"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Mengukur Peluang Serapan Pasar Sukuk Ritel SR024



JAKARTA — Peluang serapan pasar terhadap Sukuk Ritel perdana 2026, seri SR024, masih terbuka. Pertumbuhan jumlah investor ritel di pasar modal dan masa penawaran yang lebih panjang diperkirakan akan mendorong produk ini laris manis di pasaran.

Ramdhan Ario Maruto, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa pertumbuhan jumlah investor ritel menjadi salah satu sentimen positif yang mendorong perkembangan pasar SUN ritel dalam negeri. Hal ini menunjukkan adanya minat yang kuat dari para investor untuk berinvestasi dalam instrumen keuangan yang aman dan menguntungkan.

Selain itu, SR024 sebagai sukuk ritel perdana 2026 memiliki masa penawaran terpanjang pada tahun ini. Penawaran dilakukan sebelum hingga setelah Lebaran Idul Fitri. Menurut Ramdhan, hal ini dinilai memperluas peluang serapan pasar karena likuiditas investor cenderung lebih longgar selama masa tersebut.

Kondisi ini sejalan dengan lesunya penjualan ORI029 yang ditawarkan pada periode 26 Januari—19 Februari 2026. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menduga salah satu faktor penyebabnya adalah masa penawaran yang jatuh menjelang hari raya. Oleh karena itu, DJPPR memilih masa penawaran SR024 yang lebih panjang hingga setelah Lebaran.

”Dari pengalaman itu, makanya diambil masa penawarannya sampai setelah Lebaran. Jadi, memperluas peluang untuk serapannya, harusnya akan lebih bagus,” kata Ramdhan kepada Bisnis, dikutip Minggu (1/3/2026).

Selain itu, peluang serapan SR024 juga datang dari aksi reinvestasi investor atas sukuk ritel yang jatuh tempo pada masa penawaran. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa terdapat SR018-T3 yang akan jatuh tempo pada 10 Maret 2026, dengan nilai yang beredar mencapai Rp16,94 triliun.

Ramdhan menilai, aksi reinvestasi biasanya akan menyerap hingga 50% dari total penawaran terhadap produk baru. Hal ini sejalan dengan realisasi penjualan SR022 yang diterbitkan pada awal 2025. Saat itu, terdapat satu SBN Ritel jatuh tempo, yaitu ST010-T2 dengan nilai mencapai Rp11,59 triliun. Dikombinasikan dengan imbal hasil yang kompetitif, DJPPR bahkan membukukan oversubscribed pada produk ini.

Pada saat itu, DJPPR membukukan penjualan sebesar 132,57% dari target. Dari Rp21 triliun target yang ditetapkan pemerintah, pasar cukup agresif menyerap produk ini hingga total penjualan mencapai Rp27,84 triliun. Bahkan, realisasi itu terjadi meskipun imbal hasil yang ditawarkan SR022 cenderung kecil dibandingkan kupon yang ditawarkan dua SBN Ritel lainnya yang terbit pada periode suku bunga 5,75%. Saat itu, SR022 menawarkan imbal hasil sebesar 6,45% dan 6,55%, jauh dibandingkan ORI027 sebagai SBN Ritel perdana 2026 yang menawarkan imbal hasil sebesar 6,65—6,75%.

Di sisi lain, Putri Nur Astiwi, Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, menilai peluang serapan pasar relatif positif pada penerbitan kali ini. Analisis tersebut didasarkan pada basis investor sukuk ritel yang dinilai royal dan permintaan struktural yang cukup besar terhadap produk ini.

”Sehingga produk ini tetap berpotensi terserap, walaupun mungkin tidak seagresif periode dengan kondisi likuiditas yang lebih longgar,” katanya kepada Bisnis, Minggu (1/3/2026).

Meski peluang terserap masih terbuka, Putri mencatat beberapa sentimen yang berpotensi mempengaruhi realisasi penjualan, seperti volatilitas pasar global, persepsi risiko investor terhadap kondisi fiskal domestik, serta semakin menariknya instrumen investasi lain, seperti emas.

Terhadap SR018-T3 yang akan jatuh tempo pada masa penawaran SR024, Putri menilai dampaknya tidak akan signifikan untuk mampu menyerap seluruh produk SR024.

”Hanya terdapat satu seri SR yang jatuh tempo selama masa penawaran, sehingga dorongan reinvestasi tidak sebesar periode dengan banyak maturitas. Hal ini dapat mengurangi potensi lonjakan permintaan, sehingga pencapaian target sangat bergantung pada daya tarik kupon dan momentum pasar saat penawaran berlangsung,” tegasnya.

Adapun untuk diketahui, SR024 akan ditawarkan pada periode 6 Maret—15 April 2026. Nantinya, imbal hasil secara resmi akan diumumkan oleh Kementerian Keuangan sebelum masa penawaran dimulai. SR biasanya akan menawarkan imbal hasil tetap hingga jatuh tempo.

Berikut Jadwal Tentatif Masa Penawaran Obligasi Ritel 2026:

  • ORI029 pada 26 Januari—19 Februari 2026
  • SR024 pada 6 Maret—15 April 2026
  • ST016 pada 8 Mei—3 Juni 2026
  • ORI030 pada 6 Juli—30 Juli 2026
  • SR025 pada 21 Agustus—16 September 2026
  • SWR007 pada 4 September—21 Oktober 2026
  • SBR015 pada 29 September—22 Oktober 2026
  • ST017 pada 6 November—2 Desember 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *