Penegakan Aturan Penggunaan LPG 3 Kg di Manado
Pemerintah telah menegaskan bahwa gas bersubsidi tidak boleh digunakan untuk berbagai jenis usaha, termasuk restoran, hotel, laundry, peternakan, hingga jasa las. Hal ini berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Migas Nomor B-2461/MG.05/DJM/2022 yang menjelaskan bahwa LPG 3 kg hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan tidak boleh digunakan untuk kegiatan usaha tertentu.
Pada saat sidak bersama Pertamina, pemerintah menemukan bahwa sejumlah usaha laundry skala besar masih menggunakan LPG 3 kg yang seharusnya diperuntukkan bagi rumah tangga. Temuan ini menjadi perhatian khusus, terlebih di tengah meningkatnya permintaan LPG 3 kg menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah yang membuat sebagian warga kesulitan mendapatkan “tabung melon” di pasaran.
LPG 3 kg merupakan gas bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin, sehingga penggunaannya diharapkan tepat sasaran. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan bahwa larangan tersebut harus diikuti oleh semua pihak agar subsidi energi benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan.
Berikut daftar usaha yang dilarang menggunakan LPG tabung 3 kg berdasarkan Surat Edaran Dirjen Migas No. B-2461/MG.05/DJM/2022:
* Restoran
* Hotel
* Usaha binatu (laundry)
* Usaha batik
* Usaha peternakan
* Usaha pertanian (di luar ketentuan Perpres No. 38 Tahun 2019 yang belum dikonversi)
* Usaha tani tembakau
* Usaha jasa las
Sidak oleh Pemkot Manado
Pemkot Manado merespons keluhan warga soal kelangkaan elpiji 3 Kg dengan melakukan sidak. Sidak digelar bareng Pertamina Manado di sejumlah agen serta beberapa tempat usaha di kota Manado, Jumat (13/3/2026). Hasilnya, sejumlah usaha laundry skala besar ditemukan masih menggunakan gas Elpiji 3 Kg.
Padahal, elpiji 3 Kg diperuntukkan untuk rumah tangga. Asisten II Sekretaris Daerah Kota Manado Bidang Perekonomian, Atto Bulo menyebut temuan tersebut akan ditelusuri pihaknya. “Ini akan kami telusuri lebih lanjut,” katanya. Ungkap dia, ada ketambahan kuota gas elpiji 3 Kg untuk Manado.
Namun ternyata masih banyak warga yang tidak berhak menggunakannya. “Ada ketambahan kuota gas elpiji di Kota Manado, namun setelah kita melakukan sidak di beberapa tempat ditemukan usaha laundry skala besar masih memakai tabung gas elpiji bersubsidi,” kata dia.
Ia menuturkan, kota Manado beroleh tambahan kuota elpiji 3 Kg pada Maret 2026 sebanyak 49.840 tabung. Namun sejumlah pangkalan mengeluhkan stok yang kosong dalam beberapa hari terakhir.
Kelangkaan Elpiji 3 Kg di Manado
Kelangkaan Elpiji 3 Kg masih terjadi di sejumlah wilayah di kota Manado, provinsi Sulut. Kabag Ekonomi Pemkot Manado David Pandey menyatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Pertamina untuk penambahan kuota harian khusus untuk kota Manado. “Kami telah berkoordinasi dan pada bulan untuk bulan Maret 2026 telah diusulkan untuk ditambahkan kembali pasokan sebesar 49.840 tabung,” kata dia kamis (12/3/2026).
Sebelumnya, pada Februari 2026 telah ditambahkan alokasi fakultatif sebesar 14.000 tabung dan Ungkap dia, total tambahan sebesar 63.840 tabung atau sekira 326 persen dari alokasi harian di Kota Manado.
Diketahui permintaan terhadap LPG 3 kg di Manado, Sulawesi Utara meningkat jelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Sebagian warga mengakui agak sulit mendapatkan “tabung melon” sepekan terakhir. “Gas sepertinya cepat habis saat ini. Kemarin cari-cari lumayan lama baru dapat. Bukan di pangkalan tapi di pengecer,” kata Mama Mei, warga Bahu lingkungan 3, Kecamatan Malalayang, Senin 9 Maret 2026.
Ia mengatakan, LPG 3 Kg dibeli Rp 25 ribu per tabung. “Di tempat lain di Sario malah Rp 28 ribu. Itu pun habis,” ujar ibu rumah tangga pemilik warung makan ini.
Permintaan Pengawasan yang Lebih Ketat
Terkait itu, pemilik pangkalan mengakui LPG dipasok seperti biasa setiap minggu. “Memang sejak awal Ramadan permintaan meningkat. Mungkin karena banyak yang jualan buka puasa, ada yang bikin kue kering,” kata pemilik pangkalan di Bahu.
Sementara itu, sebagian warga minta Pertamina dan pemerintah daerah meningkatkan pengawasan. Jangan sampai LPG 3 kg yang notabene merupakan barang subsidi dimanfaatkan pihak-pihak yang mengambil keuntungan di momen Ramadan. “Jangan sampai ada pangkalan yang melepas begitu saja stok LPG. Masyarakat lalu dipaksa beli di pengecer yang harganya sudah disusun lebih mahal,” kata Romeo, warga Bahu.











