"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Bisnis  

Omset Rp10 Juta Menghilang, Pedagang Pasar Segiri Samarinda Minta Bantuan Lapak Sementara

Kebakaran Hebat di Pasar Segiri, Samarinda

Kebakaran hebat yang terjadi di Pasar Segiri, Samarinda, menghanguskan puluhan ruko dan ratusan kios serta berdampak pada puluhan pedagang. Pemerintah Kota Samarinda segera bergerak cepat untuk membersihkan lokasi dan menyiapkan pembangunan lapak semi permanen agar para pedagang dapat segera kembali berjualan.

Wali Kota Andi Harun menegaskan bahwa percepatan pemulihan sangat penting untuk menjaga ekonomi dan distribusi pangan tetap stabil. Dengan kebakaran yang terjadi sekitar pukul 04.15 Wita, dampaknya sangat luas. Sedikitnya 20 unit ruko dan sekitar 140 los sayur terbakar dalam satu kluster seluas 15 x 80 meter. Sebanyak 56 pedagang teridentifikasi terdampak.

Puing-puing sisa kebakaran masih berserakan di deretan ruko Pasar Segiri, Samarinda, Kamis (26/3/2026). Dinding beton menghitam, atap runtuh, dan bau hangus masih menyengat menjadi saksi bisu amukan api yang meluluhlantakkan puluhan kios dini hari tadi. Di tengah reruntuhan itu, para pedagang berusaha tegar.

Arjuna, salah satu pemilik ruko yang telah menggantungkan nasibnya di pasar tersebut sejak 1993, mengisahkan detik-detik kebakaran. Api muncul tiba-tiba dari bagian tengah pasar dan dengan cepat membesar. “Kejadiannya itu api dari tengah. Tapi apakah gara-gara ada api atau korsleting listrik, tidak tahu. Yang jelas awalnya dari tengah,” ujarnya.

Bagi Arjuna, kehilangan ini bukan sekadar bangunan. Usaha penjualan udang dan es batu yang ia jalankan selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp10 juta. Kini, semuanya lenyap. “Ya mungkin kerugian seratusan juta. Ruko habis, bangunan habis, alat-alat juga kena semua,” katanya lirih.

Meski terpukul, Arjuna tak kehilangan harapan. Ia sempat menyampaikan langsung permintaan kepada Wali Kota Samarinda, Andi Harun, yang meninjau lokasi siang harinya. Ia hanya meminta satu hal sederhana: atap sementara. “Tadi saya minta supaya bisa digantikan atap saja dulu. Yang penting ada atap, supaya tidak kena hujan sama panas,” ucapnya.

Bagi Arjuna dan pedagang lainnya, yang terpenting saat ini bukanlah bangunan megah, melainkan kesempatan untuk kembali berdagang secepat mungkin. Pasar Segiri, baginya, adalah rumah kedua. “Kami tetap mau di sini. Mau permanen atau sementara tidak masalah, yang penting bisa jualan dulu,” tegasnya.

Untuk bertahan, Arjuna kini mengandalkan tabungan yang ia sisihkan selama bertahun-tahun. Namun ia sadar, tanpa pemasukan, cadangan itu tak akan bertahan lama. “Untung ada tabungan sedikit. Tapi kalau usaha tidak jalan, tetap susah,” pungkasnya.

Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda bergerak cepat melakukan pendataan sebagai dasar penataan ulang. Kepala Disdag Samarinda, Nurrahmani, menyebut hasil sementara mencatat 25 unit ruko dan 142 kios di los tengah terdampak. “Karena ada beberapa yang berkelompok jadi satu, jadi kita sudah posisikan jumlahnya. Itu nanti kita sandingkan dengan PUPR,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengelompokan tersebut penting untuk mempermudah perencanaan teknis pembangunan, termasuk pengaturan sekat lapak. Pemerintah pun menargetkan pembangunan lapak semi permanen dapat rampung dalam waktu singkat. “Kita harapkan sebulan selesai karena ini dikeroyok lintas instansi, termasuk BPBD,” katanya.

Menariknya, mayoritas pedagang tidak terlalu mendesak relokasi. Mereka lebih memilih percepatan pembangunan agar bisa segera kembali berjualan di lokasi semula. “Relokasi tidak menjadi esensial. Mereka hanya ingin cepat dibangunkan,” tambahnya.

Pembangunan Kembali

Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan komitmennya untuk segera membangun kembali fasilitas yang terbakar. “Dalam waktu dekat kita akan segera melakukan pembangunan kembali. Saya sudah perintahkan asisten dua bersama Disdag (Dinas Perdagangan), kemudian nanti PUPR (Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang) untuk kita bicarakan sudah sampai pada teknis ya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, langkah pertama yang akan dilakukan adalah pembersihan lokasi terlebih dahulu, yang ditargetkan rampung dalam satu hingga tiga hari ke depan. Bersamaan dengan itu, kata dia, Dinas PUPR bersama Disdag akan mulai merancang desain bangunan pengganti.

Dorongan untuk bergerak cepat bukan tanpa alasan. Andi Harun mengaku sempat berbicara langsung dengan pedagang yang mengaku mengalami kerugian material cukup besar akibat kebakaran ini, dengan nilai kerugian bervariasi antara Rp200 juta hingga Rp300 juta. “Kita akan segera menindaklanjutinya dengan membangun, karena kasihan juga pedagang. Kalau sampai berlarut-larut, mereka kan sudah pasti menderita kerugian materil terutama,” katanya.

Andi Harun pun menargetkan proses pembersihan lokasi bisa rampung sebelum akhir pekan ini. Ia optimistis jika rapat koordinasi dilakukan hari ini, pembersihan sudah bisa berjalan besok atau paling lambat akhir pekan. “Kita berharap pembersihannya tidak lewat dari minggu ini. Katakanlah kalau hari ini rapat, mungkin besok Jumat, minggu bisa. Paling tidak tiga hari maksimal sudah bisa bersih,” ujarnya.

Terkait jenis bangunan yang akan didirikan, Andi Harun memastikan bahwa konstruksi yang dibangun bukan bersifat permanen. Menurutnya, ada pertimbangan jangka panjang di balik keputusan itu. Pemerintah Kota Samarinda sejatinya, kata dia, telah merencanakan pembangunan ulang Pasar Segiri secara menyeluruh, namun rencana itu terpaksa digeser akibat kebijakan efisiensi anggaran. “Sebenarnya tahun ini rencananya, tapi karena ada efisiensi, maka rencana itu kita tunda ke tahun depan,” ungkapnya.

Jika bangunan pengganti dibuat permanen, Andi Harun khawatir justru akan memakan waktu lama dan nantinya harus dibongkar kembali saat revitalisasi pasar dilakukan. Oleh karena itu, pemerintah kota memilih membangun secepat mungkin agar pedagang bisa segera kembali beraktivitas. “Nanti saya minta juga ke Pak Asisten Dua untuk selain mendesain jenis bangunan, mungkin juga untuk melibatkan katakanlah kalau kita swakelola tidak hanya satu dua tukang, supaya bisa cepat selesainya,” pungkas Andi Harun.

Bersih dari Puing

Upaya percepatan pemulihan pasca kebakaran Pasar Segiri pada Kamis (26/3) lalu terus digenjot Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Tak hanya fokus pada pembersihan lokasi, langkah strategis juga diarahkan untuk menjaga stabilitas distribusi pangan dan menekan potensi inflasi akibat terganggunya aktivitas pasar induk tersebut.

Pada Jumat (27/3) pagi, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Samarinda, Marnabas, turun langsung memantau proses pembersihan di lokasi terdampak. Ia menegaskan bahwa percepatan penanganan menjadi prioritas utama sesuai instruksi Wali Kota Samarinda. “Jadi sesuai dengan instruksi Pak Wali bahwa ini minimal 1-2 hari harus sudah bersih,” ujarnya.

Menurutnya, proses pembersihan dilakukan beriringan dengan pembahasan teknis dan penyediaan anggaran agar tahapan pembangunan kembali tidak mengalami hambatan. “Secara paralel, saat ini akan rapat untuk penyediaan anggaran,” katanya.

Lebih jauh, ia menyoroti posisi strategis Pasar Segiri sebagai pusat distribusi pangan yang beroperasi selama 24 jam dan menjadi pemasok utama bagi Samarinda bahkan sebagian wilayah Kalimantan Timur. Kondisi ini membuat percepatan pemulihan menjadi krusial. “80 persen juga ini kan dari luar daerah ini. Kita khawatir nanti kalau ini lambat prosesnya akan terjadi inflasi,” jelasnya.

Untuk itu, Marnabas menegaskan bahwa seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait telah dikerahkan untuk bekerja secara terpadu dalam menangani dampak kebakaran. “Maka Pak Wali perintahkan kita untuk segera berkolaborasi. Hari ini kita turunkan Disdag, DLH, BPBD, PUPR, kemudian Damkar juga. Jadi semua sinergi untuk diselesaikan. Kita target mudah-mudahan hari ini sudah kelar. sehingga PUPR bisa merencanakan untuk pembangunan segera,” tegasnya.

Dalam tahap rekonstruksi, pemerintah memastikan bangunan yang akan didirikan bersifat semi permanen guna mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi para pedagang. “Ini aman karena pembangunannya kan tidak permanen, semi saja. Di bawahnya semi. Atap ada, kemudian nanti ada sekatnya, mereka berjualan. Dan ini grosir semua sini,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa kawasan tersebut merupakan pusat grosir bahan pangan utama di Samarinda, mulai dari sayur mayur hingga komoditas penting lainnya. “Milik pemkot lahannya. Jadi kita aman untuk melakukan pembangunannya,” jelasnya.

Sementara itu, untuk menjamin keberlangsungan usaha pedagang, Dinas Perdagangan tengah menyiapkan lokasi alternatif sementara. Marnabas menambahkan, penggunaan bahan konstruksi baja ringan akan digunakan namun tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kecepatan pembangunan. “Baja ringan kalau dengan konstruksi biasa tentu juga memperhatikan keamanan kan. Saya kira semua kalau sinergi seperti ini, lancar ini,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga akan melakukan pendataan ulang terhadap para pedagang guna memastikan ketertiban dan akurasi data di lapangan. “Dan tugas Disdag tentu akan mendata nanti secara baik data-data pendagang. Sehingga tidak terjadi nanti bias di lapangan. Walaupun existingnya sudah ada. Cuma kan kita cek lagi,” katanya.

Tak hanya itu, penataan ulang kawasan pasar juga akan disertai penegasan aturan penggunaan ruang, khususnya larangan aktivitas tinggal dan memasak di area pasar demi menghindari potensi risiko di masa mendatang. Berdasarkan data sementara, terdapat 56 pedagang terdampak, dengan total sekitar 140 kios serta 25 unit ruko di kawasan tersebut.

Pemerintah juga tengah mengkaji kelayakan bangunan ruko yang ada. “Ini juga hasil rapat kemarin kita perintahkan PUPR untuk meneliti secara teknis. Pelayakan bangunan lantai ruko ini. Kalau memang tidak layak, mau tak mau harus dirobohkan. Karena itu akan mengganggu keamanan,” ujarnya.

Saat ini, fokus utama Pemkot Samarinda adalah memastikan sarana perdagangan dapat segera difungsikan kembali agar roda ekonomi masyarakat tetap berputar. “Kami masih fokus dulu ke pembangunan sarana. Saya kira ini juga mereka sangat senang sudah. Yang penting mereka berjualan, cepat berjualan, bisa masukkan uang, dan distribusi pangan di Samarinda bisa lancar,” pungkas Marnabas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *