Kasus Keracunan Massal di Gubug, Grobogan: Kondisi Pasien Membaik, Investigasi Berjalan
Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan santri di wilayah Gubug, Kabupaten Grobogan kini memasuki fase penanganan intensif. Dengan lonjakan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan, RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug harus bekerja ekstra keras untuk menangani situasi darurat ini.
Tragedi ini diduga berasal dari paket program MBG (Makanan Berkualitas) yang dikonsumsi oleh para santri. Sejumlah besar korban mengalami gejala medis serius seperti mual, muntah, diare, dan dehidrasi. Hal ini menyebabkan kondisi darurat di rumah sakit setempat, sehingga pihak manajemen harus membuka ruang perawatan tambahan.
Ketua Satgas MBG Grobogan, Sugeng Prasetyo, terlihat langsung meninjau kondisi para santri yang sedang menjalani perawatan. Ia berupaya memastikan proses penanganan medis berjalan optimal serta transparan bagi keluarga korban yang merasa cemas.
Pada hari Minggu, 11 Januari 2026 pagi, Sugeng Prasetyo ditemani Sekda Grobogan, Anang Armunanto, menyisir seluruh sudut bangsal perawatan. Data terbaru menyebutkan bahwa sekitar 40 santri dirawat intensif di IGD serta ruang perawatan lantai dua dan tiga. Lonjakan pasien memaksa rumah sakit memfungsikan ruang isolasi sebagai ruang rawat inap darurat.
Sugeng Prasetyo secara personal menyapa para santri guna menggali informasi detail mengenai kronologi dan gejala yang mereka alami. Menurut pengakuan beberapa santri, makanan paket MBG biasanya datang pukul 09.00 WIB, namun kali ini baru tiba sekitar pukul 11.00 WIB siang. Keterlambatan distribusi tersebut disinyalir menjadi faktor utama rusaknya kualitas makanan.
Beberapa santri mengaku langsung menyantap paket tersebut, sementara sebagian lainnya baru mengonsumsinya setelah salat Jumat. Selain masalah waktu, aroma dan rasa menu telur juga dikeluhkan berbeda dari biasanya. Nasi kuning yang menjadi menu utama disebut memiliki tekstur sangat lembap dan lengket pada bagian bawah wadah.
Meski dalam kondisi sulit, Sugeng meminta agar para santri tidak merasa trauma terhadap program MBG. “Jangan sampai trauma. Ke depan, dapur dan seluruh proses MBG akan kami benahi agar lebih baik,” ujarnya saat memberikan semangat kepada korban.
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko, menyatakan bahwa secara umum kondisi para pasien mulai stabil meski beberapa tetap dalam pengawasan. “Sebagian besar sudah membaik, namun masih ada yang dalam observasi. Kami terus memantau perkembangannya,” jelasnya.
Tim gabungan dari Dinkes, Puskesmas, dan SPPI telah bergerak cepat mendatangi SPPG sejak hari Sabtu. Investigasi mendalam dilakukan untuk memetakan kemungkinan adanya pelanggaran SOP dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan di wilayah Gubug.
“Tim juga mengambil sampel menu hari Jumat, yakni nasi kuning, telur dadar, orek tempe, dan abon,” jelas dr Djatmiko terkait proses uji laboratorium. Seluruh sampel makanan tersebut kini telah dikirimkan ke Labkesda untuk diperiksa secara klinis guna mengetahui sumber pasti penyebab keracunan ini.
Hingga Minggu pagi, tercatat ada 83 orang yang masih menjalani rawat inap, sementara total warga terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 600 jiwa. Angka ini masih dinamis karena arus pasien masuk dan pulang di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah Grobogan.
Mayoritas pasien rawat jalan merupakan santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gubug yang mengeluhkan mual, muntah, diare, hingga dehidrasi. Pasien dengan gejala dehidrasi berat segera dirujuk ke beberapa rumah sakit besar termasuk RSUD dr Soedjati Purwodadi untuk penanganan intensif.
Pihak berwenang berjanji akan menuntaskan kasus keracunan ini agar kepercayaan masyarakat terhadap program MBG di Grobogan kembali pulih sepenuhnya. Evaluasi total terhadap vendor dan dapur umum menjadi prioritas utama Satgas agar kejadian memilukan di Kecamatan Gubug ini tidak terulang lagi.











