Komitmen L’Oréal dalam Mendorong Kemajuan Perempuan di Indonesia
Selama lebih dari 47 tahun beroperasi di Indonesia, L’Oréal terus menegaskan komitmennya untuk mendukung kemajuan perempuan. Melalui berbagai program sosial korporat dan brand, perusahaan kecantikan global ini mengajak masyarakat untuk bekerja sama menciptakan lingkungan yang lebih aman, memberikan akses peluang yang setara, serta menghargai kontribusi perempuan di berbagai bidang.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui inisiatif seperti L’Oréal Paris Stand Up, YSL Beauty Abuse Is Not Love, dan program pelatihan keterampilan L’Oréal Beauty For A Better Life. Ketiga program ini telah mencapai ratusan ribu penerima manfaat di Indonesia dan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan L’Oréal dalam memperkuat peran perempuan di masyarakat.
Perempuan Indonesia Terus Maju, Namun Tantangan Masih Ada
Perempuan Indonesia kini semakin menunjukkan perannya di berbagai sektor, mulai dari jurnalistik, diplomasi, sains hingga industri kreatif. Meski demikian, perjalanan menuju kesetaraan gender masih menghadapi tantangan. Secara global, dunia diperkirakan masih membutuhkan sekitar 135 tahun untuk mencapai kesetaraan ekonomi penuh antara perempuan dan laki-laki.
Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia, menekankan bahwa merayakan perempuan bukan hanya momentum tahunan bagi perusahaan. “Bagi kami, merayakan perempuan bukan sesuatu yang musiman, tetapi bagian dari identitas perusahaan. Perempuan bukan hanya mayoritas konsumen kami, tetapi juga karyawan, inovator, dan talenta masa depan yang membentuk arah perusahaan setiap hari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kemajuan perempuan membutuhkan tiga fondasi utama, yaitu rasa aman, peluang nyata untuk berkembang, serta pengakuan atas kontribusi mereka.
Kekerasan Berbasis Gender Masih Jadi Ancaman

Rasa aman menjadi fondasi penting bagi perempuan untuk berkembang. Namun, kenyataannya kekerasan berbasis gender masih menjadi isu serius di Indonesia. Data Catatan Tahunan Komnas Perempuan (CATAHU) 2024 mencatat 445.502 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan sepanjang tahun tersebut, meningkat lebih dari 43.000 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagian besar kasus terjadi di ranah personal, sementara sisanya terjadi di ruang publik dan komunitas. Perkembangan dunia digital juga turut memperluas bentuk kekerasan berbasis gender yang kini semakin banyak terjadi di ruang online.
Untuk membantu mencegah kekerasan di ruang publik, L’Oréal Paris menghadirkan program Stand Up Melawan Kekerasan Seksual di Ruang Publik. Program ini memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai metode 5D, yaitu lima langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu korban secara aman: Dialihkan, Ditegur, Dilaporkan, Ditenangkan, dan Dokumentasikan.
Sementara itu, di ranah hubungan personal, YSL Beauty bekerja sama dengan Yayasan Pulih melalui program Abuse Is Not Love. Program global ini bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai tanda-tanda kekerasan dalam hubungan, seperti perilaku mengontrol, manipulasi, ancaman, hingga isolasi.
Psikolog Agata Paskarista menjelaskan bahwa salah satu bentuk kekerasan yang sering tidak disadari adalah kekerasan psikis. “Kekerasan psikis sering tidak terlihat karena tidak meninggalkan luka fisik. Padahal dampaknya bisa sangat serius dan berkepanjangan. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat dapat mengenali tanda-tanda kekerasan sejak dini,” jelasnya.
Membuka Akses dan Peluang bagi Perempuan

Selain rasa aman, perempuan juga membutuhkan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan peluang pengembangan karier. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia masih hanya mewakili sekitar 36,66 persen pekerja formal.
Menjawab tantangan tersebut, L’Oréal Indonesia menghadirkan berbagai inisiatif pemberdayaan. Salah satunya melalui program Beauty for a Better Life, yang memberikan pelatihan tata rambut dan tata rias bersertifikat secara gratis bagi perempuan dengan keterbatasan sosial ekonomi. Sejak 2014 hingga 2023, program ini telah membantu lebih dari 3.700 perempuan memperoleh keterampilan dan akses kerja.
Bagi perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda karier, L’Oréal juga menghadirkan Career Reconnect Program, sebuah program returnship yang membantu perempuan membangun kembali kepercayaan diri profesional dan terhubung kembali dengan dunia kerja.
Selain itu, melalui program Hairducation, L’Oréal bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk meningkatkan kualitas pendidikan SMK jurusan Tata Kecantikan Rambut. Program ini telah melatih puluhan guru dari berbagai SMK dan menyiapkan ribuan lulusan untuk memasuki industri kecantikan rambut di Indonesia.
Pengakuan atas Kontribusi Perempuan

Bagi L’Oréal, pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada membuka peluang saja. Pengakuan atas kontribusi perempuan juga menjadi faktor penting dalam memperkuat rasa percaya diri dan mendorong mereka mengambil peran kepemimpinan.
Melanie menutup dengan menegaskan bahwa ketika perempuan diberikan ruang untuk berkembang dan kontribusinya dihargai, dampaknya akan melampaui kehidupan pribadi mereka. “Ketika kesempatan benar-benar dibuka dan kontribusi perempuan diakui, mereka tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga menciptakan dampak yang lebih luas bagi keluarga, komunitas, dan masa depan Indonesia,” tutupnya.











