Gaya Hidup Modern dan Kebutuhan untuk Kembali ke Alam
Di tengah perkembangan teknologi dan kesibukan kehidupan modern, manusia semakin jauh dari alam. Waktu yang terbatas membuat kita sulit menikmati suasana sejuk dan pemandangan hijau yang memanjakan mata. Oleh karena itu, hutan kembali dilihat sebagai ruang terapeutik yang mampu memulihkan kesehatan fisik dan mental.
Salah satu bentuk terapi berbasis alam yang populer adalah forest bathing atau shinrin-yoku, yang berasal dari Jepang. Widya Eka Nugraha, dosen Kedokteran IPB University menjelaskan bahwa terapi ini dilakukan dengan cara berada di hutan, seperti duduk atau berjalan-jalan, menghirup udara segar, menyentuh pohon, hingga melakukan meditasi kesadaran penuh (mindfulness).
“Jadi bukan sekadar datang ke hutan lalu sibuk dengan gawai masing-masing. Intinya adalah mindfulness, hadir dengan segenap perhatian di alam,” ujarnya.
Manfaat Hutan bagi Kesehatan
Hutan memberikan efek positif bagi kesehatan melalui beberapa aspek:
-
Secara Biologis
Pohon-pohon di hutan melepaskan senyawa tertentu ke udara yang akan dihirup oleh manusia. Senyawa ini memberikan efek menenangkan, menurunkan tekanan darah, memperlambat denyut nadi, serta menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol. Beberapa studi juga menemukan peningkatan aktivitas sel-sel sistem imun yang berperan dalam melawan penyakit kronis. -
Secara Psikologis
Manusia secara naluriah memiliki keterikatan dengan alam, sebuah konsep yang kerap disebut sebagai teori “kembali ke alam”. Ketika berada di hutan, banyak orang merasakan sensasi seperti pulang ke rumah. Kondisi ini diyakini dapat mengaktifkan gen-gen tertentu dalam tubuh yang berdampak positif pada kesehatan mental dan fisik. -
Melalui Konsep Eksposom
Lingkungan hutan memberikan rangsangan sensorik yang berbeda dibandingkan perkotaan yang dipenuhi gedung-gedung dan polusi. Sentuhan pada kulit pohon, aroma tanah, hingga suara alam dapat memicu pelepasan endorfin dan neurotransmitter yang membantu meredakan kecemasan serta gejala depresi.
Forest Bathing: Bukan Solusi Tunggal
Menurut Widya, berjalan-jalan ke hutan sebenarnya sudah bisa dianggap sebagai forest bathing. Namun, dalam konteks penelitian, banyak variabel yang dikontrol seperti durasi, lokasi, hingga jenis pohon.
Meski belum ada kesepakatan durasi minimal, banyak studi menggunakan rentang waktu antara 30 menit hingga 24 jam. Jika dianalogikan sebagai olahraga, maka golden time-nya adalah sekitar 30 menit berada di hutan dengan interaksi aktif bersama alam.
Namun, forest bathing bukan solusi tunggal untuk semua kondisi. Pada kasus gangguan mental berat seperti major depressive disorder dengan risiko bunuh diri, terapi ini tidak bisa menggantikan penanganan medis yang komprehensif.
Namun, untuk stres akademik, depresi ringan hingga sedang, serta penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, mandi hutan sangat dianjurkan sebagai terapi pendamping.
Penelitian Lain yang Menjelajahi Manfaat Alam
Penelitian terkait manfaat alam tidak berhenti di hutan. IPB University bersama Fakultas Kedokteran dan bidang Arsitektur Lanskap juga mengembangkan riset agroterapi, yakni melihat dampak tanaman pertanian dan aktivitas berkebun terhadap kesehatan.
Hasil awal menunjukkan adanya efek positif, seperti penurunan tekanan darah dan perbaikan kondisi psikologis, meski penelitian lanjutan dengan partisipan yang lebih beragam masih dibutuhkan.
Kesimpulan
Di beberapa negara maju, konsep forest bathing bahkan telah masuk ke dalam praktik medis sebagai terapi non-farmakologis. Dokter tidak hanya meresepkan obat, tetapi juga meresepkan kunjungan rutin ke hutan. Konsep ini memungkinkan dukungan dari lingkungan kerja pasien agar terapi bisa dijalani secara konsisten.
“Di Indonesia, praktik ini masih bersifat individual dan belum banyak dieksplorasi,” kata Widya.
Kedepannya dia berharap forest bathing bisa semakin dikenal dan diterapkan secara luas, mengingat potensinya yang besar sebagai terapi alami untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.











