"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Persaingan Ketat, Nasabah Aktif Bank Digital di Bawah 50%

Tingkat Keaktifan Nasabah Bank Digital Masih Rendah

Di tengah pertumbuhan pesat bank digital di Indonesia, ternyata tingkat keaktifan nasabah masih tergolong rendah. Banyak bank digital mencatat bahwa hanya sebagian kecil dari total nasabah yang benar-benar aktif bertransaksi. Hal ini menjadi tantangan bagi industri perbankan digital dalam memastikan pengguna tidak hanya mendaftar, tetapi juga menjadikan layanan mereka sebagai bagian dari kehidupan finansial harian.

Krom Bank: Persentase Nasabah Aktif Mencapai 40-45%

Salah satu contoh adalah PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI). Direktur Utama Krom Bank, Anton Hermawan, mengungkapkan bahwa hingga akhir 2025, tingkat keaktifan nasabah Krom Bank mencapai sekitar 40-45%. Angka ini menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya mendaftar, tetapi juga secara rutin melakukan transaksi dalam jangka waktu tertentu.

Anton menjelaskan bahwa pertumbuhan nasabah aktif Krom Bank terus meningkat, bahkan melampaui laju pertumbuhan total pendaftar. Penambahan fitur dan produk yang semakin lengkap turut mendukung peningkatan frekuensi transaksi. Selain itu, program promo dan loyalitas yang konsisten juga menjadi strategi untuk menjaga keaktifan pengguna.

“Fokus kami adalah menghadirkan pengalaman yang simpel, relevan, dan memberikan nilai tambah sejak transaksi pertama,” ujarnya. Strategi seperti insentif dan referral juga digunakan untuk mendorong nasabah eksisting agar terus bertransaksi dan membantu akuisisi pengguna baru.

Allo Bank: Tingkat Keaktifan Nasabah Berada di Kisaran 35%

Sementara itu, PT Allo Bank Indonesia Tbk memiliki sekitar 4,9 juta nasabah aktif dari total 14 juta nasabah. Artinya, hanya sekitar 35% dari total nasabah yang aktif bertransaksi. Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menyebutkan bahwa kondisi ini relatif sehat di tengah fenomena industri bank digital, di mana pertumbuhan jumlah rekening sering kali lebih cepat dibandingkan tingkat penggunaan aktif.

Menurut Destya, banyak nasabah membuka rekening karena promo atau insentif, namun belum langsung menjadikannya sebagai akun transaksi utama. Oleh karena itu, Allo Bank lebih menekankan pada metrik active users dan nasabah dengan transaksi rutin.

Frekuensi transaksi rata-rata nasabah aktif Allo Bank berkisar antara 6–12 transaksi per bulan, termasuk transfer, pembayaran QRIS, top-up, dan transaksi di merchant dalam ekosistem Allo. Peningkatan ini menunjukkan tren yang terus membaik seiring dengan penguatan ekosistem dan pengembangan fitur transaksi.

Strategi berbasis data juga digunakan untuk meningkatkan aktivasi dan reaktivasi nasabah. Pendekatan ini mencakup segmentasi berdasarkan perilaku transaksi, personalisasi penawaran, serta penguatan integrasi dengan merchant. Selain itu, penyederhanaan alur transaksi dan peningkatan kecepatan aplikasi juga menjadi fokus.

Peran Engagement dalam Model Bisnis Bank Digital

Destya menegaskan bahwa dalam model bisnis bank digital, tingkat engagement memiliki peran yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar jumlah akun. Semakin tinggi frekuensi transaksi, semakin besar peluang monetisasi dan retensi jangka panjang.

Selain itu, Allo Bank juga memanfaatkan strategi cross-selling produk simpanan dan kredit, seperti deposito digital dan PayLater, untuk mendorong keaktifan nasabah. Bagi Allo Bank, aktivasi bukan hanya soal promo, tetapi juga relevansi dan kenyamanan penggunaan.

Kritik dan Tantangan dari Segi Ekonomi

Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai bahwa rata-rata tingkat keaktifan nasabah bank digital yang masih di bawah 50% mencerminkan karakteristik basis nasabah sekaligus kondisi ekonomi rumah tangga saat ini. Mayoritas nasabah bank digital masih berasal dari segmen ritel kecil, yang sangat bergantung pada daya beli dan kondisi keuangan.

Piter menjelaskan bahwa jika kondisi ekonomi kelompok bawah sedang tertekan, maka tingkat keaktifan nasabah akan rendah. Ia menilai bahwa rendahnya keaktifan nasabah tidak serta-merta menjadi beban besar bagi bank digital, tetapi dampaknya lebih terasa pada kemampuan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), yang menjadi tantangan utama.

Strategi untuk Meningkatkan Basis Pasar

Ke depan, Piter menekankan bahwa bank digital tidak bisa memaksa nasabah untuk aktif bertransaksi, karena hal itu sangat bergantung pada kondisi keuangan masing-masing individu. Strategi yang lebih realistis adalah memperluas basis pasar.

Saat ini, pasar bank digital masih terkonsentrasi pada segmen Gen Z dan milenial muda, yang secara karakteristik belum mapan secara finansial dan memiliki loyalitas rendah. Oleh karena itu, ia mendorong bank digital untuk mulai memperluas target pasar ke segmen yang lebih mapan, seperti milenial senior hingga Gen X, yang memiliki pendapatan lebih stabil dan potensi dana lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *