"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Tiongkok Kirim 10.000 Robot Manusia ke Eropa dan ASEAN, Gantikan Tenaga Kerja Pabrik?

JAKARTA — Perusahaan robotika asal Tiongkok, AGIBOT, telah mengirimkan 10.000 unit robot humanoid ke pasar Eropa dan Asia Tenggara. Peningkatan penjualan ini terjadi karena efisiensi yang meningkat di sektor manufaktur.

Pencapaian ini menjadikan AGIBOT sebagai salah satu perusahaan pertama di dunia yang berhasil melakukan komersialisasi robot humanoid dalam skala besar. Manajemen AGIBOT menyatakan bahwa keberhasilan ini menandai transisi penting dari tahap validasi awal menuju penyebaran robot di dunia nyata. Saat ini, perusahaan fokus pada pemenuhan permintaan pasar komersial yang terus meningkat di berbagai belahan dunia.

Chief Technology Officer AGIBOT, Peng Zhihui, mengatakan bahwa pencapaian 10.000 unit merupakan refleksi dari perubahan mendasar dalam kemampuan skala perusahaan. Hal ini didorong oleh kematangan rantai pasok dan standarisasi proses manufaktur.

“Penyebaran luas robot AGIBOT bukan lagi tentang mencari kelayakan teknis, tetapi tentang memberikan nilai yang terukur dan mendorong adopsi embodied AI,” kata Peng Zhihui dalam pernyataan resminya.

Pertumbuhan produksi perusahaan tercatat mengalami akselerasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. AGIBOT membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk mencapai 1.000 unit pertama, kemudian satu tahun berikutnya untuk menyentuh angka 5.000 unit. Lonjakan paling tajam terjadi hanya dalam waktu tiga bulan terakhir, di mana perusahaan berhasil melipatgandakan pengiriman dari 5.000 menjadi 10.000 unit. Efisiensi manufaktur dan produksi perangkat keras yang kompleks menjadi kunci utama percepatan tersebut.

Berdasarkan data Omdia, AGIBOT menempati posisi pertama sebagai pengirim robot humanoid terbanyak pada 2025. Laporan IDC juga menempatkan perusahaan di urutan teratas untuk volume pengiriman di sektor hiburan, riset, pendidikan, hingga manufaktur.

Saat ini, sebagian besar robot AGIBOT telah beroperasi di lingkungan nyata seperti logistik, ritel, perhotelan, dan pendidikan. Robot-robot tersebut juga mulai diintegrasikan ke dalam alur kerja industri untuk mendukung operasional lini produksi.

Ekspansi AGIBOT kini telah menjangkau pasar internasional, mulai dari Eropa, Amerika Utara, hingga Asia Tenggara dan Timur Tengah. Di kawasan regional, perusahaan baru saja menandatangani perjanjian operator pertama dengan Singtel Enterprise di Singapura.

Selain itu, perusahaan telah meluncurkan portofolio robot lengkap melalui kemitraan dengan Minth Group di Jerman pada bulan lalu. Upaya ini dilakukan guna memperkuat kehadiran teknologi robotika China di pasar otomotif dan industri Eropa.

Meski demikian, AGIBOT menghadapi tantangan regulasi di Amerika Serikat terkait usulan kebijakan American Security Robotics Act. Undang-undang tersebut berpotensi melarang pembelian robot buatan China oleh lembaga federal karena pertimbangan risiko keamanan siber.

Menanggapi tantangan global, AGIBOT terus memperkuat ekosistem perangkat lunaknya melalui peluncuran platform simulasi Genie Sim 3.0 pada Januari 2026. Inovasi ini bahkan berhasil meraih penghargaan “Best of CES” dalam ajang teknologi internasional tersebut.

Didirikan pada tahun 2023, AGIBOT mengusung konsep integrasi “1 Robotic Body + 3 Intelligence” yang menggabungkan kemampuan interaksi dan manipulasi. Model bisnis ini bertujuan untuk menciptakan produk tujuan umum yang dapat beradaptasi di berbagai ekosistem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *