ada pembayaran yang belum kunjung masuk seluruhnya, dan ada rekanan yang tidak profesional—membuat pekerjaan bermasalah dan energi terkuras bukan untuk bertumbuh, melainkan untuk membereskan hal-hal yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Yang paling pahit bukan sekadar soal uang. Melainkan rasa percaya yang runtuh perlahan, karena saya belajar bahwa tidak semua orang memaknai kepercayaan sebagai amanah. Namun hidup, rupanya, tidak pernah membiarkan luka berdiri sendirian. Di tengah kepahitan itu, ada rasa beruntung yang tumbuh pelan-pelan.

Tidak datang lewat sorak-sorai. Tidak hadir dalam bentuk angka. Ia hadir lewat keluarga—dan lewat proses panjang yang baru terasa maknanya ketika kita mau berhenti sejenak dan melihat ke belakang.

Anak pertama kami wisuda di akhir medio Desember 2025. Ia menyelesaikan studi MSc. Namun bagi kami, wisuda itu bukan sekadar toga, ijazah, atau foto seremonial. Ia mengajak kami berkeliling Britania Raya. Bagi keluarga seperti kami, perjalanan itu bukan sesuatu yang sejak awal kami rencanakan. Bahkan, jika jujur, mungkin tidak pernah benar-benar kami mimpikan. Bukan karena negerinya jauh, melainkan karena hidup kami selalu dibangun dari kerja keras—bukan privilese.

Di kota-kota yang kami lewati, di stasiun-stasiun bawah tanah, di trotoar panjang, di museum dan perjalanan dengan transportasi publik, saya tidak melihat liburan. Saya melihat buah dari kegigihan seorang anak. Ia tidak sampai di sana karena jalan pintas. Ia sampai karena jatuh, bangkit, belajar, bekerja, dan bertahan. Wisuda hanyalah penanda administratif. Perjalanan itu adalah perayaan sunyi atas cita-cita yang diperjuangkan dengan kesabaran panjang.

Sebagai orang tua, perasaan saya campur aduk. Bangga, haru, dan sedikit gemetar—karena mimpi yang dulu hanya kami titipkan dalam doa, kini dijalani sebagai kenyataan oleh anak kami sendiri.

Anak kedua kami memberi pelajaran yang tak kalah dalam. Diam-diam, tanpa cerita, ia melamar ke salah satu Bank BUMN melalui jalur ODP—sebuah pencapaian yang, bagi saya pribadi, terasa sangat istimewa. Mimpi yang dulu saya simpan ketika masih muda, ternyata diwujudkan oleh anak saya sendiri. Tes demi tes ia jalani tanpa kami ketahui. Baru ketika sampai di tahap tes kesehatan, ia berkata pelan, “Saya sudah sampai tes kesehatan.”

Sebagai orang tua yang tegas, saya hanya menyampaikan satu hal: jalani proses ini dengan kemurnian. Tidak perlu jalan pintas. Tidak perlu bantuan siapa pun. Jika memang layak, biarkan kemampuan yang berbicara. Alhamdulillah, ia lolos—tanpa biaya sepeser pun. Di titik itu, kebanggaan kami terasa utuh. Bukan hanya karena ia diterima di entitas negara, tetapi karena keberhasilannya menggugurkan stigma bahwa masuk BUMN harus melalui “jalur dalam”. Ia melaju murni dengan integritas dan kemampuan akademik. Tanpa bantuan orang tua. Tanpa titipan. Tanpa kompromi nilai.

Anak ketiga kami memilih jalan yang berbeda. Ia lulus dari De Anza College, lalu melanjutkan pendidikan ke San Jose State University di Amerika Serikat. Jauh dari rumah, dengan visi dan tekadnya sendiri.

Perlu saya sampaikan satu hal agar kisah ini tidak disalahpahami. Kami adalah pengusaha. Alhamdulillah, untuk ukuran kami, tergolong cukup berhasil membangun bisnis—jatuh bangun dari UMKM, hingga menjadi vendor dan rekanan bank. Kehidupan kami lebih dari sekadar sederhana. Namun sejak awal, saya dan istri sepakat pada satu tujuan utama: mengantar anak-anak kami menuju masa depan mereka sendiri.

Dan dalam perjalanan itu, kami belajar kenyataan yang jarang dibicarakan: kadang aset harus melayang, bukan karena salah kelola, melainkan karena pendidikan dan biaya hidup anak harus tetap berjalan. Harta bisa dicari kembali. Namun kesempatan anak tidak selalu datang dua kali.

Di bulan November 2025, perjuangan paling sunyi justru datang dari yang paling kecil di rumah kami. Di usia 13 tahun, ia membagi hari-harinya antara sekolah dan proses pembentukan dirinya sebagai putri. Bangun pukul empat pagi, mandi, lalu ditangani tim make-up dan hair do. Sebagai ayah, jujur saja, ada rasa takut melihat tubuh kecil itu dipaksa kuat. Akhir pekannya nyaris tanpa jeda. Sabtu diisi kegiatan sosial. Minggu pagi belajar public speaking, siang latihan catwalk bersama pelatih profesional. Lomba ini tidak hanya menuntut cantik, tetapi cerdas, berani, dan siap tampil di bawah tekanan. Final digelar di hadapan ratusan juri dan penonton. Salah sedikit bisa fatal. Namun dengan kepercayaan diri yang matang dan public speaking berbahasa Inggris yang kuat, Gendhis tampil tenang. Dan akhirnya, ia terpilih sebagai Juara Putri Batik Indonesia 2025, menyisihkan kompetitor dari 38 provinsi.

Di tengah runtuhnya kepercayaan pada dunia orang dewasa, kami melihat harapan tumbuh dari ketekunan anak-anak kami. Dan saya sendiri? Di usia 57 tahun, ketika banyak teman sebaya sibuk menyiapkan masa pensiun, saya justru merasa masih kuat untuk belajar. Setiap subuh saya bangun dengan semangat berpikir dan menulis. Dulu, menulis hanya agar selepas subuh tidak tertidur lagi. Kini, menulis menjadi orientasi hidup. Saya menulis hampir setiap hari di , hingga masuk klasifikasi Penjelajah—sebuah kebanggaan kecil yang lahir dari konsistensi, bukan sensasi.

Prestasi terbesar saya adalah kembali kuliah S3 Ilmu Hukum di Universitas Trisakti. Belajar di usia senja bukan tentang gelar, melainkan tentang menolak berhenti bertumbuh. Tahun 2025 ini saya menulis tiga buku, dan yang terakhir kami siapkan berjudul Optimism is Power: Dari Kegaduhan Menuju Inovasi, Hindari Tenggelam Dalam Distraksi.

Namun jika saya harus jujur, bukan buku itu yang membuat saya paling bahagia. Yang membuat saya bertahan adalah keyakinan sederhana: optimisme adalah kekuatan. Sebagai wiraswasta, saya tahu betul rasanya hidup tanpa kepastian. Kadang bahkan bertanya dalam diam, bulan depan makan dari mana? Namun entah bagaimana, optimisme selalu hadir—seolah Tuhan tidak pernah berhenti memberi rezeki, makanan, dan kekuatan kepada umat-Nya.

Jika saya harus merangkum 2025 dalam satu kalimat, maka inilah jawabannya: hidup bisa pahit, tetapi tetap beruntung—asal kita tidak berhenti percaya dan melangkah. Bisnis boleh tersandung. Kepercayaan bisa disalahgunakan. Namun selama nilai dijaga, keluarga saling menguatkan, dan optimisme dirawat, hidup tetap layak diperjuangkan. Inilah Pahit Manis 2025 versi saya. Bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tidak berhenti berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *