"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Kemenperin: Dampak Kekacauan Timur Tengah pada Industri Plastik dan Kemasan



Dampak Konflik Timur Tengah pada Industri Petrokimia dan Kemasan

Konflik di kawasan Timur Tengah, terutama perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, telah memberikan dampak signifikan terhadap industri petrokimia. Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh sektor energi, tetapi juga menghantam berbagai industri turunan yang bergantung pada bahan baku berbasis petrokimia, seperti plastik dan kemasan.

Peran Industri Agro dalam Menghadapi Dampak

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menjelaskan bahwa meskipun dampak konflik tersebut terasa di berbagai sektor, dampaknya terhadap industri agro, khususnya makanan dan minuman (mamin), masih relatif terbatas. Namun, ia menyoroti dua kendala utama yang menghambat operasional industri mamin, yaitu masalah logistik dan kemasan.

“Yang paling banyak terkena dampak adalah kemasan. Kemasan biasanya berasal dari plastik berbasis minyak bumi. Jika ada masalah di sana, maka kami juga akan mengalaminya. Bahkan, jika ada kenaikan harga sedikit di sana, bisa jadi di sini naik tajam,” ujar Putu saat ditemui di Kantor Kemenperin.

Putu menjelaskan bahwa komponen kemasan dalam struktur biaya produksi industri mamin bervariasi tergantung jenis produk. Pada beberapa kategori, biaya kemasan memiliki porsi yang besar. Contohnya, pada industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), biaya kemasan bisa mencapai hingga 50% dari total biaya produksi.

Putu memastikan bahwa industri dalam negeri sudah mengamankan persediaan untuk memenuhi kebutuhan pasar selama periode akhir Ramadan hingga Idulfitri. Namun, ia menekankan pentingnya langkah mitigasi untuk mengamankan pasokan bahan baku plastik dan kemasan setelah musim Lebaran.

Kendala Bahan Baku dan Lonjakan Harga

Pelaku usaha membenarkan bahwa gejolak di Timur Tengah telah memengaruhi industri plastik dan kemasan. Direktur Eksekutif Indonesia Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, mengungkapkan bahwa ketidakpastian rantai pasok bahan baku menjadi salah satu tantangan utama. Sebanyak 50%-60% bahan baku plastik untuk kemasan masih harus diimpor.

“Kapasitas dalam negeri hanya dapat memenuhi maksimal 50% dari kebutuhan. Belum lagi jenis plastik yang bermacam-macam, tidak semuanya bisa dipenuhi dalam negeri. Kondisi industri kemasan plastik dan bisnis terkait saat ini sangat sulit,” kata Henky.

Bahan baku plastik untuk kemasan umumnya berasal dari Polypropylene (PP) dan Polyethylene (PE). Bahan ini sebagian besar dipasok dari Singapura, Thailand, China, India, Korea Selatan, serta Timur Tengah. Rantai pasok industri plastik terganggu karena beberapa produsen dari kawasan tersebut menyatakan keadaan kahar (force majeure).

“Dengan pernyataan force majeure, sulit untuk memprediksi stok yang tersedia. Stok bisa cukup untuk 2-3 bulan ke depan, atau bahkan lebih singkat,” ujar Henky.

Upaya Mitigasi dan Inovasi

Pelaku industri terus berupaya mengatasi gangguan rantai pasok dan lonjakan harga. Mereka bertahan dengan stok yang tersedia sambil mencari alternatif pasokan bahan baku dan inovasi produk. Kenaikan harga bahan baku plastik bisa mencapai 80%-100%, bahkan hingga dua kali lipat dibandingkan harga normal sebelum perang Timur Tengah.

“Biaya bahan baku mencapai 50%-70% dari total biaya kemasan. Naiknya harga ini akan memengaruhi harga jual atau margin keuntungan produsen kemasan,” terang Henky.

Untuk menghadapi situasi ini, para pelaku industri memperkuat kolaborasi dan inovasi sebagai strategi mitigasi. Produsen kemasan berkolaborasi dengan pemilik merek atau produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) untuk mencari alternatif material yang tidak terdampak langsung oleh pengurangan bahan baku.

“Misalnya, kemasan flexible yang sebelumnya menggunakan film polypropylene yang terdampak bisa diganti dengan film polyester. Atau bahkan mencoba menggunakan kemasan kertas jika memungkinkan,” tambah Henky.

Permintaan Pasar dan Prospek Industri

Sektor makanan dan minuman masih menjadi pengguna plastik kemasan terbesar, dengan porsi sekitar 60%-70%. Diikuti oleh produk personal care dan household care seperti sabun dan deterjen.

Industri dalam negeri tetap menjadi pelanggan utama, dengan pemasaran kemasan plastik di pasar domestik mencapai 85%-90%. Permintaan terhadap plastik dan kemasan meningkat saat musim Ramadan – Idulfitri. Namun, IPF mencatat pertumbuhan permintaan dalam 10 tahun terakhir tidak sebesar masa sebelumnya.

Menurut Henky, hal ini disebabkan perubahan tren dan gaya hidup konsumen. Meski demikian, IPF tetap optimis terhadap prospek industri kemasan di Indonesia, meskipun tidak secepat 10-15 tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *