JAKARTA, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) memiliki target ambisius untuk meningkatkan nilai ekspor alas kaki nasional. Dalam tiga tahun ke depan, Aprisindo memprediksi bahwa ekspor sepatu dan alas kaki Indonesia bisa mencapai 10 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 169 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.900 per dolar AS).
Realisasi ekspor alas kaki hingga November 2025 tercatat sebesar 7,2 miliar dolar AS, naik 13,3 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Target yang ditetapkan oleh Aprisindo adalah mencapai 7,8 miliar hingga 7,9 miliar dolar AS pada akhir 2025.
Ketua Dewan Pembina Aprisindo, Eddy Widjanarko, menyatakan bahwa optimisme ini didasari oleh adanya perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa, yaitu Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Perjanjian tersebut diharapkan dapat membuka peluang pasar baru di Eropa dan mendukung pertumbuhan industri alas kaki nasional.
“Kami memiliki cita-cita dan yakin akan berhasil mencapai minimal 10 miliar dolar AS pada 2028 atau maksimal 2029,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Untuk itu, Aprisindo berharap IEU-CEPA segera diratifikasi sebelum 2027 agar bisa berlaku secara resmi di Indonesia dan Uni Eropa. Selain itu, kondisi ekonomi nasional yang stabil juga menjadi faktor penting dalam mendukung pengembangan industri ini.
Devi Kusumaningtyas, Ketua Bidang Perdagangan dan Perundingan Internasional Aprisindo, menekankan pentingnya penerapan IEU-CEPA secepatnya. Saat ini, ekspor Indonesia ke Uni Eropa masih menggunakan skema Generalized System of Preferences (GSP), yang memberikan tarif bea masuk lebih rendah. Namun, Indonesia akan keluar dari skema GSP pada Januari 2027 karena status ekonominya yang sudah dianggap sebagai negara berpenghasilan menengah atas.
Tarif ekspor sepatu ke Uni Eropa saat ini berkisar antara 5 hingga 12 persen. Jika IEU-CEPA belum diratifikasi, tarif tersebut bisa meningkat. “Kami terus mengajak pemerintah agar tidak menganggap proses ini telah selesai. Jika dianalogikan dengan pertandingan sepak bola, saat ini Indonesia baru berada di babak pertama. Babak kedua yang menentukan adalah ratifikasi perjanjian tersebut,” kata Devi.
Dengan ratifikasi IEU-CEPA, industri alas kaki Indonesia diharapkan bisa menikmati tarif nol persen untuk ekspor ke Uni Eropa. Hal ini bisa menjadi alternatif pasar ekspor di tengah melemahnya permintaan dari negara-negara lain seperti Amerika Serikat.
Target 10 miliar dolar AS ini merupakan hasil dari Musyawarah Nasional (Munas) XI Aprisindo.
Pengurus Baru
Pada Munas ini, struktur kepengurusan Aprisindo periode 2025–2030 ditetapkan. Eddy Widjanarko kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Aprisindo, sedangkan Anton J. Supit menjadi Ketua Umum dan Yoseph Billie Dosiwoda sebagai Sekretaris Jenderal.
Susunan Dewan Pengurus Nasional (DPN) Aprisindo Pusat 2025–2030 adalah sebagai berikut:
Dewan Pembina:
• Ketua: Eddy Widjanarko (merangkap Bidang Kerja Sama Internasional)
• Sekretaris: Lany Sulaiman
Anggota Dewan Pembina:
1. Hendrik Sasmito
2. Tjandra Suwarto
3. Eddie Tseng
Dewan Pengurus Nasional Pusat:
• Ketua Umum: Anton J. Supit
• Wakil Ketua Umum: Harijanto
• Sekretaris Jenderal: Yoseph Billie Dosiwoda
• Bendahara Umum: Tati Ramlie
• Wakil Bendahara Umum: Jenny Rais
Bidang-bidang Dewan Pengurus Pusat:
• Ketua Bidang Rantai Pasok (Supply Chain) dalam dan luar negeri: Budiarto Tjandra
• Ketua Bidang Perdagangan dan Perundingan Internasional: Devi Kusumaningtyas
• Ketua Bidang Dalam Negeri, UMKM/IKM: Irvan Kristanto
• Ketua Bidang Legal dan Ketenagakerjaan: Bernard











