"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Pertumbuhan Laba Bank KBMI 3: Siapa yang Paling Bersinar?



JAKARTA – Berbeda dengan bank-bank besar di Indonesia, kinerja bank yang masuk dalam kelompok KBMI 3 terlihat cukup beragam pada tahun 2025. Beberapa di antaranya berhasil mencatatkan pertumbuhan dua digit.

Selama tahun 2025, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,56 triliun. Angka ini meningkat 8,02% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan perolehan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 7 triliun.

BSI tercatat cukup agresif, terutama dengan pengembangan aplikasi terbarunya Byond. Peningkatan pendapatan berbasis fee (fee based income/FBI) menjadi pendorong utama kinerja laba BSI. Pendapatan berbasis komisi melonjak 25,06% yoy menjadi Rp 6,89 triliun, dibandingkan Rp 5,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa kinerja BSI yang solid juga didorong oleh optimalisasi dual license yang dimiliki Perseroan. BSI memiliki lisensi sebagai bank syariah dengan unique selling proposition Islamic ecosystem, termasuk ekosistem haji dan izin sebagai bullion bank.

“Tahun ini kami melakukan sosialisasi Tabungan Haji kepada pegawai negeri di daerah dan hasilnya signifikan untuk peningkatan DPK terutama dari Tabungan Haji yang tumbuh lebih dari 10%,” ujar Ade saat paparan kinerja perseroan beberapa waktu lalu.

Jumlah rekening Tabungan Haji telah mencapai di atas 6 juta. Selain itu, terdapat penambahan jumlah nasabah prioritas sebesar 17,30% (yoy).

BSI juga optimistis mampu mencatat pertumbuhan kinerja double digit pada 2026, baik dari sisi pembiayaan, dana pihak ketiga (DPK), maupun profitabilitas.

“Optimisme ini ditopang oleh kondisi likuiditas yang relatif terjaga, penguatan ekosistem syariah, serta peluang bisnis emas yang dinilai semakin prospektif,” imbuhnya.

Di sisi lain, ada bank milik investor asal Singapura, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), yang menyusul dengan laba bersih senilai Rp 5,1 triliun, tumbuh 4%. Pertumbuhan ini terutama didukung kenaikan pendapatan operasional sebesar 10% menjadi Rp 13,1 triliun.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja menyampaikan pihaknya tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan pengelolaan risiko yang prudent.

“Sepanjang tahun 2025, Bank tetap mampu menjaga kinerja yang solid di tengah dinamika makroekonomi. Penguatan dana pihak ketiga dan kualitas aset yang terjaga menjadi fondasi utama dalam memperkuat keberlanjutan kinerja Bank ke depan,” ujar Parwati.

Sementara itu, PT Bank Permata Tbk (BNLI) membukukan laba bersih sebesar Rp 3,58 triliun pada Desember 2025 atau naik tipis 0,59% yoy dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,56 triliun. Salah satu pendorongnya datang dari total pendapatan Permata Bank yang naik 3,8% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 12,6 triliun. Kenaikan ini terutama didorong lonjakan pendapatan non-bunga sebesar 34,1% yoy menjadi Rp 2,6 triliun. Sementara itu, laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 4,7%.

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan kinerja tersebut mencerminkan fundamental bank yang tetap resilien di tengah dinamika ekonomi dan industri perbankan sepanjang 2025.

Bank Permata terus menjaga disiplin manajemen risiko serta fokus pada kebutuhan nasabah untuk mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan.

“Kinerja kami mencerminkan fundamental yang resilien, terlihat dari pertumbuhan pendapatan, kualitas aset yang terjaga, serta komitmen untuk terus memperkuat kepercayaan nasabah,” kata Meliza.

Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) mengantongi laba bersih sebesar Rp 3,5 triliun, tumbuh 16,4% secara tahunan. Capaian ini didorong oleh stabilnya biaya dana dan pendapatan bunga yang melonjak.

Tahun lalu, BTN mengantongi pendapatan bunga bersih sebesar Rp 18,4 triliun, melonjak 57,5% yoy. Peningkatan ini pada akhirnya mampu meredam dampak dari penurunan pendapatan nonbunga sebesar 9,5% yoy menjadi Rp 4,1 triliun dan lonjakan biaya provisi hingga 205,1% yoy menjadi Rp 6,17 triliun.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN berhasil memperkuat profitabilitas dengan memperbaiki proses bisnis di sisi penyaluran kredit dan pengelolaan portofolio. Perbaikan tersebut menghasilkan pertumbuhan lebih cepat, serta upaya yang konsisten dalam memperoleh pendanaan berbiaya murah.

Di tahun ini BTN yakin bottom line akan lebih moncer. Nixon sebelumnya menuturkan, laba bersih ditargetkan tumbuh sekitar 20%-22% tahun ini, didorong tuntasnya penyelesaian NPL dari warisan masa lalu.

PT Bank Danamon Indonesia (BDMN) membukukan laba bersih secara konsolidasian sebesar Rp4 triliun pada 2025, meningkat 14%. Adapun laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP konsolidasian tercatat sebesar Rp9,6 triliun tumbuh 4% yoy dibandingkan tahun sebelumnya.

Chief Financial Officer Danamon Theresia Adriana menyampaikan, raihan laba tersebut mencerminkan pertumbuhan pendapatan operasional yang solid.

“Pertumbuhan laba bersih Bank Danamon ditopang oleh peningkatan pendapatan, pengelolaan biaya yang baik, serta didukung perbaikan pada biaya kredit atau cost of credit sebesar 10% yoy,” kata Theresia.

Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas menilai, bank-bank di jajaran KBMI 3 berpotensi menjadi mesin pertumbuhan yang konsisten dan relatif stabil karena memiliki model bisnis yang lebih fokus, adaptif, dan dekat dengan sektor riil.

“Misal BBTN dengan fokus di perumahan, BRIS di ekosistem halal dan konsumer syariah dan BNGA dan BDMN di segmen ritel, konsumer dan korporasi menengah dan MEGA di konglomerasi,” kata Yaki.

Yaki menyarankan, secara selektif investor bisa melihat saham BBTN BNGA BRIS, saham-saham ini dinilai bisa menjadi pilihan.

Yaki juga turut merekomendasikan saham BBTN dengan trading buy TP Rp 1.450, BNGA trading buy TP Rp 1.920, BDMN trading buy TP Rp 2.850, dan BRIS trading buy TP Rp 2.560 per saham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *