"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Opini  

Kepemimpinan adalah tentang pengaruh

Peran Perempuan Muda dalam Membangun Kepribadian dan Budaya

Menjadi perempuan muda di era sekarang adalah kesempatan yang sangat berharga. Banyak ruang yang tersedia untuk mencoba, gagal, belajar, dan bangkit kembali. Pandangan ini dinyatakan oleh Thalita Humairah, seorang perempuan muda yang memaknai dirinya sebagai bagian dari perempuan yang tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga berani mengambil peran sebagai perempuan yang berdaya, berwawasan, dan memberi manfaat.

“Nilai seorang perempuan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, melainkan pada sejauh mana kehadiran saya mampu memberi arti bagi orang lain,” ujar gadis kelahiran Samarinda, 3 Juni 2006 ini. Bagi Talitha, hidup adalah proses panjang yang melibatkan berbagai fase seperti lahir, tumbuh, belajar mengenal dunia, bersosialisasi, serta mengalami perubahan diri hingga dihadapkan pada berbagai pilihan hidup.

Dalam teori Psikologi Perkembangan Psikososial yang ia pelajari, masa muda merupakan fase penting pencarian identitas. Ketika individu belajar memahami siapa dirinya dan peran apa yang ingin ia jalani dalam kehidupan. Di tengah semua kemungkinan itu, ia memilih untuk menjalani peran dengan kesadaran dan keberanian untuk bisa berdaya dan berkarya.

“Saya percaya, perempuan muda bukan hanya tentang usia, tetapi tentang kemauan untuk bertumbuh, berpikir, dan berkontribusi,” jelasnya. Menurut Talitha, menjadi perempuan muda adalah menjalani setiap fase hidup dengan tanggung jawab, harapan, dan keyakinan bahwa dirinya mampu menjadi pribadi yang bermakna dan bermanfaat, bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Nilai Hidup yang Selalu Dijaga

Nilai hidup yang paling ia pegang adalah selalu bersangka baik. Entah itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari, di saat menyelipkan doa disujud maupun tangisan, di saat ia berada dalam kondisi yang bahagia maupun sedih, di saat ia mampu berjalan dengan mudah dan mulus maupun menghadapi kerikil-kerikil dan batu, di saat doa-doa yang ia panjatkan dijawab maupun diganti dengan yang lebih baik dari-Nya.

Dengan selalu percaya dan bersangka baik, selalu mengambil hikmah di tiap-tiap kejadian dan keajaiban, serta selalu bersyukur atas segala hal yang ditentukan dan diberikan dari-Nya. Hal ini membentuk Talitha sekarang. Dalam setiap pilihan dan keputusan, selalu melibatkan Maha Pemilik Alam Semesta ini, Allah Subhannahu Wa Ta’ala, yang mengendalikan dan mengizinkan semuanya terjadi.

Pilihan Jurusan Psikologi

Jika ditanya tentang mengapa memilih jurusan psikologi, jawabannya sederhana. Ia ingin ilmu yang ia punya bisa bermanfaat untuk orang banyak dan masyarakat. Ia ingin bisa membantu banyak orang dari kemampuan dan ilmu yang bisa ia dapatkan, pelajari, dan berikan. Jurusan psikologi awalnya bukan jurusan maupun instansi utama yang ia pilih, bahkan menjadi last option. Tetapi Allah itu memang selalu tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.

Dalam perjalanan menjadi mahasiswi psikologi, setiap teori, pelajaran, mata kuliah, praktikum yang ia pelajari, setiap saat itu pula ia jatuh hati berkali-kali tentang psikologi. Bagaimana ia bisa memahami diri sendiri, memahami manusia secara utuh, sebuah keadaan dan mengajarkan empati serta kepekaan. Di situ pula, ia menemukan keretakan terdahulu dalam diri yang disembuhkan dengan beriringan mempelajari ilmu ini.

Tantangan dalam Masa Sekolah

Tantangan yang paling berat pada masa sekolah menurut Talitha adalah pada saat dihadapkan pilihan antara prestasi di luar sekolah, organisasi, pekerjaan maupun akademik. Dari tantangan keadaan tersebut jua lah yang menempatkannya untuk bisa belajar memanajemen waktu dan segala urusan, mengurutkan prioritas dalam keadaan tertentu, dan terkadang mengorbankan satu sisi.

Ia mengikuti kedutaan daerah yaitu Nanang Galuh Hulu Sungai Tengah (HST) pada saat masih dibangku kelas XI SMA, dan menjadi juara 1 Galuh Hulu Sungai Tengah (HST) 2023. Baginya ini bukanlah semata-mata penyelempangan dalam satu malam saja, melainkan kontribusi dalam satu tahun ke depan dan tanggung jawab untuk bertanding lagi di tingkat provinsi.

Kemudian, diberikan amanah lagi dengan juara 1 Galuh Kebudayaan Kalimantan Selatan 2023 yang saat itu ia masih duduk di kelas XII SMA dan berlanjut lagi dengan kontribusi satu tahun di tingkat provinsi. “Saya menyelesaikan dan survive dengan mencoba belajar sambil bertatih-tatih menyeimbangkan segala hal, prestasi, organisasi, dan akademik,” katanya.

Pengalaman Organisasi dan Kepemimpinan

Duduk di bangku kelas 12 SMA yang dua tahun berturut selalu juara umum di jurusan, ia juga harus fokus untuk belajar lebih giat masuk perguruan tinggi dan di sisi lain mempunyai amanah untuk berkontribusi di daerah sebagai Galuh yang selalu melibatkannya bolak balik antar daerah yang cukup jauh dan memakan waktu. Dan selain itu pula, dari kelas 11 SMA sudah aktif di dunia kerja freelance.

Dalam proses pembelajaran tersebut juga kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, namun segala lelah, tantangan dan dinamikanya yang membentuk dan menempa dirinya sekarang. Ia belajar tentang disiplin, komitmen, ketahanan diri, dan tanggung jawab atas setiap amanah yang diberikan dan akan terus belajar dan belajar lagi. Ia akan selalu bangga atas semua pengalaman tersebut di usia muda.

Peran dalam Kepemimpinan

Dari seluruh pengalaman organisasi yang ia jalani, peran yang paling membentuk jiwa kepemimpinan adalah keterlibatan aktif dalam organisasi dan kegiatan representatif yang menuntut tanggung jawab berkelanjutan, konsistensi, serta komitmen jangka panjang. Dalam peran tersebut, ia tidak hanya dituntut untuk hadir secara fisik, tetapi juga mampu membawa nilai, sikap dan tanggung jawab dalam setiap tindakan dan keputusan yang ia ambil.

Pengalaman ini mengajarkan, kepemimpinan bukan tentang posisi, melainkan tentang kesadaran peran dan dampak yang dihasilkan. Melalui peran tersebut, ia belajar mengelola waktu di tengah berbagai tanggung jawab, menjaga komitmen meskipun berada dalam tekanan, serta mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.

Menjaga Budaya Lokal

Sebagai sosok yang telah menjabat amanah Puteri dan Galuh Kebudayaan Kalsel 2023, membawa Talitha pada perjalanan panjang untuk mengenal dan kemudian mencintai kebudayaan itu sendiri. Awalnya, ia adalah anak muda yang tidak terlalu kaya wawasan budaya, namun dari keingintahuan, pengalaman, pembelajaran, dan keterlibatan yang ia jalani, perlahan ia menyadari bahwa budaya yang kita miliki bukanlah sesuatu yang sederhana.

Budaya kita sangat kaya, beragam, dan sarat nilai, mengandung sejarah, identitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kesadaran inilah yang menumbuhkan rasa hormat dan cinta dalam diri ia, bahwa kebudayaan bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga dijaga dan dirawat agar tidak tergerus oleh waktu dan perubahan zaman.

Peran Generasi Muda dalam Budaya

Di tangan generasi mudalah, budaya dapat terus hidup, berkembang, dan tetap relevan. Mereka memegang peran penting untuk melanjutkan harta karun berharga yang telah diwariskan para leluhur, bukan dengan cara yang kaku, tetapi dengan pemahaman, kesadaran, dan rasa cinta yang tumbuh dari dalam diri.

Talitha melihat generasi muda sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan. Dengan kreativitas, keterbukaan, dan kemampuan beradaptasi, generasi muda memiliki potensi besar untuk menghadirkan budaya dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini, tanpa menghilangkan esensi dan nilai luhurnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *