"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Inspiratif! Budi Rahayu di Klaten Rawat Pasien Tanpa Bayar

Kehidupan Titik Budi Rahayu, Ibu Rumah Tangga yang Menjadi Penyelamat Orang Sakit

Di Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Klaten, Titik Budi Rahayu (48 tahun) menjalani kehidupan sederhana namun penuh makna. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia tidak memiliki latar belakang medis profesional, tetapi hatinya terpanggil untuk merawat orang-orang yang sakit parah dan terlantar di rumahnya sendiri.

Titik awalnya tidak pernah membayangkan dirinya menjadi tempat perawatan bagi pasien-pasien yang tidak memiliki keluarga atau biaya perawatan. Namun, melihat banyaknya pasien yang tidak tertampung di rumah sakit setelah masa perawatan berakhir, ia memutuskan untuk mengambil tindakan.

Rumah sederhananya, meskipun bukan fasilitas kesehatan megah, menjadi tempat yang penuh rasa empati dan kasih sayang. Di dalamnya, ia memberikan tempat bagi pasien yang tidak lagi bisa diterima oleh sistem kesehatan. Meski tidak menerima bayaran, Titik tetap setia merawat mereka karena merasa ini adalah panggilan hidupnya.

Latar Belakang Kemanusiaan yang Kuat

Empati Titik bukan datang tiba-tiba, melainkan tumbuh dari pengalaman merawat orang-orang terdekatnya sendiri. Ia pernah merawat saudara yang terkena kanker payudara di rumah sakit dan di rumah hingga sang saudara meninggal. Pengalaman itu membuatnya paham betul bagaimana menangani pasien dengan sabar dan penuh perhatian.

Dalam cerita yang ia sampaikan, dokter pernah menyemangatinya untuk menjadi pekerja sosial pendamping pasien karena kemampuannya menangani pasien dengan penuh kesabaran. “Saya dianggap fasih, terus dokter bilang jadi sosial worker itu penting tapi tidak ada yang gaji dan bayar,” tutur Titik.

Karena itu, ia pun secara sadar mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi pasien yang sangat membutuhkan. Pengalaman tersebut membuatnya semakin paham bahwa merawat orang lain bukan sekadar tugas, melainkan bentuk pengabdian terhadap sesama.

Rumah yang Disulap Jadi Tempat Perawatan

Rumah Titik bukanlah bangunan fasilitas kesehatan dengan peralatan lengkap, tetapi ruang sederhana yang ia sulap menjadi area perawatan. Bagian samping rumah induk difungsikan sebagai tempat pasien tinggal, lengkap dengan beberapa kamar tidur yang difasilitasi ranjang.

Meski bangunan tampak sederhana dan catnya mulai kusam, itu tidak mengurangi perhatian Titik dalam merawat pasiennya. Teras rumah juga dipakai untuk menyimpan kursi roda dan tabung oksigen bagi pasien. Halaman luas di depan rumah memberi ruang bagi pasien untuk bergerak atau ditemani oleh keluarga ketika berkunjung.

Semua fasilitas itu menunjukkan bagaimana satu rumah sederhana menjadi tempat penuh harapan bagi para pasien.

Ragam Kondisi Pasien yang Dirawat

Di rumah Titik, pasien yang dirawat datang dengan kondisi yang berbeda-beda, ada ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), penyintas kanker, pasien stroke, hingga individu terlantar yang dibuang di jalan. Titik menampung pasien yang sudah tidak tertangani lagi di rumah sakit karena waktunya sudah habis atau tidak ada keluarga yang sanggup merawat.

Sejak 2021, rumahnya sudah menjadi tempat bagi sekitar 12 pasien, dan dari jumlah itu beberapa di antaranya sudah meninggal dunia dalam perawatan. Pasien itu berasal dari berbagai latar belakang sakit parah, beberapa ditemukan terlantar di area umum sebelum dibawa ke RS dan kemudian ke rumah Titik.

Semuanya dirawat secara bertahap dengan penuh kasih sayang, meskipun fasilitasnya sederhana.

Peran Keluarga dalam Perawatan

Perjuangan Titik merawat orang sakit tidak pernah berjalan sendiri, tetapi bersama keluarganya. Suami dan ketiga anaknya yang sedang mondok di pesantren turut membantu merawat pasien saat pulang ke rumah. Anak-anaknya ikut menyuapi pasien yang membutuhkan dan membantu tugas perawatan saat mereka berada di rumah.

Ketika Titik sedang melakukan aktivitas di luar, suami atau anak-anaknya bahkan teman yang dimintai bantuan siap menjaga pasien yang ada. Ini memperlihatkan bagaimana perawatan bukan sekadar tugas satu orang, tapi kerja sama keluarga penuh rasa cinta.

Keterlibatan keluarga ini juga semakin memperkokoh komitmen Titik dalam membina rumah sebagai tempat perawatan yang nyaman.

Sumber Pendanaan yang Terusik

Aktivitas merawat pasien secara intens tentu membutuhkan biaya harian seperti makanan, pampers, tabung oksigen, dan kebutuhan medis lain. Untuk itu, Titik tidak mengandalkan satu sumber saja, tetapi berasal dari kocek pribadinya dan sumbangan donatur yang peduli.

Selain itu, terkadang ada dukungan dari pemerintah desa atau masyarakat sekitar yang memberi bantuan ambulans, pakaian, dan pampers. Namun dukungan ini tidak selalu konsisten, apalagi ketika pasien berasal dari luar desa yang sudah lama tidak terkontak.

“Ada pemerintah desa yang peduli, ada yang support ambulans, bahkan ada yang support pakaian dan pampers… tapi ada yang tidak,” ujar Titik terkait dinamika dukungan tersebut. Walau begitu, warga setempat umumnya bersikap baik dan tidak pernah komplain terhadap kegiatan sosialnya.

Makna dan Motivasi di Balik Aksi Sosialnya

Bagi Titik, merawat orang sakit adalah bentuk pengabdian dan rasa syukur atas hidup yang diberikan oleh Tuhan. Ia tidak mengharap bayaran materi, melainkan merasa bahagia bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Hal ini senada dengan persepsi suaminya, Mahmudi (47), bahwa kehidupan harus bermanfaat bagi sesama manusia. “Ya nyikapi hidup saja, nikmat itu Allah apa yang ada disyukuri, nikmat Allah yang memberi. Bagi saya, hidup itu apa yang dicari selain hidup harus bermanfaat bagi sesama,” ungkap suami Titik tentang filosofi di balik perbuatan sosial mereka.

Semangat ini menjadi kekuatan yang terus membuat Titik dan keluarganya konsisten di tengah tantangan merawat pasien.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *