.CO.ID – JAKARTA
Di tengah ketidakpastian ekonomi yang semakin mengancam, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap optimis akan ada anggota baru di kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 pada tahun ini. Tahun lalu, OJK menargetkan adanya enam bank yang naik kelas dari KBMI 3 ke KBMI 4 dalam dua tahun. Meski situasi global terus memberikan tekanan pada industri perbankan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan bahwa target tersebut tidak berubah.
Dian menjelaskan, hingga saat ini pihaknya telah memantau beberapa bank di KBMI 3 yang siap untuk naik kelas pada tahun ini. Menurutnya, kenaikan kelas tersebut membuat bank lebih stabil dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih kuat di tengah situasi yang tidak pasti.
“Kami perkirakan tahun ini ada dua atau tiga bank yang masuk ke KBMI 4,” ujar Dian saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Fokus utama OJK adalah bank-bank dengan modal inti yang mendekati Rp 70 triliun, sesuai batas minimum KBMI 4. Berdasarkan riset, hingga akhir tahun lalu, KBMI 3 dihuni oleh 13 bank dengan modal inti berkisar antara Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun. Lima bank dengan modal inti tertinggi adalah:
- Panin Bank sebesar Rp 53,55 triliun
- CIMB Niaga sebesar Rp 52,63 triliun
- Bank Danamon sebesar Rp 50,17 triliun
- Bank Syariah Indonesia (BSI) sebesar Rp 48,11 triliun
- Bank BTPN sebesar Rp 44,03 triliun
Meskipun menjadi salah satu calon terkuat, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki target khusus untuk naik kelas ke KBMI 4. Ia hanya menekankan komitmen untuk terus memperluas layanan kepada nasabah di Indonesia.
Sementara itu, BSI yang baru saja resmi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) awal tahun ini juga memiliki ambisi untuk naik kelas. Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyebut bahwa kenaikan kelas menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi dan daya saing di industri perbankan. Namun, ia menyadari bahwa proses ini tidak mudah dan butuh waktu. Oleh karena itu, BSI lebih fokus pada agenda jangka panjang, termasuk penguatan permodalan dan kinerja secara bertahap.
Selain BSI, Himbara penghuni KBMI 3 lainnya adalah Bank Tabungan Negara (BTN). Per Desember 2025, modal inti BTN mencapai Rp 35,29 triliun. Meski begitu, bank dengan fokus bisnis di sektor properti ini belum menargetkan kenaikan kelas dalam waktu dekat. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyatakan bahwa pihaknya lebih fokus menjaga return on equity (ROE) bank demi menambah nilai bagi investor.
“Jika modal terlalu besar tapi return turun, investor juga tidak suka,” ujarnya.
Struktur bisnis BTN yang fokus pada pembiayaan perumahan membuat kebutuhan modal relatif lebih efisien dibandingkan bank lain. Nixon menjelaskan bahwa aset tertimbang menurut risiko (ATMR) untuk kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi hanya sekitar 20%. Dengan kebutuhan ATMR yang rendah, BTN tidak memerlukan modal besar untuk mendorong pertumbuhan aset dan kredit.
Permata Bank yang memiliki modal inti sebesar Rp 43,28 triliun per akhir tahun lalu juga tidak terburu-buru menargetkan kenaikan kelas. Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah BNLI Rudy Basyir Ahmad menyatakan bahwa pihaknya lebih fokus pada pertumbuhan bisnis yang sehat agar modal bisa tumbuh secara alami.
“Kami tahu naik dari KBMI 3 ke KBMI 4 menunjukkan bank lebih kuat secara alami. Kami akan terus menerapkan pertumbuhan yang sustainable,” ujar Rudy.
Dengan memastikan pertumbuhan berkelanjutan, Permata Bank berharap pada waktunya dapat mencapai ambang batas modal inti KBMI 4 sebesar Rp 70 triliun.











