Klasifikasi Ilmiah Ikan Arwana
Sebelum menjawab pertanyaan apakah ikan arwana bisa dimakan, penting untuk memahami klasifikasi ilmiahnya. Dalam ilmu biologi, ikan arwana memiliki nama ilmiah Scleropages formosus. Secara fisik, ikan ini memiliki warna-warna cerah seperti merah, hijau, oranye, dan perak. Berat tubuhnya bisa mencapai 6,8 kg dengan panjang hingga 1 meter. Keunikan lain dari ikan arwana adalah umur yang cukup panjang, hingga 60 tahun.
Bisa Dimakan atau Tidak?

Dulu, ikan arwana sering ditangkap dan dimasak seperti ikan pada umumnya. Namun, sejak 1975, ikan ini semakin langka dan sulit ditemukan. Di beberapa negara, mengonsumsi atau menjual ikan arwana bahkan dianggap ilegal. Meskipun demikian, ada beberapa restoran di Indonesia yang menyediakan hidangan berbahan dasar ikan arwana. Contohnya adalah Limerr Resto & Resort di Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Mereka menyajikan ikan arwana dalam bentuk sambal cobek, digoreng, atau dipepes. Harga untuk satu ons hidangan tersebut mencapai Rp300 ribu, dan pesanan minimal harus dilakukan tiga hari sebelumnya.
Alasan Mengapa Jarang Dikonsumsi

Ada beberapa alasan mengapa ikan arwana jarang dikonsumsi. Pertama, dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa atau fengsui, ikan arwana melambangkan kemakmuran, kesehatan, dan kebahagiaan. Oleh karena itu, ikan ini lebih sering dipelihara daripada dimakan. Selain itu, ikan arwana termasuk ikan mahal dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Biaya pemeliharaannya juga tidak murah, mulai dari akuarium yang harus bersih hingga lampu yang harus tetap menyala. Karena itu, ikan arwana lebih cocok sebagai hobi daripada bahan masakan.
Selain itu, ikan arwana termasuk satwa langka yang dilindungi oleh undang-undang. Beberapa jenisnya bahkan tergolong satwa dilindungi, sehingga penggunaannya sebagai bahan makanan sangat dilarang.
Rasa dan Kandungan Nutrisi

Ikan arwana biasanya dimasak dengan cara dibakar atau digoreng. Konon, rasanya mirip dengan ikan senangin yang memiliki daging empuk dan padat. Aroma hidangan ini tidak amis, dan saat dimakan, dagingnya terasa meleleh di mulut. Sementara itu, kandungan nutrisinya sama dengan ikan jelawat atau patin, seperti protein, lemak, fosfor, kalium, natrium, folat, vitamin E dan D, serta zink. Namun, berbeda dengan kedua ikan tersebut, ikan arwana tidak mengandung albumin.
Regulasi dan Konservasi

Di Amerika Serikat, ikan arwana termasuk ilegal karena masuk dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Karena itu, impor, penjualan, bahkan kepemilikan ikan arwana dilarang. Pengecualian hanya berlaku untuk beberapa jenis tertentu seperti arwana perak, arwana hitam, Scleropages jardinii, dan Scleropages leichardti.
Di Indonesia, perdagangan dan perlindungan ikan arwana diatur melalui beberapa peraturan pemerintah. Berikut adalah aturan utama:
-
Peraturan Menteri Perdagangan
Arwana Irian termasuk ikan dengan ekspor yang dibatasi. Hanya perusahaan dengan lisensi khusus yang diperbolehkan melakukan ekspor. -
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Terdapat berbagai aturan terkait arwana, seperti pedoman budidaya, pedoman pemanfaatan, dokumen pengangkutan, aturan ekspor, dan standar nasional (SNI) untuk ikan arwana. Selain itu, ada pula ketentuan yang melarang pengeluaran ikan arwana dari wilayah Indonesia, termasuk telurnya, tanpa izin resmi. -
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Arwana Kalimantan dan arwana Irian dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi.
Jadi, jawaban dari pertanyaan apakah ikan arwana bisa dimakan adalah bisa saja. Namun, dengan beberapa pertimbangan, ikan arwana lebih banyak dipelihara dan dijadikan hobi bernilai tinggi. Tertarik untuk mencoba?











