"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

APHI bekerja sama dengan akademisi percepatan usaha kehutanan

Kolaborasi APHI dan Akademisi untuk Pengembangan Multiusaha Kehutanan di Lampung



Bandar Lampung – Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) mengambil langkah penting dalam memperkuat sektor kehutanan dengan bekerja sama dengan kalangan akademisi. Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah untuk mendorong percepatan pengembangan Multiusaha Kehutanan (MUK) di Provinsi Lampung. Dengan pendekatan yang terintegrasi, inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah kawasan hutan serta kontribusi sektor kehutanan terhadap perekonomian nasional.

Komitmen tersebut muncul dalam pertemuan antara Ketua Umum APHI Soewarso dengan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) Kuswanta Futas Hidayat di Bandar Lampung, pada Kamis (5/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, dibahas berbagai peluang kerja sama, termasuk riset bersama, penyusunan model pengelolaan berbasis kondisi tapak, hingga pengembangan demplot atau pilot project MUK di lanskap Lampung.

Soewarso menegaskan bahwa pengembangan MUK harus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan akademisi. Ia menyatakan bahwa model MUK skala industri dapat memberikan efek multiplier bagi perekonomian nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah kawasan hutan.

“Praktik multiusaha kehutanan di Lampung telah berjalan di sejumlah wilayah dengan objek kegiatan berada di kawasan hutan. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan model MUK yang lebih terintegrasi di tingkat lanskap,” ujar Soewarso.

Lampung memiliki sejumlah keunggulan yang mendukung percepatan pengembangan MUK. Sumber daya alam yang subur, topografi kawasan yang relatif datar, serta infrastruktur dan aksesibilitas yang cukup memadai menjadi faktor penunjang. Selain itu, sumber daya manusia di daerah ini telah memiliki pengalaman dalam pengelolaan komoditas kehutanan dan pertanian. Dukungan pemerintah daerah juga membuka ruang pengembangan usaha kehutanan yang lebih terstruktur.

Soewarso menjelaskan bahwa pengembangan MUK di Lampung akan difokuskan pada intensifikasi tata kelola usaha menuju pengelolaan hutan lestari. Hal ini dilakukan melalui peningkatan faktor produksi yang mencakup kuantitas, kualitas, dan kontinuitas. Selain itu, penguatan tata usaha serta rantai pasok dari hulu hingga pasar juga menjadi prioritas.

Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan pengembangan MUK. Sinergi para pihak diharapkan mampu mempercepat implementasi model usaha kehutanan yang produktif sekaligus berkelanjutan.

Pengembangan demplot atau pilot project juga dinilai penting sebagai basis riset serta pembelajaran bersama dalam merancang model pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Melalui demplot tersebut, para pihak dapat menyusun rencana pengembangan usaha kehutanan berbasis komoditas unggulan yang adaptif terhadap kondisi tapak di Lampung.

Dekan Fakultas Pertanian Unila Kuswanta Futas Hidayat menyambut baik upaya APHI dalam menggandeng perguruan tinggi dalam pengembangan multiusaha kehutanan di daerah. Menurutnya, Lampung memiliki sejumlah komoditas unggulan seperti kopi, cokelat, kemiri, dan pala yang potensinya sangat besar untuk dikembangkan.

“Kami mencatat sekitar 60 persen produksi HHBK Lampung berupa kopi berasal dari kawasan hutan, dan potensinya masih sangat besar untuk terus dikembangkan melalui pendekatan pengelolaan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila memiliki sejumlah bidang kajian yang relevan untuk mendukung pengembangan MUK. Kajian tersebut mencakup Social Forestry serta Science and Technology Forestry yang berfokus pada penguatan tata kelola kehutanan berbasis masyarakat dan pemanfaatan teknologi.

Kolaborasi antara APHI dan Fakultas Pertanian Unila diharapkan memperkuat integrasi antara riset akademik dan implementasi di lapangan. Sinergi ini juga diharapkan mendorong pengelolaan hutan yang produktif, inklusif, serta memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis secara berkelanjutan bagi masyarakat dan daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *