Tahun Kuda Api 2026: Peluang dan Tantangan di Pasar Modal Indonesia
Tahun 2026, yang dikenal sebagai Tahun Kuda Api dalam kalender tradisional Tiongkok, diprediksi akan menjadi periode yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi pasar modal Indonesia. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan cenderung volatil pada paruh pertama tahun ini. Namun, beberapa sektor saham tetap menunjukkan potensi untuk menghasilkan keuntungan.
Founder Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang, menjelaskan bahwa Tahun Kuda Api membawa dua energi sekaligus: optimisme terhadap peluang pasar, tetapi juga kecenderungan investor menjadi tidak sabar terhadap hasil. Ia menilai bahwa periode ini sangat krusial untuk memperkuat disiplin pengelolaan aset.
“Tahun ini adalah tahun ketidakstabilan dan tantangan. Jadi atur cashflow, jangan semua all in. Tahun ini bukan tentang kecepatan, tapi tentang kestabilan,” ujarnya dalam acara BRI Danareksa Outlook 2026.
Seberapa Besar Potensi Sektor-Saham?
Yulius kemudian menguraikan sektor-sektor yang dinilai berpotensi menonjol. Ia menilai sektor dengan elemen kayu, tanah, air, dan api berpeluang bergerak menguat, sementara sektor dengan elemen logam diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar. Analogi ini mengacu pada sifat elemen itu sendiri. Dalam Tahun Kuda Api, unsur api dianggap dominan sehingga berpotensi “membakar” logam. Konsekuensinya, sektor seperti otomotif, elektronik, komputer, dan mesin dinilai bakal menghadapi tantangan serius sepanjang tahun.
“Pada saat sebuah pasar mengalami ketidakseimbangan, tahun ini contohnya, api kuat akan membakar logam. Jadi lini bisnis logam akan sangat terpengaruh tahun ini. Tantangan harus bisa dihadapi dengan ketahanan atau strategi,” ujarnya.
Sebaliknya, sektor berelemen air disebut memiliki peluang lebih besar. Kategori ini mencakup bisnis konsumer, pariwisata, transportasi, perikanan, perkapalan, media online, hingga jasa laundry. Adapun elemen kayu meliputi industri tekstil dan fashion, layanan kesehatan, kehutanan dan perkebunan, percetakan, hingga logistik. Sementara itu, elemen tanah mencakup properti, infrastruktur, konstruksi, perbankan, serta asuransi tradisional—semuanya diramal berpotensi tampil lebih kuat dibanding sektor lain.
“Saham dan kripto akan berpotensi koreksi. Tetapi kripto sendiri saya tidak berpikir akan ada bullish. Kemudian emas berpotensi masih meningkat,” kata Yulius.
Pergerakan IHSG di Tengah Fluktuasi Pasar
Gambaran astrologis tersebut muncul di tengah kondisi pasar yang memang sedang bergerak fluktuatif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada Jumat (13/2/2026), IHSG tercatat parkir di level 8.212,27 atau turun 0,64% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 8.170,59 hingga 8.251,99.
Nilai transaksi mencapai Rp23,37 triliun dengan volume 45,79 miliar saham. Sebanyak 429 saham melemah, 282 menguat, dan 247 stagnan, komposisi yang mencerminkan sentimen pasar cenderung negatif sekaligus selektif.
Kondisi ini, dalam pandangan Yulius, sejalan dengan karakter energi Tahun Kuda Api yang identik dengan dinamika cepat dan ketidakseimbangan jangka pendek. Karena itu, ia kembali menegaskan bahwa volatilitas masih berpotensi mendominasi pergerakan IHSG setidaknya hingga pertengahan tahun.

Proyeksi Positif dari Mirae Asset
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kinerja pasar saham Indonesia masih berpeluang positif pada Tahun Kuda Api 2026. Bahkan, Mirae Asset menargetkan IHSG dapat mencapai level 10.500.
Menurutnya, peluang tersebut ditopang oleh harapan stabilitas makroekonomi serta perbaikan kinerja emiten. Mirae Asset memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh hingga 5,3% pada 2026. “Terdapat pemulihan ekonomi lebih cepat sejak kuartal IV/2025, juga kuartal I/2026 yang diakselerasi oleh tren musiman seperti Ramadan dan Lebaran. Ini kemudian mendorong PDB yang lebih tinggi serta performa emiten,” ujarnya dalam paparan outlook Desember 2025.
Target itu juga ditopang proyeksi kebijakan moneter global yang lebih longgar. Ia memperkirakan Federal Reserve masih memiliki ruang menurunkan suku bunga setidaknya dua kali pada 2026, yang pada gilirannya membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuannya.
Sektor yang Dinilai Menjanjikan
Selain faktor likuiditas global, pertumbuhan kredit domestik juga dinilai menjadi katalis penting. Mirae Asset memproyeksikan kredit dapat tumbuh hingga 10% pada 2026. Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan eksternal berupa fluktuasi nilai tukar rupiah yang dapat memengaruhi pergerakan pasar saham.
Senior Research Analyst Mirae Asset, Muhammad Farras Farhan, menyebut penguatan IHSG berpotensi didorong saham sektor perbankan dan konglomerasi. Menurutnya, kombinasi pertumbuhan ekonomi dan tren penguatan saham grup besar masih akan menjadi penopang utama indeks.
Dari sisi pilihan saham, Mirae Asset menilai sejumlah emiten memiliki prospek menarik pada 2026. Saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) diproyeksikan memiliki lintasan pertumbuhan laba per saham (EPS) paling kuat dengan valuasi relatif menarik, sehingga masuk kategori pilihan utama berpotensi tinggi.
Di sisi lain, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dinilai tetap menarik namun berisiko lebih tinggi. Saham ini sempat mencatat lonjakan EPS hingga 1.008% sebelum turun 75%, mencerminkan volatilitas besar sekaligus risiko normalisasi laba akibat valuasi yang dinilai terlalu tinggi serta penurunan return on equity (ROE).
Untuk profil lebih defensif, Mirae Asset menyoroti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yang dinilai menawarkan pertumbuhan EPS stabil dan ROE kuat secara konsisten. Adapun PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dipandang memiliki peluang pemulihan karena valuasinya masih relatif murah, meski saat ini EPS dan ROE masih lemah.











