"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Survei: Anak di Bawah 16 Tahun Bocorkan Data Sensitif untuk Hadiah

Pentingnya Melindungi Privasi Anak di Dunia Digital

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, privasi anak di dunia digital kini menjadi isu yang semakin mendapat perhatian. Badan pengawas data Inggris, Information Commissioner’s Office (ICO), menyoroti pentingnya menganggap privasi anak sama pentingnya dengan melindungi mereka dari ancaman di dunia nyata.

Survei yang dilakukan oleh ICO terhadap 1.000 orang tua di Inggris yang memiliki anak berusia 4 hingga 11 tahun menunjukkan adanya kekhawatiran besar terkait keamanan data anak. Dalam survei tersebut, sekitar 35% orang tua percaya bahwa anak-anak bersedia membagikan informasi pribadi hanya untuk mendapatkan hadiah atau item dalam permainan. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak belum sepenuhnya memahami risiko dari tindakan mereka di internet.

Selain itu, survei juga menemukan bahwa 22% anak pernah membagikan informasi sensitif seperti data kesehatan ke alat berbasis AI. Sementara itu, 24% anak pernah membagikan nama asli atau alamat mereka secara online. Anak usia 8 hingga 9 tahun disebut sebagai kelompok yang paling rentan terhadap risiko ini.

ICO menjelaskan bahwa privasi online tidak hanya terbatas pada nama atau alamat. Data pribadi anak juga mencakup riwayat pencarian, foto dan rekaman suara, aktivitas di media sosial dan game, serta kebiasaan sehari-hari, bahkan hingga pola tidur. Semua data ini bisa membentuk jejak digital yang tersimpan lama dan berpotensi disalahgunakan.

Satu klik saja bisa membuka banyak informasi tentang anak, mulai dari minat hingga kondisi emosional. Jika tidak dilindungi, data ini bisa dimanfaatkan oleh pihak yang berniat buruk. Risikonya tidak main-main, seperti kontak dari orang asing, pelecehan, hingga potensi radikalisasi.

Sayangnya, banyak orang tua merasa belum cukup siap dalam melindungi privasi anak. Sebanyak 46% mengaku tidak percaya diri melindungi privasi anak, 44% merasa sudah berusaha tetapi belum yakin cukup, dan 42% jarang memeriksa pengaturan privasi anak. Ironisnya, topik privasi justru jarang dibahas. Sebanyak 21% orang tua belum pernah membicarakannya dengan anak, dan 38% hanya membahasnya kurang dari sebulan sekali.

Padahal, sebagian besar orang tua rutin membahas waktu penggunaan layar. ICO menekankan bahwa privasi online harus diajarkan sejak dini. Hal ini dianggap sebagai keterampilan hidup penting, sama seperti mengajarkan anak menyeberang jalan dengan aman.

Wakil Komisaris ICO, Emily Keaney, menyatakan bahwa banyak keluarga belum terbiasa membicarakan isu ini, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih luas dari masyarakat. “Internet menawarkan peluang luar biasa bagi anak, tetapi setiap klik dapat meninggalkan jejak data tersembunyi dan jejak digital ini dapat bertahan selamanya,” ujarnya.

Sementara itu, Komisaris Anak untuk Inggris, Rachel de Souza, menegaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya ada pada orang tua, tetapi juga pada perusahaan teknologi. Mereka harus memastikan layanan digital dirancang dengan mengutamakan keselamatan dan privasi anak sejak awal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *