Dampak Kenaikan Harga Cup Plastik terhadap UMKM Minuman di Sukoharjo
Kenaikan harga bahan baku plastik yang mencapai 80 persen dari pabrik turut dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor minuman. Salah satu contohnya adalah pengusaha minuman es teh di Kabupaten Sukoharjo yang mengeluhkan lonjakan harga cup plastik yang sangat signifikan.
Pemilik usaha Teh Jumbo Ginastel, Kinardi Andrianto (43), mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku tersebut terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan dinilai cukup memberatkan pelaku usaha. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga ini tergolong gila-gilaan, dengan kenaikan hingga 80 persen dari pabrik. Namun, karena memiliki ribuan mitra, ia tidak bisa langsung menaikkan harga bahan yang dibeli oleh mitra.
Kinardi menjelaskan bahwa pihaknya masih memilih untuk menahan harga bahan baku yang dijual kepada mitra usaha sambil melihat perkembangan situasi ke depan. Menurutnya, fenomena kenaikan harga ini masih tergolong baru, sehingga perlu dicermati apakah bersifat sementara atau berkelanjutan.
“Kami lihat dulu fenomenanya, karena ini baru terjadi. Jadi untuk sementara mitra yang mengambil bahan dari kami belum kami naikkan,” ujarnya.
Meski demikian, Kinardi mengakui banyak mitra usaha yang mulai mengeluhkan kenaikan harga bahan baku di pasaran, seperti plastik dan gula, yang berdampak pada biaya produksi. Banyak mitra yang ingin harga jual es teh dinaikkan, namun ia meminta mereka untuk bersabar sambil melihat kondisi yang belum menentu.
Berharap Kembali Stabil
Kinardi berharap kondisi harga bahan baku dapat kembali stabil. Ia juga meminta para mitra untuk bersabar di tengah situasi yang belum menentu ini. Ia menegaskan bahwa bahan dari pihaknya seperti cup, teh, dan varian lain masih belum ada kenaikan. Namun, jika membeli plastik atau gula di luar, pasti ada kenaikan.
Ia menambahkan bahwa jika kondisi memaksa, kenaikan harga jual produk di tingkat konsumen masih dalam batas wajar, yakni sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per cup. “Kami saat ini menjual es teh Rp3.500, sebelumnya Rp3.000. Tapi itu tidak merata di semua daerah. Di wilayah seperti Jakarta, Sumatera, Kalimantan, atau Papua mungkin kenaikannya lebih signifikan,” jelasnya.
Kinardi juga menyebutkan bahwa pasokan cup plastik yang digunakan usahanya berasal dari salah satu produsen di Kabupaten Sukoharjo yang mengalami kenaikan harga hingga 80 persen dari tingkat pabrik. Meskipun begitu, ia tetap berupaya menjaga stabilitas harga bagi mitra usahanya.
Namun, ia menilai jika para mitra akhirnya menaikkan harga jual produk, hal tersebut masih dapat dimaklumi. “Kalau mitra ingin menaikkan harga Rp500 sampai Rp1.000, menurut saya itu masih wajar, melihat kondisi sekarang,” pungkasnya.











